Month: September 2012

Klasifikasi Gender ala Suku Bugis: 4+1

Waria, wanita bertubuh pria. Istilah gender pertengahan ini akrab dengan konotasi negatif di kalangan masyarakat Indonesia. Ia laki-laki, namun berpenampilan dan bertingkahlaku layaknya wanita. Ambiguitas gender yang melekat pada waria membuatnya sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Siapa sangka, di Suku Bugis, kalangan sejenis waria yang biasa disebut Bissu justru dianggap sebagai golongan gender yang paling mulia dan sangat dihormati.

Waria pada umumnya memang tidak bisa serta merta disamakan dengan dengan Bissu. Karena Bissu  adalah kaum pendeta yang tidak mempunyai golongan gender dalam kepercayaan tradisional Tolotang yang dianut oleh komunitas Amparita Sidrap dalam masyarakat Bugis dari Sulawesi SelatanIndonesia. Golongan Bissu umumnya disebut “di luar batasan gender”, suatu “makhluk yang bukan laki-laki atau perempuan”, atau sebagai “memiliki peran ritual“, dimana mereka “menjadi perantara antara manusia dan dewa“. Tidak ada penjelasan valid untuk apakah arti “di luar batasan jender” dan bagaimana sebutan tersebut dimulai. Yang pasti, Suku Bugis memiliki pandangan yang berbeda tentang klasifikasi gender, jika dibandingkan dengan klasifikasi gender yang berlaku pada masyarakat umumnya.

Suku Bugis mengenal empat (atau lima jika Bissu juga dihitung) golongan gender yang terdiri atas  Oroane (laki-laki); Makunrai (perempuan); Calalai (perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki); Calabai (laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan); dan golongan Bissu, di mana masyarakat kepercayaan tradisional menganggap seorang Bissu sebagai kombinasi dari semua jenis kelamin tersebut. Klasifikasi seperti inilah yang membuat klasifikasi gender menurut Suku Bugis berjumlah 4+1, karena tidak dapat pula disebut berjumlah 5. Menurut Sharyn Graham, seorang peneliti di University of Western Australia di PerthAustralia, seorang Bissu tidak dapat dianggap sebagai banci atau waria, karena mereka tidak memakai pakaian dari golongan gender apa pun, melainkan memakai setelan tertentu yang khusus untuk golongan mereka.

Continue reading “Klasifikasi Gender ala Suku Bugis: 4+1”

Balada ke Karimun Jawa: Let’s Get Lost! – Part-3

Jepara, salamduajari.com (26/08) – Hari sudah berganti dari Sabtu menjadi Minggu. Perasaan di pagi ini cukup bercampur baur karena Karimun Jawa sudah di depan mata. Akankah Karimun Jawa begitu luar biasa sehingga berhasil mengobati lelah perjuangan menuju kesana? Akankah Karimun Jawa mengecewakan? Semua pertanyaan-pertanyaan yang bersuara di kepala tersebut harus rela dibiarkan tidak terjawab, agar spirit jalan-jalannya tetap di ranah petualangan. Kalau tidak ingin merasakan sensasi berpetualang, ya sudah barang tentu kami semua memilih ikut paket tour yang disediakan banyak pihak. Jadi, kami semua setuju untuk tetap menjaga pertanyaan, membiarkan rasa ingin tahu dan penasaran tersebut terjawab dengan sendirinya ketika kami telah sampai di sana; juga membiarkan agar hampir tidak ada ekspektasi yang tertanam di kepala karena kami semua tidak tahu ingin berekspektasi seperti apa. Kami hanya tahu, kata orang Karimun Jawa bagus. Sebagus apa? Ada apa saja di sana? Tidak terlalu banyak riset sebelum ke sana, justru berangkat ke sana untuk cari tahu sendiri. Sementara teman-teman bule sendiri ingin ke Karimun Jawa karena belum banyak turis ke sana, tidak seperti Bali katanya. Mereka  ingin ke pantai yang dapat dinikmati “sendiri” karena tidak banyak orang berjemur atau berenang di sana. Secara khusus, satu orang dari mereka mengatakan bahwa Ia ingin melihat lobster dari dasar laut secara langsung, itu impian dia dari umur 7 tahun katanya. Akankah impiannya jadi nyata di Karimun Jawa? Will see.

Anyway, sarapan sudah dinikmati, tiket juga sudah di tangan, kami hanya tinggal menunggu di sekitar pelabuhan. Perlu kami beritahukan bahwa kondisi toilet di pelabuhan Kartini tergolong “begitulah”, jadi jika ingin menjaga kenyamanan diri sendiri di situasi yang belum tentu nyaman, jangan lupa bawa tisu ke mana-mana. Kapal dijadualkan berangkat sekitar pukul 11.30, tapi di pagi ini kami menjadi kelompok yang taat pada nasihat agen penjual tiket kemarin yang mengingatkan kami untuk sudah ada di sekitar pelabuhan pada sekitar jam 10.00. Kami pun menunggu dengan ceria sampai akhirnya tiba masa kami untuk memasuki Kapal. Bismillaah, semoga perjalanan lancar! Kira-kira seperti inilah kondisi Kapal Ekspres Bahari 9 yang kami gunakan saat itu.

Gambaran situasi ketika antri memasuki kapal, kondisi di dalam kapal, dan kondisi di bagian di atas kapal yang terbuka..

Secara umum kondisi Kapal Ekspres Bahari cukup nyaman, karena sudah ada pembagian kursi pada tiket, jadi tidak ada rebut-rebutan. Namun sayangnya aroma solar masuk ke dalam kapal, sehingga sepanjang jalan saya harus menutup hidung dan akhirnya tidak tahan sehingga memutuskan ke bagian atas kapal yang terbuka, sehingga kita bisa menikmati debur angin dan panorama laut luas. Seru juga, khususnya ditambah dengan rasa agak mual dari goyangan kapal yang terasa lebih kuat ketika kita berada di atas kapal tersebut. Sinar terang matahari, debur angin, pemandangan biru samudera luas, dan goyangan kapal yang antara meninabobokan dan memabukkan, haha, sempurna! Dua jam perjalanan menjadi tidak terlalu terasa dan voala, kami tiba di pelabuhan Karimun Jawa! Yeaah… haha, saya tidak menyangka hanya dengan sampai saja sudah membuat perasaan begitu senang.

Yeaaaahh.. Selamat datang di Karimun Jawa! Akhirnyaaaa… jernih air sudah terlihat jelas dari dermaga.. 😀

Continue reading “Balada ke Karimun Jawa: Let’s Get Lost! – Part-3”

Balada ke Karimun Jawa: Let’s Get Lost! – Part-2

Jepara, salamduajari.com (25/08) – Alhamdulillaah, akhirnya kami sampai juga di Jepara! Begini, waktu di Semarang, ada yang bilang perjalanan ke Jepara dari Semarang itu sekitar 1.5 – 2 jam; tapi ada juga yang bilang 3 jam bahkan 5 jam. Karena kami sudah mengalami sendiri, kalau kondisi jalan lancar dan kecepatan rata-rata sekitar 60km/jam, maka lama tempuh dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang ke Pelabuhan Kartini Jepara adalah sekitar 1.5 jam. Kami berangkat sekitar jam 11.20, dan kami tiba di tujuan hampir jam 13.00.

Pada saat itu kami semua mulai merasa lapar, tapi supaya tenang, diputuskan memastikan informasi soal kapal terlebih dulu. Kami pun bertanya ke Dishub setempat dan juga berbincang dengan masyarakat nelayan sekitar. Berikut informasi yang kami dapatkan:

1) Kata orang Dishub kapal sudah berangkat hari ini, baru ada lagi besok jam 11.30, yaitu Kapal Ekspress Bahari 9 (punya swasta, bukan di bawah kelolaan Dishub seperti Feri KM Muria dan Kapal Ekspress KMC Kartini); jadi tidak bisa beli tiket melalui Dishub, melainkan langsung ke kantor Kapal Ekspres Bahari.

2) Karena tetap mau usaha berangkat ke Karimun Jawa hari ini juga, kami tetap mencari kapal nelayan. Beberapa tukang becak yang lagi main gaplek bilang, “susah mas, mba, mending naik ekspres aja besok. Soalnya nelayan itu skarang pada takut. Kalau ketahuan bawa penumpang di pelabuhan sana (karimun jawa) bisa ditangkep petugas. Udah, tunggu besok ajaaa”.

3) Tapi karena masih penasaran tetap kami mencari nelayan langsung. Ketemu! Tapi muahalnya pol! Mereka minta 7 juta rupiah, yang artinya kalau dibagi 10 orang @700ribu.

Continue reading “Balada ke Karimun Jawa: Let’s Get Lost! – Part-2”