Ambrosius Ruwindrijarto: Aktivis Lingkungan Penerima Ramon Magsaysay Award 2012

Lagi, putra bangsa Indonesia meraih penghargaan di tingkat internasional. Kali ini Ruwi, atau yang bernama lengkap Ambrosius Ruwindrijarto, seorang aktivis lingkungan hidup menerima penghargaan Ramon Magsaysay Award 2012. Bersama LSM Telapak, ia dan rekan-rekannya berjuang tanpa pamrih memberdayakan masyarakat setempat untuk gerakan pelestarian lingkungan hidup. Nama Ruwi memang belum terlalu sering terdengar di tanah air, mungkin, mungkin ya, ini adalah salah satu kisah  (dari banyaknya kisah) tentang budaya apresiasi di tanah air. Nanti kalau sudah diberi penghargaan dari dunia internasional, baru deh Indonesia sendiri ikut-ikutan beri penghargaan. Salamduajari salut dengan perjuangan Mas Ruwi.. lanjutkan ya mas! Semoga semakin banyak yang tergerak untuk ambil bagian ke dalam barisan generasi hijau Indonesia.

Anyway, berikut liputan lengkapnya yang dilansir dari kotahujan.com:

Keteguhan berkarya dan tekun berjuang meraih apa yang dicita-citakan, sejatinya menjadi kunci pencapaian hidup. Bekerja dengan tulus, sepenuh hati untuk berkarya sebaik-baiknya. Itulah yang mengilhami seorang Ambrosius Ruwindrijarto. Sejak 1996 bersama rekan-rekannya di Telapak, LSM Lingkungan yang berpusat di Bogor, memilih berjuang untuk kelestarian lingkungan bersama petani, nelayan dan masyarakat adat. Pencapaian ini pada akhirnya membawa Ruwi sebagai penerima Ramon Magsaysay Award 2012. 

Ruwi bersama 5 tokoh asia lainnya merupakan penerima Ramon Magsaysay Award 31 Agustus nanti. Dijadwalkan Ruwi akan menerimanya di PICC Plenary Hall, CCP Complex, Metro Manila.

Dalam website Ramon Magsaysay Award Foundation dikatakan, Ruwi diakui untuk advokasi berkelanjutan yang berbasis masyarakat pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, mendorong kampanye berani untuk menghentikan eksploitasi hutan ilegal, serta inisiatif sosial enterprise yang melibatkan masyarakat hutan sebagai mitra penuh mereka.

“Surprise banget, kalau dikatakan terkejut ya terkejut karena ini diluar sepengetahuan saya. Saya baru tahu dinominasikan setelah ditelpon Presiden Ramon Magsaysay Foundation,” kata Ruwi saat dihubungi Kotahujan.com

Sejak 1996, bersama rekan-rekannya Ruwi mendirikan Telapak di Bogor. Organisasi ini merintis pelaporan tentang pembalakan liar di Indonesia. Pada kiprahnya kemudian, Ruwi bersama Telapak menggeser fokus pada solusi berbasis masyarakat melalui pengelolaan sumber daya berkelanjutan. Membantu masyarakat setempat bagaimana akhirnya bisa mengelola jutaan hektar hutan di seluruh Indonesia.

“Saya ingin mendedikasikan penghargaan ini kepada rekan-rekan di Telapak, FWI, Samdhana, dan AMAN. Juga untuk para petani, nelayan dan masyarakat adat,” ujarnya.

Ramon Magsaysay Award yang didirikan sejak 1957 merupakan penghormatan tertinggi di Asia dan secara luas penghargaan ini dianggap Nobel-nya Asia. Penghargaan ini diciptakan untuk mengenang keteladanan mendiang Presiden Filipina Ramon Magsaysay. Diberikan setiap tahun untuk individu atau organisasi di Asia yang memanifestasikan arti pelayanan yang sama tanpa pamrih.

“Para penerima beasiswa Magsaysay tahun 2012, enam orang yang luar biasa, semua sangat terlibat dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan untuk kemiskinan dan ketidakberdayaan yang menyertainya – apakah di hutan atau di lahan pertanian, di industri eksploitatif atau dalam pendidikan yang tidak memadai. Bekerja tanpa pamrih dengan cara yang sederhana namun kuat. Mereka menunjukkan bagaimana komitmen, kompetensi, dan kepemimpinan kolaboratif yang benar-benar dapat mengubah kehidupan jutaan individu dan menggembleng aksi masyarakat progresif, ” kata Presiden RMAF Carmencita Abella di website RMAF.

Bentuk kepeduliannya cukup beragam, mulai dari produktivitas pertanian, lingkungan peradilan, pendidikan petani, perempuan, pemberdayaan ekonomi, hingga pendidikan yang baik bagi kaum muda. Satu hal yang menjadi muatan Magsaysay Award, sebuah kebesaran jiwa yang menanamkan kepemimpinan mereka yang berbeda untuk perubahan. Bekerja dengan orang lain, mereka semua mindedly tunggal, menerapkan keterampilan mereka dengan semangat untuk meningkatkan kehidupan orang lain.

“Mereka semua menolak untuk menyerah, meskipun kesulitan dan oposisi. Mereka semua berakar dalam harapan..”

Selain Ruwi, penerima Magsaysay Award 2012 adalah Chen Shu-Chu (Taiwan), Romulo Davide (Filipina), Kulandei Francis (India), Syeda Rizwana hasan (bangladesh) dan Yung Saing Koma (Kamboja). Selanjutnya mereka akan bergabung bersama 290 peraih lainnya di PICC Plenary Hall, CCP Complex, Metro Manila. Masing-masing akan menerima sertifikat, medali, dan hadiah uang tunai.

Prestasi Ruwi ini melengkapi 21 penerima Ramon Magsaysay Award dari Indonesia lainnya, seperti Gus Dur, Pramudya Ananta Toer, Ali Sadikin, Syafii Maarif, Teten Masduki, Dita Indah Sari dan lainnya. Hasanain Juaini dan Tri Mumpuni merupakan penerima tahun 2011 lalu.

Sumber: http://kotahujan.com/2012/07/anggota-telapak-bogor-terima-ramon-magsaysay-award/

Advertisements
Categories: Generasi Hijau | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: