Month: October 2012

Nilai-nilai kebijaksaan itu sudah ada sejak dulu kala, tapi mengapa manusia masih banyak saja yang lebih hormat dengan uang daripada dengan alam?
Advertisements

Indonesia Luncurkan Gerakan Nasional 1000 Hari Pertama Kehidupan

Depok, salamduajari.com— Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia pada tahun 2010 menemukan bahwa 17,9% status malnutrisi terjadi pada anak usia dibawah 5 tahun, namun sekitar 14% dari anak pada kelompok usia ini justru mengalami kegemukan (obesitas).   Sementara pada tingkat umur yang lebih tinggi (6-12 tahun), tingkat malnutrisi dan obesitas yang terjadi sedikit lebih rendah, yaitu 11,2% dan 9,2%. Tersirat bahwa tingkat kerentanan malnutrisi lebih tinggi untuk kelompok usia yang lebih dini. Oleh karena itu, salamduajari menyambut baik telah dilakukannya suatu inisiatif perbaikan gizi anak-anak usia dini yang disimbolkan dengan peluncuran Gerakan Nasional 1000 Hari Pertama Kehidupan (sampai dengan anak usia sekitar 3 tahun).

Apa itu Gerakan Nasional 1000 Hari Pertama Kehidupan? Berikut adalah informasi lebih lengkapnya.

sumber: disini dan disini

Bagaimana agar negara kaya membayar biaya perubahan iklim

Tidak dibahasnya masalah perubahan iklim dalam debat presidensial antara Barack Obama dan Mitt Romney adalah pertanda jatuhnya topik tersebut sebagai salah satu prioritas kebijakan AS sejak terjadinya krisis finansial. Ini merupakan celah menyedihkan yang harus diperhatikan oleh presiden AS selanjutnya.

Meskipun ternyata dari segi global masih ada harapan. Minggu lalu dewan Green Climate Fund, sebuah lembaga internasional penting namun tidak begitu tenar, telah menetapkan pendanaan di Korea Selatan. Ini adalah langkah yang baik berhubung Korea Selatan telah menjadi sosok pemimpin dalam mempromosikan gerakan “green growth”, yaitu pertumbuhan ekonomi yang digabung dengan pengurangan emisi gas rumah kaca.

Green Climate Fund yang disetujui oleh ke-191 negara yang menandatangani UNFCC adalah aparat utama dalam memberdayakan negara-negara berkembang untuk menanamkan investasi dalam sumber energy terbaharukan, serta penyesuaian perubahan iklim (membuat perekonomian lebih tahan akan perubahan iklim yang telah atau sedang terjadi). Green Climate Fund telah diberikan tugas yang berat: agar mengumpulkan dana sebesar $100 milyar per tahun untuk negara berpendapatan rendah sebelum tahun 2020.

Negara kaya harus membiayai negara miskin untuk tiga alasan. Continue reading “Bagaimana agar negara kaya membayar biaya perubahan iklim”

Aku ingin Pantai ini Senantiasa Perawan

Sepanjang dengan bertambahnya usia, tentunya semakin banyak forum-forum diskusi yang telah saya lalui, baik yang formal maupun tidak normal.  Salah satunya adalah mengenai status manusia sebagai bagian dari golongan binatang. Saya termasuk yang tidak setuju, sementara ada beberapa teman yang ngotot bahwa “human is animal!”. Well, dalam klasifikasi makhluk hidup di ilmu biologi memang manusia termasuk dalam golongan animalia, tapi manusia adalah hewan yang berpikir. Nah, menurut saya, karakteristik manusia yang bisa berpikir kompleks itulah yang membuat kita, dalam tatanan kehidupan yang lebih luas, tidak bisa disamakan dengan hewan. Namun demikian, ketika saya ke Karimun Jawa dan berdiskusi dengan seorang teman berkebangsaan Italia yang tergolong cukup apatis terhadap manusia (padahal dirinya sendiri manusia), pikiran saya sedikit bergeser. Dia mengatakan, “the most evil animal is human. Non-human animal do stupid things because they are stupid. Human do stupid things because they know they can get a lot of profit by doing that stupid thing, and let others enjoy the negative consequences”. Pada saat itu kami sedang mengamati keindahan Pantai Tanjung Gelam Karimun Jawa yang sayangnya, kaya akan sampah. Ulah kucing kah tumpukan sampah itu? Ulah anjing? Ulah nyamuk? Kekecewaan dalam diri saya waktu itu membuat perkataan tersebut bertahan cukup lama di benak saya. Ya, mungkin benar, manusia adalah anggota kelompok hewan yang paling jahat. Karena kita tahu membuang sampah sembarangan itu tidak baik, tapi kita tetap melakukannya.

Tapi tetap, saya tidak ingin jiwa saya dipenuhi oleh rasa apatis. Saya yakin jiwa manusia membutuhkan rasa kecewa, namun hanya sampai dosis tertentu saja. Kalau terlalu banyak, rasa kecewa itu bisa bertransformasi menjadi sikap apatis. Jika sudah apatis, maka cenderungnya manusia malas untuk beraksi memperbaiki kondisi, karena mereka berpikir, “ah, beraksi pun hasilnya akan sama saja, ga akan ada yang berubah”. Apatis dapat berujung pada pembiaran, dan sikap itu menurut Einstein, adalah sikap yang membuat dunia menjadi tempat yang mengkhawatirkan. Ya, saya kecewa dengan pilihan sikap kebanyakan manusia. Dan ya, saya khawatir akan semakin banyak pulau-pulau indah di Indonesia yang begitu indah dan bersih, harus menjadi kotor karena didatangi oleh manusia. Salah satunya yang saya khawatirkan adalah nasib Pantai Selong Belanak ke depan. Pantai ini sungguh indah, sungguh bersih, karena tergolong masih perawan.

Menurut Backpacker Indonesia, Tempatnya sekitar 20 km dari Bandara Internasional Lombok (BIL). Tak ada transportasi menuju ke pantai ini kecuali tukang ojek. Dari BIL, dapat dicari tukang ojek atau agen travel yang bisa mengantarkan ke sana. Untuk tukang ojek harganya sekitar Rp 20,000. Di sekitar pantai pun ada perkampungan warga, jadi untuk pulang tidak terlalu sulit pula menemukan ojek untuk mengantar. Kota terdekat adalah Kota Praya, Lombok Tengah. Kita disarankan untuk menyewa sepeda motor seharian, hanya Rp 75,000, supaya bisa lebih bebas. Sarana transportasi menuju ke sana memang belum mendukung, karena memang pantai ini tergolong belum terjamah. Restoran dan hotel juga belum ada yang dibangun di seputaran pantai. Jadi kalau mau menginap, bisa di rumah warga dengan harga yang bergantung dengan kepandaian negosiasi kita masing-masing. Konon di pantai tersebut juga merupakan tempat yang asik untuk memancing.

Begitulah sekilas info mengenai Pantai Selong Belanak. Mudah-mudahan jika pantai ini semakin banyak diketahui manusia, manusia-manusia yang menghampiri nanti pun adalah jenis manusia yang tahu sopan santun, yang tahu akan kesucian kehormatan pantai perawan tersebut sehingga tidak rela mengotorinya. Saya ingin, saya berharap, pantai ini, maupun pantai-pantai indah Indonesia yang belum terjamah lainnya, senantiasa perawan, seperti bunda maria yang selalu terjaga kesuciannya tanpa ia perlu menutup diri dari bertemu dan berdialog dengan banyak orang. Mudah-mudahan.

 

Pantai Selong Belanak, Lombok – Indonesia. Status: belum terjamah oleh banyak manusia
Pantai Tanjung Gelam, Karimun Jawa – Indonesia. Status: sudah terjamah oleh semakin banyak manusia

Selamat Beristirahat Russell Means, Tokoh Pejuang Suku Asli Amerika

Foto diambil oleh Robert L. Jones ©2000
Jones mewawancarai Russell Means untuk websitenya.

Menurut laporan salah seorang perwakilan dari Oglala Lakota Sioux, Russell Means, aktivis suku asli Amerika, meninggal pada hari Senin akibat kanker tenggorokan.

Means telah memimpin pemberontakan yang berlangsung selama 71 hari di tanah suci Wounded Knee, South Dakota pada tahun 1973.

“Means telah mengabdikan hidupnya untuk memberantas rasisme, sebagai hasilnya beliau telah meninggalkan warisan sebagai ketua suku Indian yang paling revolusioner selama akhir abad ke-20,” tertulis demikian dalam situsnya. “Russell Means, seorang visioner yang patut dikagumi, hingga kini masih dianggap sebagai salah satu suara paling menggugah diseluruh AS. Baik ketika beliau memimpin sebuah demo, memperjuangkan hak-hak konstitusional, membintangi film, atau ketika tengah menyelenggarakan music rap-ajo, pesan yang dikirim selalu konsisten dengan pandangan hidup beliau.”

Website Russell Means dapat dikunjungi disini.

Mungkin bersedih itu perlu: Selamat Jalan Ogie

Beberapa hari lalu seorang mahasiswa memberi tahu saya soal kisah seorang mahasiswa UI jurusan arsitektur angkatan 2011 dalam melawan kankernya, yang bernama panggilan Ogie. “Ibu tolong bantu sebarkan info ini ya, Bu”, imbuhnya melalu twitter sembari juga ia menyertakan link ke sebuah blog yang secara lengkap menjelaskan kisah perjuangan Ogie. Saya kenal cukup dekat dengan mahasiswa itu, sehingga saya sempatkan membaca link yang ia kirimkan. Disitulah awal cerita saya mengetahui sosok bernama Ogie, yang sejak SMU harus berjuang melawan kanker tulang ganas. Satu serangan selesai, muncul serangan baru. Seperti tiada hentinya. Saya saja yang hanya membaca kisahnya melalui blog itu merasa lelah. Ya Tuhan, mengapa tak kunjung Kau ringankan beban untuknya, bisik saya di dalam hati.

Tapi syukurnya, walau merasa sedikit sesak, saya berhasil menyelesaikan kisah perjuangan Ogie pada link blog tersebut. Ada dua hal yang membuat saya salut dari kisah perjuangan Ogie:
1. Semangat hidup dan sikap positif Ogie dalam menghadapi penyakit ganasnya, sungguh luar biasa
2. Rasa kesetiakawanan sahabatnya yang begitu indah. Sampai-sampai mereka melakukan aksi untuk mengumpulkan dana untuk pengobatan Ogie dengan menuliskan runutan kisah perjuangannya dengan cukup komprehensif.

Kisah perjuangan Ogie dan sahabatnya membuat saya teringat kembali dengan kisah dalam lagu Blackbird (karangan Paul McCartney) yang menginspirasi saya, yaitu kisah tentang burung-burung hitam bersayap patah yang tiada henti rindukan terbang. Orang-orang yang konon katanya rasional atau berpikiran waras kemungkinan besar melihat harapan itu tidak masuk akal. “Sudah tahu kondisi sayap patah, masih saja berangan-angan untuk bisa terbang?? Mimpi kali yeeee?”, mungkin itu kebanyakan respon yang akan didapat. Begitu pula dengan kisah Ogie, kemungkinan besar orang-orang “logis” tidak akan berpikir untuk ikut ujian masuk UI ditengah kondisi kesehatan yang masih rentan; atau mungkin sudah akan patah harapan sejak dokter di Cina menyebutkan potensi keberhasilan teknik pengobatan yang ia tawarkan untuk Ogie hanya 50:50, sehingga berpikir bahwa hal yang paling logis untuk dilakukan adalah menyiapkan mental untuk menghadapi kematian saja.

Namun tidak demikian ceritanya pada Ogie. Seperti blackbird yang selalu belajar terbang, ditengah ketidaktahuannya tentang apakah suatu saat dia akan benar-benar bisa terbang, Ogie bersama keluarga dan sahabatnya terus berjuang ditengah ketidaktahuan mereka akan peluang didapatkannya kesembuhan. Seperti blackbird yang harus mengakhiri masa hidupnya dalam kondisi masih belajar dan memperjuangkan dirinya untuk bisa terbang, Ogie juga harus pergi dalam kondisi masih berjuang melawan kanker yang ganas. Seperti blackbird pula, Ogie berjuang sampai nafas terakhir bukan untuk mendapatkan kesembuhan, melainkan semata-mata karena Ia ingin berjuang. Kalau pun harus kalah, tentu ia akan kalah dengan puas. Ya, puas, karena ia tahu ia telah kerahkan segalanya, karena ia tahu bahwa perasaan menang tidak perlu selalu berasal dari kemenangan, tapi dapat juga berasal dari keberanian untuk terus berjuang sekuat tenaga walau tahu akan berhadapan dengan kekalahan.

Blackbird singing in the dead of night, take this broken wings and learn to fly.. All your life. You were only waiting for this moment to arise. Blackbird fly, blackbird fly, into the light of a dark black night. Sulitnya mendapatkan kesembuhan mungkin sesulit menemukan secercah cahaya ditengah gelap malam yang hitam. Namun Ogie tetap saja berjuang. Seperti blackbird, kisah Ogie adalah adalah kisah setulus-tulusnya perjuangan, yaitu suatu proses perjuangan yang fokus untuk melakukan yang terbaik, bukan untuk mendapatkan yang terbaik. Sungguh langka, sungguh hebat. Blackbird fly, blackbird fly, into the light of a dark black night.

Continue reading “Mungkin bersedih itu perlu: Selamat Jalan Ogie”