Klasifikasi Gender ala Suku Bugis: 4+1

Waria, wanita bertubuh pria. Istilah gender pertengahan ini akrab dengan konotasi negatif di kalangan masyarakat Indonesia. Ia laki-laki, namun berpenampilan dan bertingkahlaku layaknya wanita. Ambiguitas gender yang melekat pada waria membuatnya sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Siapa sangka, di Suku Bugis, kalangan sejenis waria yang biasa disebut Bissu justru dianggap sebagai golongan gender yang paling mulia dan sangat dihormati.

Waria pada umumnya memang tidak bisa serta merta disamakan dengan dengan Bissu. Karena Bissu  adalah kaum pendeta yang tidak mempunyai golongan gender dalam kepercayaan tradisional Tolotang yang dianut oleh komunitas Amparita Sidrap dalam masyarakat Bugis dari Sulawesi SelatanIndonesia. Golongan Bissu umumnya disebut “di luar batasan gender”, suatu “makhluk yang bukan laki-laki atau perempuan”, atau sebagai “memiliki peran ritual“, dimana mereka “menjadi perantara antara manusia dan dewa“. Tidak ada penjelasan valid untuk apakah arti “di luar batasan jender” dan bagaimana sebutan tersebut dimulai. Yang pasti, Suku Bugis memiliki pandangan yang berbeda tentang klasifikasi gender, jika dibandingkan dengan klasifikasi gender yang berlaku pada masyarakat umumnya.

Suku Bugis mengenal empat (atau lima jika Bissu juga dihitung) golongan gender yang terdiri atas  Oroane (laki-laki); Makunrai (perempuan); Calalai (perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki); Calabai (laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan); dan golongan Bissu, di mana masyarakat kepercayaan tradisional menganggap seorang Bissu sebagai kombinasi dari semua jenis kelamin tersebut. Klasifikasi seperti inilah yang membuat klasifikasi gender menurut Suku Bugis berjumlah 4+1, karena tidak dapat pula disebut berjumlah 5. Menurut Sharyn Graham, seorang peneliti di University of Western Australia di PerthAustralia, seorang Bissu tidak dapat dianggap sebagai banci atau waria, karena mereka tidak memakai pakaian dari golongan gender apa pun, melainkan memakai setelan tertentu yang khusus untuk golongan mereka.

Peran sosial seorang Bissu lebih terkait dengan aspek spiritual daripada sisi seksualitasnya. Keberadaan kaum Bissu yang berada diluar gender memberikan ruang lebih bagi mereka untuk berada dalam alam pertengahan yang tidak mampu disentuh oleh kita yang terikat gender tertentu. Bissu yang konon dalam tradisi adat dan budaya Sulsel yang berakar kepada kerajaan Luwu, mendapat tempat terhormat dan seringkali dimintai nasihat ketika “persetujuan tertentu” dari kekuasaan dunia batin (spiritual) diperlukan. Hal ini terjadi misalnya ketika orang Bugis Sulawesi berangkat untuk perjalanan naik haji ke Mekah. Dalam situasi ketika dimintai nasihat, seorang Bissu akan melakukan ritual untuk mengizinkan jin yang sangat baik untuk merasuki mereka dan untuk berbicara sebagai utusan dari dunia tak nampak. Diriwayatkan dalam Surek Galigo atau naskah-naskah Bugis kuno masa Hindu, Raja Luwu diturunkan dari langit bersama Latimojong dan Lae Lae, yang adalah Bissu pertama. Dalam epos-epos La Galigo, Bissu juga selalu menjadi penyempurna keberadaan tokoh-tokoh utamanya.

Sejak masa awal sejarah, masyarakat Bugis mempunyai sistem kepercayaan dengan konsep dewa tertinggi atau To PalanroE. Sistem kepercayaan ini disebut juga attoriolong, atau secara harafiah berarti “mengikuti tata cara leluhur”. Lewat attiorolong diwariskan petunjuk-petunjuk normatif dalam kehidupan masyarakat. Sampai sekarang, kepercayaan ini sebenarnya tidak benar-benar punah.

Dewa tertinggi dalam attoriolong disebut PattotoE, yang diyakini mempunyai anggota keluarga dewata lain dengan bermacam tugas. Setelah menciptakan alam raya, dewa penentu nasib ini kemudian beristirahat. Untuk memuja PattotoE atau sejak masa Islam disebut juga Dewata SeuwaE, tidak bisa langsung, melainkan lewat dewa pembantu-pembantunya. “Ini semacam konsep deisme. Kepercayaan di Sulawesi memang pertemuan antara kepercayaan yang ada di Barat, seperti Jawa atau Kalimantan, dengan Timur, seperti di Papua,” kata Dr Halilintar Lathief, peneliti budaya Bugis yang tinggal di Makassar

Dalam attoriolong, Bissu adalah perantara antara langit dengan bumi. Ini dimungkinkan karena Bissu menguasai Basa Torilangi, atau bahasa langit yang hanya dimengerti sesama Bissu dan para dewa. Lewat bahasa itu, Bissu membacakan mantra dan doa dalam berbagai upacara keagamaan baik bersifat kenegaraan atau kelompok keluarga. Oleh karena itu, peran Bissu pun mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat Bugis masa lampau. Bertanya hari baik untuk mengadakan acara penting hingga penobatan pemimpin atau raja dilakukan oleh Bissu. Bahkan menurut mitos, raja yang tidak didoakan oleh Bissu tidak akan memiliki kharisma selama masa kepemimpinannya.

Bissu juga dikenal mampu melakukan aksi kekebalan tubuh mirip “Kuda Lumping” di masyarakat Betawi. Demonstrasi yang dikenal dengan nama Maggiri ini tidak mengenal batas waktu. Para Bissu dapat menunjukkan kekebalan tubuh mereka ketika ditusuk dengan senjata-senjata tajam hingga seharian atau semalam suntuk. Mereka hanya akan berhenti jika ada Bissu lain yang memegangnya.

Terlepas dari segala keunikan yang dimiliki Bissu, kini keberadaan Bissu semakin langka dan hampir punah. Kalau dahulu, dalam setiap kerajaan – sekarang kurang lebih setingkat kabupaten – minimal terdapat 40 Bissu. Saat ini tidak ada satupun komunitas bisa mencapai angka demikian. Di Segeri misalnya, kini hanya terdapat tak lebih dari empat Bissu.

Kendala lain adalah soal beratnya persyaratan menjadi Bissu. Untuk menjadi Bissu, seorang waria harus mendapat panggilan spiritual, yang bisa berupa mimpi, sakit, atau pertanda lain. Bila si waria sudah bertekad bulat, ia harus magang belajar di rumah puang matowa selama beberapa waktu sebelum dinyatakan siap ditahbiskan dalam upacara irreba. Meski telah melewati masa belajar hingga bertahun-tahun, belum tentu semua Bissu akan lulus.

Arus moderenisasi dan globalisasi telah mengancam eksistensi para Bissu di Sulawesi. Kuatnya agama-agama konvensional yang bertentangan dengan tradisi Bissu juga membuat kaum Bissu sulit bertahan. Bagaimanapun juga, Bissu adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan. Keberadaan Bissu sangat berjasa dalam menjaga kekayaan budaya nasional. (RIS)

Sumber: disini dan disini

Advertisements
Categories: Kearifan Lokal | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: