Gema Suara Angklung dari Daratan Kontinental

Semuanya tahu bahwa angklung adalah alat musik tradisional yang terbuat dari jenis bambu yang hanya ditemukan di Indonesia. Namun tidak banyak orang yang tahu bahwa angklung ternyata juga populer di kalangan negara-negara Eropa. Hal ini dikarenakan upaya Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 Bandung (KPA 3)

KPA 3 adalah kelompok musik angklung yang anggotanya merupakan siswa-siswi SMAN 3 Bandung. Kelompok ini telah melakukan banyak terobosan di dunia perangklungan, salah satunya adalah acara Expand the Sound of Angklung (ESA). ESA adalah suatu acara dimana KPA 3 mengikuti berbagai festival musik di Eropa. Sejak dimulai pada tahun 2002, telah diselenggarakan 4 ESA. Berikut adalah penghargaan yang telah KPA 3 peroleh serta festival musik internasional yang telah mereka ikuti:

  • ESA 2002, kunjungan kultural ke beberapa negara Eropa (16 Juli-9 Agustus 2002) dimana mereka mengikuti acara internasional seperti:
  • ESA 2004
    • 29th International Folklfestival in Gannat, France.
    • 19th International Folklfestival in Moerbeke-Waas, Belgium.
    • ESA 2002  juga mengadakan dua konser, di Heidelberg serta Kiel, Jerman.
    • Aberdeen International Youth Festival (AIYF) di Aberdeen, Skotlandia. 36th International Festival of Mountain Folklore di Zakopane, Polandia. KPA 3 menjadi partisipan pertama yang berasal dari Indonesia dimana mereka juga menerima 3 penghargaan:
      1. 2004 – 1st place in musician category of 36th International Festival of Mountain Folklore, Zakopane, Republic of Poland
      2. 2004 – 2nd place in singer category of 36th International Festival of Mountain Folklore, Zakopane, Republic of Poland
      3.  2004 – Audience prize of 36th International Festival of Mountain Folklore, Zakopane, Republic of Poland
    • 50. Mezinárodni Folklorni Festival, ?erven? Kostelec, Czech Republic. Di Festival ini KPA 3 meraih hadiah pertama 50. Mezinárodni Folklorni Festival, ?erven? Kostelec, Czech Republic. ESA 2004 juga mengadakan empat konser di Bremen & Muenchen (Jerman), Paris (Prancis), serta Brussels (Belgia).
  • ESA 2008 kunjungan kultural ke beberapa negara Eropa (15 Juli-9 Agustus 2008) dimana mereka mengikuti acara internasional seperti:
    • 2008 International of Petras, Greece § 2008 Norbanus Festival di Norma, Itali.
    • 2008 Festival of Rassegna di Castigleone del Lago, Itali.
    • 2008 International Society of Music Education International Conference di Bologna, Itali.
  • ESA 2010 kunjungan kultural ke beberapa negara Eropa (29 Juni-29 Juli 2010) dimana mereka mengikuti 4 festival:
    • International Festival Folkart Maribor (29 Juni-3 Juli 2010 )
    • Summa Cum Laude International Youth Music Festival Vienna ( 3-5 Juli 2010). KPA 3 mendapatkan penghargaan khusus dan diberi kesempatan untuk bermain pada gala.
    • International Folk Festival (Festival Internacional de Folklore) of Ciudad Real (13-20 Juli 2010)
    • International Folk Festival (Festival Folklorico Internacional) of Extremadura, Badajoz (21-29 Juli 2010)

Good News from Indonesia mewawancarai dua anggota KPA 3, Nabila Putri Kencana dan Vica Asrianti mengenai pengalaman mereka di luar. Nabila yang saat itu baru saja lulus dan kemudian melanjutkan studinya di UNPAD mengikuti tim EPA 3 ke Eropa pada tahun 2008. Sedangkan Vica berangkat bersama tim ke Eropa Pada tahun 2010.

Kapan KPA didirikan?

V: KPA didirikan tanggal 4 Oktober 1980

Apa yang memulai acara ESA?

V: Di tahun 2002, ada beberapa siswa yang ingin melebarluaskan KPA dan angklung. Mereka ingin angklung agar terkenal tidak hanya di Indonesia saja tapi juga di negara-negara lain. Beberapa Alumni kami memiliki ide untuk keluar negeri dan tidak lama sejak itu mereka kebetulan menerima undangan dari acara-acara kebudayaan. Festival pertama yang diikuti KPA adalah 29th International Folk Festival di Gannat, Prancis.

That’s Awesome! Sudah berapa kali ESA diselenggarakan? (pada tahun 2010)

N: Empat, ESA 2002, 2004, 2008, yang terakhir di tahun 2010.

Apakah selalu diselenggarakan di Eropa?

N: Iya. Karena kami selalu kesana saat liburan sekolah yang juga merupakan musim panas di Eropa. Ada banyak festival kebudayaan yang diselenggarakan saat musim panas, tidak seperti di Amerika. Makanya kami lebih focus pergi kesana.

Oh Begitu. Biasanya ada berapa anggota per tim?

N: Ada 35 siswa dan didampingi satu guru.

Banyak sekali! Berapa dari mereka yang memainkan angklung? Selain memainkan angklung ada lagikah kegiatan mereka?

V: Semuanya. Selain main angklung, kami juga menari tarian tradisional seperti saman, jaipong, jali jali, serta tarian bali saat manggung.

Maksudnya seluruh siswanya bisa menari? Mereka tidak hanya main angklung?

N: Di tahun 2008, hanya ada beberapa siswa yang dapat menari.

V: Tapi di tahun 2010, semuanya bisa menari. Sebagian besar dari kami bahkan harus mempelajari lebih dari satu tarian tradisional. Jika sedang tidak main angklung, kami menari.

Bagaimana dengan kostumnya?

V: Kami membawa kostum angklung, kostum tradisional, serta kostum tarian.

Biasanya ada berapa penyanyi di satu tim?

N: Hanya satu orang yang menyanyi. Tapi dalam beberapa lagu seperti Rayuan Pulau Kelapa, semuanya ikut bernyanyi.

V: Iya benar, saya bahkan mengangis ketika menyanyikan lagu itu.

N: Saya juga.

Apa yang membuat kalian menangis?

V: Kami bangga saja dapat mendengar lagu Indonesia di negara asing. Dan untuk melihat bendera Indonesia disebelah bendera negara-negara lain dengan gagahnya adalah saat yang menyentuh hati.

Saya setuju sekali. Bagaimana dengan penontonnya? Apakah mereka menyukai pertunjukan kalian?

N: Anehnya iya. Beberapa dari mereka sampai mengikuti kita di setiap pertunjukan karena begitu sukanya.

V: Iya, hal yang sama juga terjadi dengan kami. Ketika kami di Badajoz, ada seorang fotografer tua yang sangat menyukai kami. Setelah pertunjukannya selesai, dia memberi kami sebuah CD berisi foto-foto kami. Dia juga mencetak beberapa kemudian ditandatangani.

Wow, luar biasa sekali!

V: Benar. Respons mereka sangat hebat, bahkan lebih baik dibanding ketika kami bermain di Indonesia. Orang luar sungguh takjub melihat angklung.

N: Iya… mereka sangat penasaran bagaimana alat music yang bentuknya aneh sepeerti angklung dapat menghasilkan suara yang begitu indah.

Saat kalian bermain di Indonesia, responsnya tidak begitu bagus?

V: Harus saya akui saat di Indonesia orang-orang memang senang menonton kami tetapi tidak berminat mempreservasi budayanya.

Oh begitu. Kembali lagi ke ESA, apa lagi yang kalian lakukan selain bermain di panggung? N: Kami juga menjual beberapa suvenir dari Indonesia.

Oh ya? Suvenir seperti apa?

N: Angkling, pin angklung, CD midi angklung, blangkon, miniature kecapi, wayang golek, seprai batik.

V: Baju dan selendang batik.

Keren. Apa mereka Suka?

V: Iya. Banyak yang membeli selendang batik kami. Menyenangkan sekali menjualnya di negara asing karena kami jadi bisa belajar bahasa mereka.

N: Agak sulit saat kami di Itali. Banyak orang Itali yang tidak bisa bahasa Inggris, jadi saya menggunakan bahasa tubuh untuk memberitahu mereka harganya. Sebenarnya agak lucu tapi saya jadi mendapatkan skill baru setelahnya. Skill untuk menjual sesuatu.

[Akhir wawancara]

Diantara lagu-lagu yang mereka mainkan adalah:

  • Ludwig van Beethoven Symphony No. 5 in C Minor, Op. 67,
  • Mov. I Allegro con brio Clément Philibert Léo Delibes Pizzicati dari ballet “Sylvia”,
  • Act III Johann Strauss, Jr. Wiener Blut Walzer, Op. 354 Johann Strauss, Sr. Radetzky March, Op. 228
  • Jacques Offenbach Orpheus in the Underworld Overture: Infernal Gallop
  • John Towner Williams Williams’s Suite of Score – from John Williams Music Scores
  • Andrew Lloyd Webber Memory dari musical “Cats”
  • Giuseppe Fortunino Francesco Verdi Libiamo ne’ lieti calici (The Drinking Song) dari opera “La Traviata
  • Eros Djarot Suite dari Badai Pasti Berlalu
  • Guruh Soekarno Putra Melati Suci
  • Halo-Halo Bandung
  • Medley Persada Indonesia
    Lalayaran – Hariring Haleuang Tembang
  • Es Lilin Jali – Jali
  • Janger
  • Tapanuli’s Splendor

KPA 3 telah menunjukkan bahwa alat music tradisional serta lagu rakyat Indonesia sungguh luar biasa.

Thank you Ms. Nabila Putri Kencana and Ms. Vica Asrianti for the time!

 

Tulisan diatas merupakan terjemahan dari artikel serta wawancara yang ditulis oleh Farah Fitriani untuk GNFI (6 Oktober 2010).

Artikel aslinya dapat dilihat disini

Advertisements
Categories: Berita Baik | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: