Hal Sederhana yang Berharga: Peribahasa

sumber gambar: disini

Pada saat saya melakukan perjalanan ke Karimun Jawa, dalam percapakan malam santai, teman-teman (orang Italia dan Jerman) sudah beberapa kali membagi saya beberapa cerita rakyat yang pendek dan peribahasa. Herannya, saya sulit sekali membalas mereka dengan cerita rakyat yang pendek-pendek. Apa ya? Masa saya ceritakan kisah Gatot Kaca? Siti Nurbaya? atau Sengsara Membawa Nikmat? Panjang banget semuanya. Begitu juga dengan peribahasa. Akhirnya saya hanya bisa bilang kepada mereka “entah kenapa tidak ada satu pun peribahasa Indonesia yang bisa saya ingat untuk membalas pembagianmu barusan, tapi ada satu kebijaksanaan Islam yang ingin saya bagi. Mayoritas orang Indonesia beragama Islam, sehingga antara budaya Islam dan budaya  Indonesia agak membaur  jadinya”. Akhirnya saya menjelaskan mengenai hadist Rasulullah yang mengatakan bahwa “segala bentuk amal itu tergantung pada niatnya”. Kalimat ini sederhana sekali memang, tapi bagi saya sangat berharga, karena salah satu pegangan dalam menjalani hidup yang saya pegang teguh dan membantu sekali dalam pengambilan keputusan. Hal ini juga yang membuat saya sangat menyukai peribahasa, karena bentuknya yang sederhana, namun mengandung makna yang dalam dan sangat berharga. Well, kalau mengutip Leonardo da Vinci, simplicity is the ultimate sophistication. It is indeed. Peribahasa memang umumnya, dihasilkan dari proses berpikir yang panjang.

Anyway,  saya pun kemudian menjelaskan mengenai fenomena kontras antara cara manusia memberi penilaian dan cara Tuhan memberi penilaian. Tuhan menitikberatkan pada niatnya, manusia menitikberatkan pada perbuatannya. Jadi, seseorang yang dipandang baik bagi banyak orang, bisa saja di mata Tuhan biasa saja, atau malah, lebih rendah, karena sesungguhnya Tuhan Maha Mengetahui isi lubuk hati. Makanya manusia mudah terpeleset pada ranah Riya dimana suatu perbuatan “baik”  dilakukan dengan motif atau niat untuk mendapatkan citra baik di mata masyarakat, dibandingkan untuk menolong atau berbuat baik itu sendiri. Turunannya dalam praktik adalah, orang yang berbuat  “baik” tersebut menjadi lebih tertarik untuk mengetahui perubahan persepsi masyarakat atas dirinya (setelah perbuatan “baik” tersebut dilakukan), dibandingkan  untuk mengetahui dampak yang terjadi pada masyarakat yang telah “dibantu” tersebut. Kesalahan niat dari awal ini terjadi cukup masif, sehingga begitu banyak dana-dana bantuan telah disalurkan baik oleh perorangan, yayasan, pemerintah, maupun lembaga-lembaga internasional belum kunjung memberikan perubahan besar bagi kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia. Yah, karena indikator kesuksesan dari “perbuatan baik”-nya, salah alamat, akibat memang salah niat dari awal.

Wah, saya jadi panjang lebar, deh. Intinya adalah, pada malam itu saya merasa kurang wawasan akan kebijaksanaan-kebijaksanaan lokal yang cukup keren untuk dibagi ke khalayak internasional. Syukur ada kebijaksanaan Islami yang masih saya ingat haha. Paling tidak sesi obrolan santai malam itu tidak terlalu bersifat satu arah. Nah,  hari ini dari salah satu milis saya mendapat posting ini, mengenai Peribahasa Jawa untuk kedamaian hidup. Saya senang sekali, wah, besok-besok kalau saya berada di forum-forum (formal maupun informal) internasional lagi, saya punya bahan omongan yang lebih menarik mengenai kearifan atau kebijaksanaan lokal yang tanah air kita miliki. Oleh karena itu, apa yang saya dapat hari ini, ingin saya bagi. Terima kasih Bu Nining I Soesilo karena sudah berbagi mengani hal ini 🙂  Semoga makin hari saya lebih bisa menjadi agen salamduajari yang lebih baik, tiada hari tanpa berbagi. 

Berikut adalah beberapa peribahasa yang saya dapat dari obrolan malam Karimun Jawa Agustus lalu dan milis hari ini.

Dari Jerman:

Viele Kleine Leute, an vielen kleinen orten

Mit vielen kleinen schritten, Konnen das gesicht der welt verandern

(artinya: orang-orang kecil yang banyak, di banyak tempat (di dunia), dengan langkah-langkah kecil yang banyak, dapat mengubah wajah dunia)

 

Dari Italia (yang ini agak melankolis, haha):

Odio e Amo, non so perche mi capita

ma accaole e ne soffro

(artinya: aku makan, dan aku mencinta. Aku tak tahu bagaimana, tapi hal itu terjadi, dan hal itu membuatku menderita)

 

Dari  Jawa (dari milis dengan subjek: Peribaha Jawa untuk Kedamaian Hidup)

1. URIP IKU URUP
[Hidup itu nyala, hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita]

2. MEMAYU HAYUNING BAWANA, AMBRASTA DUR HANGKARA
[Harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak]

3. SURA DIRA JAYA JAYANINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI
[Segala sifat keras hati, picik, angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar]

4. NGLURUK TANPA BALA, MENANG TANPA NGASORAKE, SEKTI TANPA AJI-AJI, SUGIH TANPA BANDHA
[Berjuang tanpa perlu membawa massa, Menang tanpa merendahkan/ mempermalukan, Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan/kekuatan/kekayaan/ keturunan, Kaya tanpa didasari hal2 yg bersifat materi]

5. DATAN SERIK LAMUN KETAMAN, DATAN SUSAH LAMUN KELANGAN
[Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu]

6. AJA GUMUNAN, AJA GETUNAN, AJA KAGETAN, AJA ALEMAN
[Jangan mudah terheran-heran, Jangan mudah menyesal, Jangan mudah terkejut dgn sesuatu, Jangan kolokan atau manja]

7. AJA KETUNGKUL MARANG KALUNGGUHAN, KADONYAN LAN KEMAREMAN
[Janganlah terobsesi atau terkungkung dengan kedudukan, materi dan kepuasan duniawi]

8. AJA KUMINTER MUNDAK KEBLINGER, AJA CIDRA MUNDAK CILAKA
[Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka]

9. AJA MILIK BARANG KANG MELOK, AJA MANGRO MUNDAK KENDHO
[Jangan tergiur oleh hal2 yg tampak mewah, cantik, indah dan jangan berfikir gamang/plin-plan agar tidak kendor niat dan kendor semangat]

10. AJA ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
[Jangan sok kuasa, sok besar/kaya, sok sakti].

11. ALANG ALANG DUDU ALING ALING , MARGINING KAUTAMAN.
[Persoalan persoalan dlm kehidupan bukan penghambat , jalannya kesempurnaan].

12. SOPO WERUH ING PANUJU sasat SUGIH PAGER WESI.
[Dalam kehidupan siapa yg punya Cita2 luhur, jalannya seakan tertuntun].

Advertisements
Categories: Kearifan Lokal | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Hal Sederhana yang Berharga: Peribahasa

  1. Kopi tubruk

    Wah, jadi kepikiran untuk mencari tahu lebih banyak tentang peribahasa nusantara.

  2. Pingback: Kreatifitas Rakyat Endonesa! « salamduajari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: