Usaha Kecil yang Berperan Besar

Shakespeare pernah berkata, “Apalah arti sebuah nama, karena jika pun kita menyebut bunga mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap sama.” Jika diletakkan dalam konteks perekonomian, mungkin dapat dianalogikan seperti ini, “Apalah arti sebuah label usaha mikro, kecil, menengah, atau besar, karena pada akhirnya, yang lebih penting adalah bagaimana perannya bagi perekonomian.”

Menjadi suatu bagian dari perekonomian yang pertumbuhannya belum begitu berhasil menciptakan lapangan kerja, serta aktivitasnya masih didominasi oleh sektor informal, rasanya sulit untuk tidak bertanya: bagaimana kisah di balik tingkat pengangguran yang hanya sekitar 6.8% (BPS, 2011)? Tingkat tersebut memang bukan “hanya” jika dibandingkan dengan Malaysia, yang pendapatan per kapitanya sekitar 3 kali pendapatan per kapita Indonesia, dan hanya menyisakan sekitar 3.3% penganggur dari total angkatan kerjanya. Namun jika dibandingkan dengan Arab Saudi yang pendapatan per kapitanya sekitar 5 kali dari Indonesia dan masih menyisakan sekitar 10.9% penganggur; atau dengan Brazil yang pendapatan per kapitanya sekitar 2.5 kali dari Indonesia dan juga masih menyisakan sekitar 6% penganggur, membuat tidak salah rasanya jika angka tingkat pengangguran Indonesia yang sebesar 6.8% tersebut dibubuhi dengan kata “hanya”.[1] Pertanyaannya: bagaimana bisa? Potret berikut menawarkan jawabannya.

Gambar 1. Jumlah dan Persentase Penduduk Bekerja menurut Status Pekerjaan Utama
Sumber data: BPS (Sakernas 2010), diolah oleh UKM Center FEUI (2012)

Dari gambar yang menunjukkan pola seperti pohon beringin tersebut, dapat diketahui bahwa pekerja keluarga yang tidak dibayar pun masih termasuk dalam golongan bekerja. Adapun jumlahnya tergolong besar, yaitu sekitar 18 juta jiwa, atau 17.34% dari total penduduk bekerja, atau 16.1% dari total angkatan kerja. Dengan demikian, jika pekerja keluarga atau tidak dibayar ini dikeluarkan dari kelompok penduduk bekerja, maka tingkat pengangguran Indonesia akan menjadi sekitar 22.9%.

Selain itu, yang perlu turut digarisbawahi adalah jumlah pekerja yang berusaha sendiri (tanpa dibantu buruh) yang berjumlah sekitar 21 juta jiwa, serta jumlah pekerja yang berusaha sendiri dengan dibantu buruh tidak tetap yang berjumlah hampir 22 juta juta jiwa. Mengapa demikian? Kedua golongan pekerja ini tidak mungkin bermain di skala usaha menengah atau besar, melainkan di skala Usaha Mikro atau Kecil (UMK), karena pada umumnya usaha menengah atau besar sudah memiliki sistem yang lebih baik, sehingga cenderung sudah mampu mempekerjakan orang dengan basis tetap. Kasarnya, jika tidak ada sektor usaha mikro dan kecil, maka setidaknya sekitar 43 juta jiwa penduduk Indonesia akan kehilangan sumber mata pencaharian, karena daya serap Usaha Menengah Besar juga bersifat terbatas. Tentu pada kenyataannya dapat melebihi angka tersebut, karena pekerja keluarga atau tidak dibayar tersebut sudah hampir pasti bekerja untuk mendukung kegiatan UMK; golongan pekerja bebas juga memiliki kemungkinan besar untuk ditampung oleh UMK; dan sebagian dari golongan buruh/karyawan/pegawai juga tentunya ada yang ditampung oleh UMK. Pertanyaan kemudian adalah: seberapa banyak jumlah unit UMK?

Gambar 2. Jumlah Unit dan Persentase Pelaku Usaha berdasarkan Skala Usaha
Sumber: BPS (2010), diolah oleh UKM Center FEUI (2012)

 

Ibu Nining I Soesilo, tokoh pendiri UKM Center FEUI, sering mengungkapkan bahwa struktur pelaku usaha di perekonomian Indonesia itu seperti tutup gelas, di mana jumlah pelaku usaha dengan kapasitas kewirausahaan memadai tergolong sangat sedikit; yang dominan adalah pelaku usaha dengan kapasitas kewirausahaan rendah, karena masih berorientasi self-employed (mempekerjakan diri sendiri) bukan generating employment(menciptakan lapangan kerja). Gambar di atas mempertajam ungkapan beliau, karena begitu dominannya jumlah usaha mikro jika dibandingkan dengan jumlah usaha kecil, apalagi dengan usaha menengah dan besar. Topi pelukis a la Perancis (barret) rasanya lebih tepat menggambarkan struktur pelaku usaha di atas, dibandingkan tutup gelas.

Contoh pelaku usaha mikro ini antara lain pedagang asongan, pedagang kaki lima, tukang gorengan, tukang mie ayam (gerobak), juga termasuk pedagang sayur keliling. Mereka adalah pelaku usaha yang umumnya masih berorientasi self-employed, di mana kapasitas kewirausahaannya masih terbatas pada pemenuhan kebutuhan, belum pada penangkapan peluang dan penciptaan nilai tambah. Mereka merupakan pelaku usaha yang belum terbiasa dengan prosedur atau pengurusan dokumen-dokumen administrasi atau perizinan resmi, namun cukup tangguh untuk berdikari di atas kaki sendiri, tidak mengeluhkan keadaan, apalagi ‘merengek-rengek’ meminta pekerjaan kepada orang lain. Mereka-mereka adalah pelaku usaha yang umumnya beraktivitas di sektor informal, sehingga geliatnya tidak terpotret dalam statistik PDB nasional.

Menurut proyeksi BPS (2010), usaha mikro telah menyerap tenaga kerja sekitar 93 juta jiwa, atau sekitar 86% dari total tenaga kerja, atau hampir 80% dari total angkatan kerja nasional.[2] Sementara usaha kecil, menengah, dan besar, masing-masing diproyeksi BPS (2010) menyerap sekitar 3.63 juta, 2.76 juta, dan 2.84 juta jiwa tenaga kerja. Hal ini kemudian membuat sektor UMK telah menyerap sekitar 90% dari total tenaga kerja nasional, sementara Usaha Menengah Besar hanya menyerap sekitar 10%.

Apa jadinya jika perekonomian Indonesia tidak turut didukung oleh keberadaan Usaha Mikro dan Kecil? Kemungkinan besar adanya tensi sosial akan sangat tinggi, karena terlalu sedikitnya pekerjaan untuk terlalu banyak pencari kerja. Perekonomian tentunya akan rentan dengan konflik sosial, aksi kriminal, bahkan kekacauan. Usaha Mikro Kecil memang belum menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional, karena pertumbuhan ekonomi dihitung berdasarkan statistik PDB yang hanya memotret aktivitas ekonomi formal. Tetapi, Usaha Mikro Kecil adalah mesin utama penciptaan lapangan kerja di Indonesia, sehingga untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang pro-job tentunya tidak dapat dilepaskan dari proses pemberdayaan UMK pula. Jadi, seberapa besarkah peranan UMK bagi perekonomian Indonesia? Secara de jure mungkin belum begitu besar, namun secara de facto, sangat besar.

Akhir kata, apalah arti sebuah label skala usaha mikro atau kecil, jika memang memiliki peran yang besar bagi perekonomian, maka besar pula lah perhatian yang perlu dicurahkan untuk mengembangkan dan mengoptimalkan perannya. Penggalakkan formalisasi usaha adalah salah satu jalannya, yang memang merupakan suatu jalan yang panjang. Oleh karena itu, perlu dimulai segera agar suatu saat nanti Usaha Mikro Kecil tidak hanya menjadi mesin utama penciptaan lapangan kerja, tetapi juga menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi, layaknya Usaha Mikro Kecil di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Uni Eropa sana, di mana Usaha Mikro Kecil Menengah juga merupakan penopang perekonomian baik secara de facto, maupun de jure.

 

Daftar Pustaka

UKM Center FEUI. (2012). Potret UMKM dan Kewirausahaan di Indonesia. Paparan pada Program Pelatihan Replikasi Tenaga Pemberdaya UKM dan Penggerak Kewirausahaan: Depok, Indonesia

Ecorys. (2011). Are EU SME Recovering? Annual Report on EU SMEs 2010/2011. Rotterdam, Netherland.


[1] Pada 2011, tingkat pendapatan per kapita Indonesia adalah sekitar US$ 4,700 (PPP); sementara Malaysia, Brazil, dan Arab Saudi adalah sekitar US$ 15,600, US$ 11,400, dan US$ 24,000; adapun angka tingkat pengangguran untuk Arab Saudi hanya berlaku untuk warga negara laki-laki (CIA World Fact Book, 2011).

[2] Diambil dari paparan Menteri Koperasi dan UKM, Syarifuddin Hasan. (2011). Pemantapan Rencana Implementasi Percepatan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM. Jakarta, Indonesia.

 

Tulisan ini pernah dimuat di www.fair-institute.org  

Advertisements
Categories: Dalam Pembangunan | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: