Dr. Danrivanto Budhijanto, Orang Asia Pertama yang Mendapatkan Gelar LL.M in IT Law

Dengan semakin canggihnya peradaban di planet tercinta ini, semakin banyak pula bidang ilmu baru yang bermunculan satu demi satu, seperti spora dari spesies fungi alien dalam film sci-fi yang merebak dengan laju yang pesat. Meskipun nama dari bidang ilmu baru ini terdengar asing bagaikan spora alien, dan bahkan ada bidang ilmu yang begitu spesifik hingga sulit mempercayai bahwa hal seperti itu saja bisa dipelajari, tidak banyak hal yang dapat melampaui indahnya ilmu pengetahuan yang kian berkembang. Salah satu kemajuan peradaban manusia yang bahkan untuk membayangkan bagaimana hidup tanpa penemuan ini saja begitu sulit dilakukan adalah internet dan cyberspace.

Penemuan internet telah mengubah fondasi kehidupan masyarakat global serta bagaimana satu individu dapat berinteraksi dengan individu lainnya. Internet tidak hanya merubah dunia yang kita kenal teteapi telah menghasilkan dunia yang beda sama sekali, sebuah dunia yang masih muda dan tidak memiliki batas. Tentu saja langkah selanjutnya adalah menentukan bagaimana kita dapat menetapkan batas-batas yang diperlukan karena dengan adanya dunia dan dimensi baru, diperlukan pula aturan-aturan baru untuk menjaga ketertiban masyarakat didalamnya.

Sebagai contoh, diawal tahun Amerika dan beberapa negara di Eropa merancang undang-undang anti-online piracy yang dikenal sebagai SOPA karena jumlah pengunduhan illegal akan materi seperti musik, video, tulisan, serta konten lainnya begitu tinggi dan menghasilkan kerugian bagi pihak produksi materi-materi tersebut. SOPA hanyalah undang-undang yang hanya mengontrol salah satu aspek dunia maya yaitu distribusi informasi digital, masih banyak hal lagi yang perlu ditata dalam cyberspace agar angka pelanggaran hak-hak individu serta cybercrime lainnya seperti hacking, phishing dan lain sebagainya dapat terkendali. Disinilah masuk peran IT Law, bidang ilmu baru yang terspesialisasi dalam menentukan hukum mengenai teknologi informasi dan komunikasi.

Komisaris BRTI-Kementrian Teknologi Komunikasi dan Informasi, Dr. Danrivanto Budhijanto, S.H., LL.M in IT Law yang merupakan orang pertama yang mendapatkan gelar Magister Hukum di bidang IT Law se-Indonesia, bukan, se-Asia adalah salah satu pakar yang mengurus masalah terkait Teknologi Informasi dan Komunikasi tadi. Beliau meraih gelar LL.M in IT Law di John Marshall Law School di Chicago, Amerika. Beliau kini mengajar di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Bandung.

Situs Good News From Indonesia telah mewawancarai beliau lewat e-mail, berikut terjemahan wawancara tersebut:

1. Apa yang membawa anda kesana? Apa yang menarik minat anda untuk melanjutkan studi di Amerika?

Amerika yang mendahului negara-negara lain di bidang komunikasi elektronik global, terutama internet, telah berpengalaman menghadapi berbagai macam persengketaan hukum serta masalah-masalah penting lain di dunia maya. Tantangan utama bagi sekolah hukum adalah bagaimana mendidik para pelajar menjadi pengacara di masa depan dalam bidang dengan yurisprudensi baru yang masih terus berkembang dengan cepat. Dalam jangka waktu 20 tahun, sekolah-sekolah hukum top seperti Harvard, Yale, John Marshall Law School di Chicago, University of Stanford, serta University of California di Berkeley, semuanya telah mendirikan sebuah pusat yang mempelajari dan mengajar mengenai hukum internet. Untuk inilah sekolah-sekolah hukum di AS menjadi tempat paling sesuai untuk melakukan riset atau studi yang berhubungan dengan pengembangan cyber law.

2. Apakah anda menerima beasiswa? Jika iya, beasiswa seperti apa dan lembaga apa yang member beasiswa tersebut?

Pada tahun 2002 saya diberikan Fullbright Scholarship dari US Department of States in collaboration with AMINEF in Indonesia and Indonesia Economic Law, Institutional and Professional Strengthening (ELIPS II) from USAID-United States Agency in International Development.

3. Dimanakah anda melanjutkan studi?

Saya mengambil S2 hukum di John Marshall Law School (JMLS) di Chicago. Selama bertahun-tahun, JMLS memegang peran sebagai pemimpin dalam komunitas legal dalam menangani perihal computer serta hukum dan kebijakan informasi. JMLS mulai membuka mata kuliah computer law and privacy bahkan sebelum Center of Information Technology and Privacy Law didirikan pada tahun 1983. Para pakar internasional dan nasional, baik akademisi maupun yang berpraktek, yang menjadi anggota dewan penasehat bagi Center of Information Technology and Privacy Law dan fakultas tambahan memperkaya program bergelar serta kegiatan akademis lainnya yang dilaksanakan oleh Center of Information Technology and Privacy Law.

Banyak pelajar yang datang ke JMLS dengan jumlah pengalaman yang substansial, para mahasiswa biasanya dapat mepelajari banyak hal dari satu sama lain sebagai tambahan dari dosen mereka. Hubungan antara dosen dan mahasiswa lainnya menjadi komponen utama dalam program akademis. Selain itu program yang diberikan Center of Information Technology and Privacy Law telah dirancang agar menjadi sefleksibel mungkin. Banyak mata kuliah yang diberikan pada malam hari atau di akhir pekan, bahkan ada beberapa yang dijadwalkan sebagai workshop intensif dan master classes.

Magister Hukum (LL.M) dalam IT Law menghasilkan pengacara dan alumni dengan spesialisasi dalam ilmu hukum dan kebijakan informasi, komputer dan teknologi komunikasi. Titik fokus program ini berada pada hukum dan kebijakan informasi, komputer dan teknologi komunikasi dimana program tersebut berada dibawah pimpinan staf pengajar full-time John Marshall yang keahliannya telah diakui secara nasional maupun internasional. Mereka dibantu pula oleh sekelompok professor dan dosen tambahan yang dapat berbagi pengalaman kedalam kelas dari praktek hukum mereka yang canggih. Visiting Faculty dari berbagai institute pendidikan di dunia juga sering berkontribusi dalam program ini.

Yang termasuk dalam kurikulum inti antara lain kuliah mengenai hukum komputer, hukum cyberspace, kebijakan informasi, serta kekayaan intelektual dalam dunia digital. Para pelajar juga dapat memilih kuliah elektif yang banyak berubah dari tahun ke tahun mengikuti perkembangan teknologi dan kehukuman. LL.M in IT Law akan diberikan setelah menuntaskan 22 sks, termasuk keempat kuliah wajib yang telah disebut tadi, dengan IPK 2.5 atau lebih. Saya telah mengambil 22 sks, termasuk 3 sks untuk Master Thesis pada semester genap 2003.

 4. Apa yang begitu menarik tentang cyber law sehingga anda berminat mengambil S2 di bidang tersebut?

Komunikasi elektronik global telah menciptakan tempat baru dimana sekelompok aturan yang berbeda akan berkembang hingga melintasi batas teritorial, sehingga menghasilkan sebuah dunia baru yang akan meruntuhkan legitimasi penerapan hukum berdasarkan perbatasan geografis. Hukum yang berlaku di satu tempat tertentu harus memperhitungkan segala sifat-sifat khusus dari tempat tersebut serta jenis manusia, tempat-tempat dan benda-benda yang ditemukan didalamnya. Hukum dari cyberspace akan mencerminkan kekhasannya yang akan begitu berbeda dengan apapun yang dapat kita temukan di dunia nyata.

5. Berapa lamakah anda disana sebelum lulus dari JMLS?

Sebelum saya memulai studi di JMLS pada September 2002, saya diberi kesempatan untuk beradaptasi dengan suasana pembelajaran di Amerika. Fullbright lewat Institute of International Education (IIE) menawarkan kesempatan bagi saya untuk mengikuti pelatihan pra-akademik di Monterey Institute of International Studies di California. Pelatihan tiga minggu tersebut memberi kami segala yang dibutuhkan untuk mengenal dan memahami aktivitas kelas Amerika seperti partisipasi dalam kelas, tips menulis catatan, serta penulisan makalah penelitian. Setelah melalui sidang Master Thesis pada 2 Juni 2003 baru saya bisa lega. Meraih LL.M dalam dua semester dapat terlihat mustahil, terutama jika anda disuruh menulis sebuah thesis yang harus anda bela di hadapan panel profesor.

6. Presteasi apakah yang anda raih ketika lulus?

Saya mendapatkan gelar Master of Law in Information Technology and Privacy Law (LL.M in IT Law) dari JLMS di Chicago, ditambah lagi saya adalah pelajar Asia pertama yang meraih gelar tersebut pada saat itu.

7. Sebelum anda, adakah pelajar Asia lainnya yang mengejar gelar dalam cyber law?

Di angkatan 2002, pelajar internasional satu-satunya adalah saya, sisanya pelajar Amerika semua. Tidak ada pelajar Asia yang mendapatkan gelar LL.M in IT Law di JMLS Chicago sebelum tahun 2003.

8. Bagaimana rasanya ketika anda mendapatkan prestasi tersebut?

Pencapaian ini saya persembahkan untuk Almarhum ayah saya, beliau meninggal ketika saya baru saja mendarat di Chicago pertama kalinya. Beliau meyakini bahwa cara untuk benar-benar memahami cyber law adalah dengan belajar di Amerika karena disana terdapat perkembangan yang pesat di bidang teknologi, bisnis, industri, serta hukum yang mengatur kegiatan-kegiatan yang terkait dengannya. Demikian pula saya persembahkan untuk semua guru-guru, dan profesor-profesor yang telah menyediakan inspirasi, motivasi dan bantuan yang dibutuhkan untuk mencapai cita-cita saya.

9. Apa yang telah anda lakukan untuk mengembangkan cyber law di Indonesia?

Setelah mendapatkan gelar saya, saya terlibat dalam perancangan beberapa legislasi seperti UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, RUU Konvergensi Multimedia, RUU Kejahatan Teknologi Informasi. Saya juga menjabat sebagai Komisaris di BRTI Kementrian Komunikasi dan Informatika RI. Tiga tahun setelah lulus dari JMLS di Chicago, saya memulai S3 dengan topik penelitian mengenai aspek hukum konvergensi teknologi informasi dan komunikasi dalam framework pembangunan Indonesia. Saya menerima gelar Doktor pada tahun 2009 dengan ofsumma cum laude.

10. Nasehat apakah yang anda miliki untuk para pembaca yang ingin mengikuti jejak anda?

Ada aturan mutlak untuk belajar dengan baik yang saya sebut aturan 2R+1E; References, Researches, Experience. Jangan pernah belajar tanpa referensi, kemudian baca dan analisa dengan kritis referensi tersebut dengan pendekatan penelitian, dan terjunlah ke dalam apapun itu yang anda pelajari. Dalam hidup, masa depan kita adalah bayangan dari jejak kita saat ini.

Wawancara diatas dilakukan dengan Farah Fitriani untuk GNFI (27 Oktober 2010).

Transkrip aslinya dapat dilihat disini.

Advertisements
Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: