Lebaran Haji, Pak Menteri, dan Doktrinasi

Tulisan ini sebenarnya sudah lama, tepatnya dari 27 November 2009,  tapi saya upload lagi karena sebentar lagi Hari Raya Kurban.

Tidak ada yang istimewa dengan hari ini. Rutinitas berjalan seperti biasa. Bangun pagi, sarapan pisang, bersih-bersih, jalan kaki ke kampus, lalu duduk di ruang belajar untuk membaca dan meringkas bersiap untuk menghadapi ujian. Hari ini sungguh normal, walau hati kecil sangat menyadari betapa istimewanya hari ini jika diri berada di tanah air. Gema takbir akan menguasai langit semalam, langkah-langkah kaki menuju masjid akan menjadi pemandangan pagi ini, dan kemesraan bersama keluarga dan tetangga akan menjadi nuansa indah hari ini. Hari ini adalah 10 Dzulhijjah 1430H, selamat Hari Raya Idul Adha untuk sahabat dan saudaraku semua 🙂

Di tengah kenormalan kegiatan dan keistimewaan makna hari, terdapat rasa ingin tahu yang lebih tinggi dari biasanya. Bagaimana aktivitas orang-orang di tanah air hari ini? Pejabat-pejabat dan artis-artis hari ini solat di mana? Siapa tau ada foto sapi-sapi kurban sumbangan pejabat atau selebriti? Biasalah, gelitik rasa ingin tahu rakyat biasa. Akhir cerita, gatal jemari pun berujung pada beberapa situs media ternama tanah air. Lantas diri ini pun mengetahui, oh, ternyata Pak SBY menyumbang sapi seberat 1.35 ton, oh ternyata salah satu sapi dari pejabat tinggi Polri berpenyakit, tak kalah, organisasi artis Parfi pun menyiapkan 4 sapi dan 8 kambing untuk dikurbankan hari ini. Semua berita tersebut menarik bibir dan meniupkan rasa senang di hati. Sampai terbaca satu berita tentang isi ceramah seorang menteri di Lapangan Kantor Gubernur Sumbar (judul artikel: Menkominfo: Bencana Berhubungan dengan Kerusakan Moral). Nah, artikel yang satu ini, mengganggu hati.

Inti dari ceramah Pak Menteri adalah bahwa banyaknya bencana di Indonesia berhubungan dengan degradasi moral yang merupakan bukti bahwa manusia sudah ingkar akan perintah Allah SWT. Selain itu, manusia sekarang hanya takut kepada manusia lainnya, ketimbang kepada Sang Pencipta. Pak menteri lantas mengungkap fakta soal kemaksiatan yang kian menjadi-jadi di Indonesia, seperti status Indonesia sebagai negara terkorup rangking satu se-Asia, dan peringkat tiga se-dunia, lalu fakta bahwa warga negara Indonesia sendiri sudah memproduksi sebanyak 500 jenis VCD porno. Pak Menteri juga menyinggung soal mafia peradilan. Lalu Pak Menteri menutup ceramahnya dengan doa yang indah, yaitu memohon agar negeri kita dijauhkan dari bencana dan dijadikan negeri yang damai dan tenteram (amiiiiiiin).

Kalau saya baca komen masyarakat terkait artikel ini, ada yang pro dan kontra. Ada yang salut sama Pak Menteri karena peduli dengan isu moral dan berani mengungkapkan fenomena ini. Ada pula yang setuju bahwa banyaknya bencana di tanah air merupakan bentuk azab dari Allah SWT . Namun ada pula yang kontra, seperti komentar ini: “justru pak TS inilah yang merupakan fitnah terbesar dengan memfitnah Tuhan sebagai sosok yang kejam, bukankah orang baik di Indonesia ini masih banyak….. Tolonglah Pak TS, sebagai menteri ungkapkanlah hal yang ilmiah..”

Itu hanyalah contoh dari pendapat orang-orang. Kalau yang terjadi pada saya, jujur, saya berharap banyak dengan Pak Menteri. Saya tak menyangka seseorang sekaliber menteri akan menyebarkan doktrinasi yang kurang akan unsur substansi. Membaca artikel ini mengingatkan saya akan doktrinasi-doktrinasi ketika SD dulu, seperti: berdosa jika membalas salam dari umat beragama lain, haram hukumnya untuk bernyanyi bagi perempuan (karena suara bagian dari aurat), sebaik apapun perbuatan seseorang kalau dia bukan muslim, akan tetap langsung masuk neraka, dan lain lain. Setelah beranjak dewasa, sungguh saya merasa doktrinasi ini berbahaya, dan bisa-bisa, menjadi salah satu bentuk penyesatan. Karena setelah saya coba telaah sendiri, nilai-nilai tersebut menyimpang dari ajaran Tuhan sesungguhnya yang tertuang dalam kitab suci (kalau sempat baca Al-baqarah ayat 62). Dokstrinasi-doktrinasi seperti ini membiarkan kita menganggap opini sebagai konklusi, menjadikan interpretasi layaknya ajaran suci yang tidak pantas diperdebatkan melainkan dipercayai, dan akhirnya membuat banyak orang berhenti mencari jawaban yang benar-benar hakiki.

Jika Pak Menteri berkata azab ini merupakan salah satu akibat degradasi moral, apakah itu berarti orang-orang yang hidup di Aceh, Nias, Padang, Tasikmalaya, cenderung lebih maksiat dibanding yang tinggal di Kalimantan atau daerah-daerah lainnya? Bagaimana jika ada yang menarik kesimpulan seperti ini setelah mendengar ceramah Pak Menteri? Bagaimana jika misalnya, ada masyarakat Padang yang merasa daerahnya lebih bermoral di banding masyarakat di Bali atau Jakarta (yang secara umum lebih memiliki tempat-tempat hiburan malam yang menjual minuman beralkohol), lantas merasa Tuhan tidak adil karena memilih untuk menggempakan Padang? Jika memang degradasi moral berhubungan dengan azab, mengapa Las Vegas aman-aman saja dair bencana alam, mengapa tanah Eropa cenderung jarang bencana walaupun salah satu moral di sana menilai perzinahan dan melepas lelah dengan pesta alkohol adalah hal yang biasa?

Entah kenapa, artikel ini benar-benar mengusik pikiran sehingga tak mampu hati menahan jemari untuk menulis essay ini. Saya melihat dan merasakan sendiri betapa doktrin dapat membangun dinding semu di kepala manusia yang kekuatannya justru dapat melampaui dinding beton yang nyata. Jika saya dan Anda dihalangi oleh dinding beton, kita masih bisa berdiskusi lewat telepon atau internet. Tapi jika saya dan Anda dihalangi oleh dinding semu “doktrinasi”, kita tidak akan pernah bisa berdiskusi walaupun kita bertatap muka, yang akan terjadi hanyalah perdebatan dimana kesepakatan merupakan hayalan semata.

Sahabat dan saudaraku, ini sekedar opini. Ini bukan konklusi, apalagi teori. Saya juga masih terus mencari. Tapi setidaknya, dengan menulis ini, saya menjadi berpikir kembali. Mencoba mengkritisi diri sendiri agar dapat memisahkan hal-hal yang memang “pantas” diyakini, dari doktrinasi-doktrinasi yang konon “harus” diyakini. Saya yakin dengan ke-Maha-Esa-an dan ke-Maha-Bijaksanaan-an Tuhan, oleh karena itu, saya tidak meyakini Tuhan akan secara acak memberi azab kepada makhluk yang tidak disukai. Sejauh ini, saya masih meyakini bahwa bahasa Tuhan adalah bahasa hukum alam (sunnatullah) yang sampai saat ini masih terus dan akan terus kita pelajari melalui ilmu pengetahuan. Bagaimana dengan, Anda?

Demikianlah cerita dari dewi tentang lebaran haji, Pak Menteri, dan doktrinasi. Wassalammualaikum dan salam optimis selalu untuk kemaslahatan kita semua. amiiin 🙂

(DM)

Advertisements
Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: