Uganda Dapat Mengutip Ajaran Indonesia

Foto oleh Smiley N. Pool, Houston Chronicle

Di awal tahun 2012, United Nations Population Fund mengumumkan bahwa angka kematian ibu di Uganda telah turun dari 435 angkat kematian dari setiap 100,000 kelahiran menjadi 310 dari tiap 100,000 kelahiran. Hal ini menunjukkan kemajuan yang telah dicapai Uganda dalam meminimalisir kematian yang terjadi saat wanita mengandung atau melahirkan.

Secara sekilas angka tersebut melegakan namun analisa yang lebih mendalam menunjukkan bahwa Uganda masih begitu jauh dari pemenuhan poin 5 dari Millenium Development Goal (MDG) yang mendorong negara-negara untuk mengurangi angka kematian ibu menjadi hingga setidaknya 151 kematian dari tiap 100,000 kelahiran. Bahkan menurut hasil dari Uganda Demographic Health Survey yang diadakan pada tahun 2011 angka kematian ibu naik menjadi 438 kematian dari setiap 100,000 kelahiran dari 435 kematian pada tahun 2006.

Kematian para ibu dikarenakan sebab-sebab yang sebenarnya dapat dicegah seperti infeksi, pendarahan, dan aborsi terus terjadi. Banyak dari wanita ini kurang cepat mencapai pusat kesehatan, sedangkan banyak pula yang mati dirumah masing-masing karena melahirkan tanpa bantuan petugas medis yang terlatih. Tingkat pertumbuhan populasi Uganda adalah ketiga terbesar di dunia setelah Niger dan yemen, dengan angka pertumbuhan 3.2% per tahun, atau setara dengan tiap wanita secara rata-rata memiliki tujuh anak.

Menurut Dr Charles Kiggundu, seorang dokter kandungan dan ginekolog, tiap tahunnya terjadi dua juta penghamilan di Uganda namun sekitar 200,000 hingga 300,000 dari pembuahan tersebut berujung pada keguguran. Ditambah pula aborsi sejumlah 350,000.

“90,000 dari aborsi menghasilkan komplikasi yang parah tetapi hanya setengah dari wanita tersebut memiliki akses terhadap servis-servis pasca aborsi. Hanya setengah dari para wanita yang mengalami komplikasi mencari bantuan medis. Beberapa dari mereka akan selamat, namun sisanya mati,” kata Dr Kiggundu.

Salah satu cara yang pasti untuk mengurangi angka kematian ibu di Uganda adalah dengan mengurangi angka kehamilan dengan menyediakan kontrasepsi bagi wanita yang membutuhkan. Saat ini, prencanaan keluarga yang sangat dibutuhkan baru mencapai 40% dimana angka tersebut masih dibawah angka yang diharapkan.

Studi kasus Indonesia.

50 tahun yang lalu, Indonesia memiliki nasib yang mirip dengan Uganda saat ini –tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggu, angka kematian ibu yang tinggi, serta tingkat fertilitas yang juga tinggi. Indonesia kemudian tersadar bahwa masalah kependudukan dan pembangunan harus segera ditanggulangi dalam upaya memperbaiki taraf hidup masyarakatnya.

Pemerintah memahami bahwa beberapa control perlu diimplementasikan agar angka pertumbuhan penduduk dapat diperkecil. Dengan inilah kampanye Keluarga Berencana (“Dua Anak Cukup”) dimulai untuk mendorong keluarga-keluarga Indonesia agar tidak memiliki anak lebih dari dua. Kampanye tersebut membutuhkan sosok pemimpin negara yang memiliki visi dan pendekatan yang komprehensif, seseorang yang mengerti kondisi sosio-kultural masyarakat Indonesia. Presiden Suharto memenuhi peran tersebut.

Kampanye tersebut juga membutuhkan seseorang dari bidang kependudukan yang dapat mengkomunikasikan masalah-masalah terkait dengan kependudukan seperti perencanaan keluarga kepada para stakeholders. Agar mencapai tujuannya, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melibatkan anggota-anggota masyarakat rural dalam perencanaan program serta bagaimana cara menyediakan layanan yang diperlukan dengan efektif.

Karena layanan berbasis klinik dianggap kurang efektif dari segi akses bagi penduduk yang berada di pedesaan, program perencanaan keluarga meningkatkan partisipasi masyarakat di tingkat desa. Saat puncaknya, program rural tersebut melibatkan 40,000 petugas lapangan dan lebih dari 100,000 voluntir.

“Para kru perencanaan keluarga biasanya mengunjungi rumah-rumah penduduk untuk mebicarakan metode perencanaan, menyediakan jasa konseling, serta memberi rekomendasi kepada pusat medis. Sebuah kampanye untuk fungsi komunikasi yang bersifat inovatif, berskala besar, multi-cabang, dan berjangka panjang telah dirancang untuk membangkitkan norma sosial dalam keluarga agar meningkatkan minat orang-orang untuk memiliki jumlah anak yang sedikit, serta untuk menghasilkan permintaan untuk layanan perencanaan keluarga,” kata Dr Eddy Hasmi, direktur pelatihan dan kolaborasi internasional BKKBN.

Pesan “keluarga kecil bahagia dan sejahtera” menjadi pemersatu seluruh program komunikasi disetiap level.

Slogan “dua anak cukup” telah terukir pada batu –secara literal karena banyak jembatan dan tiang mil di beberapa jalan raya utama bertuliskan slogan tersebut— dan kemudian menjadi bagian dari kesadaran masyarakat. Strategi yang diimplementasikan di daerah-daerah rural dalam menjangkau masyarakat adalah dengan komunikasi interpersonal yang melibatkan komunitas melalui berbagai petugas lapangan, penyedia layanan kesehatan (termasuk bidan desa), serta voluntir dari komunitas itu sendiri.

Untuk meningkatkan kemandirian di daerah rural, program ini mengembangkan peran bidan swasta. Inisiatif tersebut melatih 50,000 bidan yang memberikan perencanaan keluarga. Dr Sugiri Syarief, kepala lembaga kependudukan menyatakan bahwa BKKBN telah melapor langsung kepada presiden, dan ditempatkan pada posisi politik yang lebih dominant dalam berkoordinasi dengan instansi-instansi pemerintah lainnya.

Meraup keuntungan

Sebagai hasil dari program ini, persentase keluarga berencana yang memperoleh alat kontrasepsi mereka dari swasta meningkat dari 18% pada awal tahun 1980an hingga 69% menurut prediksi tahun 2007. Dr Hasmi menambahkan bahwa setelah program dilaksanakan, tingkat fertilitas turun secara drastis dari 5.6 kelahiran per wanita menjadi 2.2 kelahiran selama periode 1970-2000.

“Penurunan ini telah memperlambat pertumbuhan penduduk sehingga mengurangi pula dampak-dampaknya terhadap layanan public seperti pendidikan, kesehatan dan infrastruktur yang kemudian menghasilkan pembaikan pada taraf kehidupan masyarakan,” kata Dr Hasmi.

“Pada tingkat keluarga, anak-anak yang lahir dikehendaki memberi kebahagiaan dan keuntungan ekonomi bagi orang tuanya, dimana kelahiran diluar kehendak meningkatkan pengeluaran keluarga untuk sandang, pangan, papan, pendidikan, serta layanan kesehatan, tidak termasuk pula waktu yang dicurahkan untuk perawatan dan membesarkan anak”

Program perencanaan keluarga telah mencegegah sekitar 100 juta kelahiran. Ketidakberhasilan program ini mengindikasikan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 seharusnya mencapai 326 juta jiwa. Akibat program inilah jumlah penduduk pada tahun tersebut hanya 237.6 juta jiwa. Selama tahun 1970an dan 1980an, Indonesia melatih hampir 700 mahasiswa S2 dan S3 dalam bidang kependudukan, baik dalam maupun luar negeri.

Program ini juga telah mengembangkan mekanisme yang efektif dalam penyaluran sumber daya yang cepat. Ditambah lagi tim manajemen juga telah menghasilkan data dan sistem laporan, serta membangung kapaistas penelitian agar keputusan mengenai program dapat didasarkan bukti dan analisa ilmiah. Dimulai tahun ini, perencanaan keluarga telah diintegrasikan dalam program kesehatan ibu dan bayi yang diluncurkan pemerintah pada 2011.

Program ini dimulai dengan layanan pra-kelahiran, kelahiran dan antenatal yang disediakan secara gratis, berserta pula perencanaan keluarga postpartum bagi seluruh keluarga dan dapat diakses di pusat kesehatan. Sebagai hasilnya jumlah kelahiran per tahun di Indonesia mencapai kisaran 4.2 hingga 4.4 juta jiwa. Sebagai tambahan, intrauterine device (IUD), kondom dan implan diberikan secara gratis bagi semua pasangan yang membutuhkan. Oleh karena itu kini alat kontrasepsi kecuali yang berbentuk pil atau suntikan dapat diperoleh secara cuma-cuma di Indonesia, termasuk alat kontrasepsi jangka panjang.

Bagaimana kelanjutan Uganda?

Pada bulan Juli, presiden Yoweri Museveni mengumumkan bahwa pemerintahannya telah berkomitmen untuk meningkatkan pilihan perencanaan keluarga serta mengurangi angka kematian ibu. Dana sekitar $5 juta akan dialokasikan untuk penyediaan alat kontrasepsi tiap tahunnya selama 5 tahun yang akan datang.

Walaupun 90% dari total penduduk telah mengenal keluarga berencana, penggunaan alat kontrasepsi masih sangat rendah. Orang-orang masih belum mengapresiasi keluarga kecil sehingga mereka tidak menggunakan alat kontrasepsi. Dr Olive Sentumbye, penasihat kesehatan keluarga dan kependudukan di World Health Organisation di Uganda, mengatakan bahwa masyarakat harus menyadari dampak dari kehamilan bagi seorang wanita. Setiap kehamilan akan meninggalkan ‘bekas luka’ yang permanen bagi wanita, meski demikian masih banyak keluarga yang terus memiliki anak yang mereka sendiri tidak dapat rawat.

Semakin banyak wanita yang meninggal ketika hamil, melahirkan dan pasca-melahirkan. Jika Uganda dapat mencontoh Indonesia, kami akan dapat menghindari kematian ibu serta secara bersamaan juga mengurangi angka pertumbuhan penduduk, yang menurut proyeksi akan mencapai 60 juta jiwa pada tahun 2030 dan 100 juta jiwa pada 2050.

The Observer – Uganda

 

Artikel ini diambil dari Good News From Indonesia.

Advertisements
Categories: Dalam Pembangunan | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: