Terima kasih untuk Suara Hati Dewa

Suatu waktu saya pernah bertanya kepada seorang sahabat yang tengah terindikasi terkena penyakit kanker, pada saat itu ia masih harus mengikuti beberapa tes selanjutnya, untuk memastikan apakah ditubuhnya ada kanker atau tidak. Tetap saja ya, menanti keputusan seperti itu tentunya cukup mengerikan. Sebagai seorang teman saja, saya merasa kesal. Mengapa harus teman baikku yang diberi cobaan ini? Dia seorang pribadi yang sangat baik, aktif berjuang pula dalam usaha mensejahterakan petani Indonesia. Mengapa bukan koruptor saja yang diberi kanker? Mengapa bukan para mafia kasus? Intinya, saya kesal mendengar berita bahwa teman baik saya mengidap suatu penyakit yang mungkin berkembang menjadi kanker. Namun karena kami teman dekat, tak mampu rasanya hati ini menahan hingga saya pun bertanya padanya, “loe,,, marah ga sama Tuhan?”. Dengan sinar mata teduh namun ceria dan raut bibirnya yang tersenyum tipis, ia menjawab, “Gue tu  ngasi nasihat, ngingetin, atau marah, hanya ke orang-orang yang gue sayang, karena gue ga mau mereka salah ambil jalan. Itu kan sifat Tuhan yang ada di diri kita, jadi gw bersyukur lah, gw dikasi penyakit beginian buat ngingetin gw, supaya gw bisa lebih siap-siap, yang berarti Tuhan sayang,,,”.  Saat itu mata saya terasa sedikit panas mendengar ucapannya, namun hati menolak untuk menangis. Saya putuskan untuk membalas senyum teman saja itu, sambil berkata “hebat, loe”. Dia pun sontak membalas, “iyalah, gueee”. Hahaha, kami pun lantas tertawa bersama.. Bagi saya malam itu ibarat espresso, pahit, tapi entah kenapa, nikmat aja. 

Selang beberapa bulan, saya kemudian dikenalkan dengan sosok Dewantara Soepardi. Terima kasih kepada mahasiswa yang telah berbagi kepada saya tentang sosok Dewa (terima kasih ya, Gita dan Achlam!). Adapun Dewa adalah seorang bocah 9 tahun, yang lahir pada 21 Maret 2003 dalam kondisi prematur dan kemudian didiagnosis mengalami kerusakan otak yang cukup langka, yaitu celebral parsy tipe quadriplegia, yang membuatnya tidak mampu beraktivitas secara fisik atau motorik seperti anak sebayanya. Untuk berkomunikasi  ia dibantu ibunya sebagai penterjemah dari alat yang digunakan Dewa yang bernama facilitated communication. Namun dibalik keterbatasan fisik dan motoriknya, Tuhan memberikan keajaiban lain pada Dewa. Dewa dianugrahi kemampuan ingatan fotografik, kemampuan yang mampu membuatnya mengingat benda, gambar atau tulisan secara sangat cepat dan dengan akurasi tinggi. Kemampuan yang mampu membuatnya menghabiskan 24 buku tiap bulan. Mungkin banyaknya bacaan itu yang buat perbendaharaan kata Dewa tergolong sangat luas untuk seorang bocah berusia 5 tahun!

Dan kelebihan lainnya adalah Dewa mampu menuangkan isi hati dan pikirannya ke dalam sebuah puisi yang sebagian telah dituangkan ke dalam buku “Suara Hati Dewa” yang terbit sejak 2009 lalu. Luar biasa! Buku itulah, yang ditunjukkan mahasiswa kepada saya, yang langsung mengingatkan saya kembali pada kisah teman saya yang mungkin mengidap kanker itu. Mengapa? Karena keduanya mengalami suatu penyakit yang dipandang masyarakat umum sebagai penyakit mengerikan, sementara diri mereka sendiri telah menerima dan memandang penyakit tersebut sebagai hal yang tidak mengerikan sama sekali. Bahkan, sebagai salah satu bentuk kasih sayang Tuhan.

Ibu Nining I Soesilo suatu hari pernah menasihati saya, suatu nasihat yang cukup lama baru saya bisa rajut dan pahami. Beliau mengatakan, “Nasihat Tuhan itu banyak tersirat dari hukum alam, dari ilmu fisika. Contohnya, yang ada hanya indikator panas udara, ukurannya celcius. Kalaupun udara sangat dingin, bukan berarti ukurannya menjadi dingin udara. Mana ada ukuran dingin udara, adanya panas udara tapi derajat celcius-nya jadi minus aja. Sama halnya dengan ukuran sifat dasar Tuhan, yaitu sifat kasih sayang, ga ada itu rumusnya Tuhan punya sifat kebencian, Tuhan hanya menanamkan kasih sayang pada makhluknya. Jadi, kebencian yang ada di muka bumi ini juga bukan karena ada kebencian di diri manusia, melainkan karena minus kasih sayang”. Mungkin cara pandang itu yang membuat Ibu Nining menjadi sosok yang tidak bisa membenci orang, walaupun orang tersebut jelas-jelas sudah mengganggu beliau. Karena menurut beliau, orang yang memiliki benci dan melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, adalah orang yang sesungguhnya kurang kasih sayang. Bukannya membenci, yang ada terkadang beliau malah jadi merasa kasihan dengan para pembenci tersebut. Orang-orang pun lantas menjadi heran, mengapa Ibu Nining tidak marah dengan si A atau si B, melainkan malah mengasihasi mereka. Wajar, karena memang tidak banyak yang mengerti soal jalur pikir “minus kasih sayang” Bu Nining itu.

Mungkin sama dengan kasus teman saya dan Dewa. Dapat saja ada orang yang memandang penyakitnya sebagai wujud ketidakadilan Tuhan, mengapa cobaan seperti demikian harus terjadi pada orang seperti mereka? Orang-orang yang jelas-jelas baik? Kenapa Tuhan bukannya menghukum orang-orang lain yang memang jahat? Sehingga orang-orang tersebut pun bersedih, marah, dan bahkan mungkin, mengalami kegoyahan keyakinan terhadap Tuhan. Padahal mereka yang menderita penyakit tersebut, sudah bisa menerima dan bahkan bersyukur karena masih merasa disayangi oleh Tuhan. Teman saya bersyukur  karena diingatkan sehingga dia dapat lebih bersiap-siap memperbaiki diri; Dewa bersyukur bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi banyak orang, melalui karya-karya tulisnya yang penuh dengan energi kasih sayang itu. Teman saya dan Dewa tidak berakhir sebagai seorang pembenci, yang menurut teori Bu Nining, artinya mereka berdua sama sekali tidak kekurangan kasih sayang – shouldn’t we feel happy for them?! Bedanya, teman saya itu sudah dewasa, sementara Dewa baru 9 tahun bahkan baru 5 tahun ketika dia menulis buku pertamanya. Jadi  wajar jika kisah Dewa dipandang sebagai kisah istimewa. Oleh karena itu, tulisan ini khusus ditulis untuk Dewa, sebagai wujud salut dan terima kasih saya untuk Dewa. Dewa suka menulis cerita dan  puisi, jadi berikut ada pula sepucuk puisi  untuk Dewa. (DM)

Impianku untuk Dewa

Dear Dewa, rasaku kamu adalah makhluk termuda paling dewasa yang pernah aku tahu

Naif puisimu kabarkan aku kejujuranmu

Indah untaian kata-katamu rasakan aku luas cintamu  

Lugas gelisahmu sadarkan aku akan pedulimu

Dear Dewa, aku ingin mengabarkan,

Bahwa malam ini aku temukan beberapa  impian baru  

Aku ingin Dewa selalu merasa disayangi dan selalu menyayangi

Aku ingin Dewa terus menulis dan menginspirasi lebih banyak orang lagi

Aku ingin Dewa bahagia

Dan mimpi-mimpi ini pun aku tulis, untuk Tuhan baca

Kalau sudah dibaca Tuhan, impian juga akan jadi nyata.

Betul kan ya, Dewa?  

Dear Dewa, terima kasih ya,,

Terima kasih atas  tawamu, terima kasih atas ceritamu

Terima kasih atas kesejukan yang kamu bawa untuk dunia 

 

Sumber:  disini dan blog dewa disini

 

PS:

Berikut beberapa cerita yang diambil dari blog Dewa:

Jagalah Kesehatan

Sakit itu ga enak
Sakit itu muntah muntah
Tasku penuh baju
Baju ganti
Cariin obat bu ..biar aku sehat
Ibu adalah obatku
Obat paling jitu
Daripada pakai infus tak bisa tidur nyenyak
Lebih baik pakai doa
Daripada bayar mahal
Lebih baik beramal
Daripada bosen di kasur
Lebih baik jerit jerit di Mall sama paman Gerry
Daripada sakit mendingan sehat
Itu artinya jagalah kesehatan

 

Aku Dewa Aku juga penggemar Om Andy

Untaian doaku di dengar Tuhan. Aku dipanggil Kick Andy. Ini mimpi dan ini nyata. Cari satu satu mimpi, dirubah jadi impian,tuliskan untuk Tuhan baca,kalau sudah dibaca impian juga jadi nyata. Di antara semua tayangan TV, ini favoritku. Kecuali saingannya konser musik,aku pilih konser, nanti aku buka lagi kalo iklan. Dari om Andy aku bisa rasakan hati mereka. Rasanya baru untukku. Kalau gak salah namanya terharu. Daripada aku bakal nangis terharu, lebih baik aku berdoa. Aku mau ketemu om andy dan aku masukkan dalam untaian mimpiku. Aku bacakan tiap malam sampai aku tidur. Aku juga nulis surat buat Tuhan. Aku ketemu om andy akhirnya. Terima Kasih Tuhan. Aku bahagia sampai aku tidak mau tidur malam itu. Di studio aku teriak teriak. Aku gak sabar tunggu giliranku. Semua tante-tante Metro TV panik. Akupun dibawa ke ruang tunggu. Cari sensasi yah aku ini. Cuma gak ada yang ngerti. Dari berangkat samapai nunggu giliran kok aku diacuhkan. 
Ini ceritaku, aku sudah tunggu tunggu ibu suruh aku tulis. Susah yah jadi aku, semua harus tergantung ibu. Aku bisanya cuma tunjuk tunjuk di papanku. Jangan salah tunjuk huruf, ntar kacau jadinya. Aku Dewa , aku juga penggemar om Andy

Advertisements
Categories: Koridor Inspirasi | 11 Comments

Post navigation

11 thoughts on “Terima kasih untuk Suara Hati Dewa

  1. Super McAwesomePants

    Mungkin saya aja yang terlalu sinis (atau masih terlalu bocah untuk mengerti apa2 tentang hidup) tapi menurut saya pola pikir “oh hidup sengsara itu berkat, puji tuhan haleluya!” itu bullshit. Tapi di saat yang bersamaan menurut saya dunia juga masih perlu diyakinkan bahwa yang namanya harapan dan inspirasi itu selalu ada. Kalau kita punya semacam kekurangan atau kecacatan (pardon the language), menurut saya itu bukan hal yg patut disyukuri per se! let’s face it, it’s supposed to suck! Tapi bukan berarti kita harus selalu kesel sama dunia dan selamanya meratapi betapa sengsaranya hidup ini, soalnya itu juga ga akan membuahkan apa-apa. Sepertinya penting bagi orang untuk ingat bahwa marah itu nggak apa-apa, sedih itu nggak apa-apa tapi kalau kita harus ngerasa begitu pasti akan bagus kalo kita menyalurkan amarah itu ke sesuatu, semacam karya atau bentuk ekspresi apalah karena dari pengalaman saya sendiri, dengan melakukan itu saya akan sadar bahwa rasa kesel dan marah atau sedih itu sebenarnya cuma muncul sementara, pasti lama-lama juga akan hilang dan pada akhirnya kita semua (hampir semuanya) sebenarnya udah senang masih bisa hidup sehari lagi.

    Nggak tau sih, tapi itu yang saya tangkap, terima kasih atas tulisannya!

  2. GANDAHARTA

    menanggapi coment di atas, saya suka dengan semangat anda, percaya dengan harapan kemudian menjadi inspirasi itu sangat baik agar hidup tetap positif,. cuma apakah anda tidak melihat puisi2 dewa itu sebagai sebuah harapan baginya dan menjadi inspirasi untuk kita?.. ini bukan masalah penyakit atau kekurangan, ini masalah kasih sayang Tuhan terhadap umatnya dan cara bersyukur kepada Tuhan… dan saya yakin mereka adalah orang2 yang percaya dengan adanya kiamat dan kehidupan setelah mati (kehidupan yang sebenar2nya).. anda percaya kiamat??… tentulah mereka adalah org2 yang berfikir hidup didunia ini tak semata2 untuk di dunia ini, mereka sedang mempersiapkan bekal mereka untuk kehidupan setelah mati,.. jadi menurut saya tulisan diatas adalah sebuah gambaran hubungan kasih sayang antara Tuhan dan umatnya yang menginspirasikan kita.. jika anda merasa menjadi sengsara itu payah dan bukan hal yg patut di syukuri, maka bersyukurlah anda pada Tuhan jika sekarang anda tidak sengsara hidupnya, jangan lantas di waktu sengsara kita menyalahkan Tuhan, apalagi mengfonis Tuhan itu tidak adil, ITU SALAH BESAR!.. saya menyimpulkan bahwa orang2 di atas adalah yg berprinsip kesabaran, ketulusan dan ke ikhlasan akan dapat meredam segala bentuk emosi yang lain seperti marah, sedih, dll… 🙂 salam

  3. anon

    Sekedar berkomentar, no offense untuk siapapun.

    Kata tante saya yang seorang terapis anak-anak berkebutuhan khusus, cerebral palsy tipe quadriplegia itu udah tingkat parah banget, merusak otak kanan dan otak kiri, sehingga pasiennya lumpuh dan kebanyakan gak bisa ngapa-ngapain. Jangankan untuk bikin tulisan, untuk gerakkin tangan aja gak bisa. Berdasarkan fakta ini, Dewa merupakan kasus langka. Bagaimana Dewa bisa menjadi sehebat itu pastinya ada kontribusi dari orangtuanya. Orangtuanya yang mendukung Dewa, melakukan segala cara untuk membantu tumbuh kembang Dewa. Banyak (kata tante saya lagi) orangtua yang anak-anaknya divonis cerebral palsy langsung pasrah, menganggap ini cobaan Tuhan, gak melakukan apa-apa karena mungkin terlihat tidak banyak yang bisa dilakukan. Orangtua Dewa mungkin awalnya begitu juga. Mungkin awalnya sedih, because seeing your own child unable to do things is supposed to suck. Mungkin awalnya marah, kecewa, atau segala jenis perasaan yang mungkin kita semua gak tau karena gak pernah merasakan langsung. Tapi menurut saya pribadi, jahat banget kalo ketika orangtua Dewa dan orang-orang lain yang sudah berada pada kondisi bisa menerima keadaan yang ada dibilang bullshit, simply because for normal people keadaan seperti itu sucks. Poin saya adalah, bentuk ekspresi kemarahan dan kesedihan satu orang dengan orang lain berbeda. Ada yang sedih berkepanjangan, ada yang menerima dan kemudian bangkit perlahan. Just because you have different ways of coping with those feelings with them, doesn’t mean you can call them bullshit or anything. Bagaimanapun people are just people, like you.

    Terimakasih atas tulisannya. Sekali lagi, no offense.

  4. Minion

    hai. saya juga sudah membaca buku ini. selayaknya sebuah buku baru (diatara tumbukan buku lainnya siap dibaca) tanpa ekspektasi berlebihan saya membaca buku ini. ternyata saya menangis sejak halaman pertama.entah karena apa, mungkin tentang besar penerimaannya atas kondisinya yang terus disyukurinya.
    mungkin juga perasaan iri bahwa kenyataan kemampuan saya bersyukur tidak sehebat dia.
    atau kondisinya yang sedemikian diterima sejak hari kelahirannya menjadikan dia terus beradaptasi dan terus berkonsetrasi terhadap mengembangan diri kearah postive yang dilakukan terus menerus didukung oleh lingkungan yang baik.
    sebagai seorang manusia yang pernah sehat lalu dinyatakan sakit cukup menyita waktu untuk berbagai terapi, perasaan naik turun pernah begitu membuat kondisi saya berantakan.. jelas saya paham sekali tentang keterbatasan yang harus diterima secara utuh tanpa banyak keluh.

    kemampuan saya berfikir dan mengolah informasi justru membuat saya banyak sedih waktu itu. saya pernah begitu marah dan sedih. saya menyesali tentang banyak waktu yang terbuang karena marah dan sedih berkepanjangan dan mengusai saya. seandainya saya memiliki kemapuan sebesar Dewa dalam menyikapi kondisi yang tidak menyenangkan, mungkin saya sudah meraih ‘kondisi lebih baik” lebih cepat lagi.
    sekarang saya dengan penuh keyakinan dapat berkata “ini tentang bagaimana kita berfikir. tentang seberapa besar kita bersyukur, tentang fokus terhadap hasil-hasil positive”
    pada kami yang tentu saja memiliki keterbatasan tertentu jelas ini sangat mengganggu.
    saya adalah manusia aktif, dulu.. tapi sekarang keseharian saya harus lebih mengatur waktu istirahat dan ‘bekerja’ segala sesuatu selain beristirahat saya anggap sebagai sebuah kegiatan bersenang-senang.

    saya bersyukur. kesehatan saya yang tidak sama dengan kebanyakan orang justru membuat saya lebih banyak berfikir hal-hal baik. menikmati setiap detik yang tentu saja lebih banyak disyukuri dan berbuat baik.
    keterbatasan saya ini baik. perasaaan kecil membuat saya begitu menyadari tentang keberadaan Tuhan Maha Besar., saya mensyukri setiap hal-hal kecil. saya menjadi lebih menghragai orang-orang disekitar saya memiliki lebih banyak cara untuk mengekspresikan perasaan sayang saya. membuat saya lebih banyak berfikir “apa yang telah saya berikan” tidak selalu tentang “apa yang telah saya dapatkan” keterbatasan saya baik.. saya menyadari saya lebih kuat lebih lapang daripada saya ketika sehat. 🙂

    terimakasih dewa, telah membuat saya ingin terus bersyukur. saya malu. kamu begitu muda telah begitu luar biasa. terimakasih telah terus menyemangati dengan puisi2mu. terimakasih kasih Dewa, teruslah berkarya dan menginsiprasi 😀

  5. Tinceu

    Buat saya Dewa menjadi sosok yg bisa lebih menunjukkan kepada kita sebagai manusia “normal” bahwa kita memiliki peran masing-masing di dunia ini. Peran Dewa sebagai seorang anak yg terkena celebral parsy ditambah dengan kemampuan fotografik memori serta tulisannya yang membuat bulu kuduk kita berdiri merupakan sebuah petunjuk dari Tuhan agar manusia bisa lebih berfikir dan bersyukur. Sangat wajar apabila kita melihat hal tersebut (teman baik yg terdiagnosis menderita kanker serta dewa) sebagai bentuk dari ketidakadilan dari Tuhan, karena manusia belum bisa melihat sekenerio Tuhan secara bulat penuh. Dengan keyakinan bahwa ada kehidupan setelah di dunia ini, dan percaya bahwa Tuha Maha Adil, maka diharapkan manusia dapat bersikap lebih bijaksana. Tuhan memberikan banyak sekali petunjuk bagi umat manusia dlm menjalankan kehidupan, dari hal yg paling sederhana sampai hal yg rumit sekalipun, semua petunjuknya ada di alam semesta ini. Tinggal bagaimana kita sebagai manusia menangkap petunjuk2 yg telah Tuhan berikan secara cuma2 tersebut, manusia hanya tinggal berfikir. Saya yakin dewa dan teman yg terdiagnosis kanker itu merupakan petunjuk dari Tuhan untuk kita yg ada di sekitar mereka. Disini, kita sebagai manusia, diharapkan dapat menyadari bahwa dalam hidup ada yg disebut dengan keseimbangan alam, kita tidak hidup secara individu, hal yang satu pasti terkait dng hal yang lain. Ada sebuat cerita, waktu kecil dulu hitler pernah ditolong oleh seorang yahudi, hitler kecil selamat dari kereta yg akan menabraknya. Ketika hitler dewasa, dia menjadi pembantai kaum yahudi. Apakah apabila hitler tidak ditolong oleh yahudi itu dia akan tewas dan tidak akan terjadi pembantaian terhadap kaum yahudi? Kita tidak pernah tau, sama halnya dengan “bagaimana apabila koruptor2 itu yg terdiagnosis menderita kanker, atau anak koruptor menderita celebral parsy?” hanya tuhan sebagai pencipta alam semesta ini yg tau.

    Terima kasih banyak atas ceritanya, pelajaran baru buat saya 😀

  6. Super McAwesomePants

    I’m not saying I know the first thing about life, believe me, if anything I’m full of teenage angst and that might explain my cynicism. So I apologise if I come across as such.

    Terima kasih saudara Gandaharta, iya saya harus mengakui bahwa memang banyak orang yg menggunakan ide afterlife sebagai sumber reassurance dan saya tidak berhak mengklaim bahwa untuk memercayai akan hal tersebut itu tidak masuk akal. Tapi pendapat saya tidak berubah, if you believe in suffering being some kind of investment for heaven then good for you, I wish I had that but I don’t. I believe that life is for the living, there is no point to it, there is no ultimate goal so I think it sucks that the only life we are given in this world (yes the phrase implies that we were given life, I don’t know where life begins so I don’t dare argue on that) should be spent in agony. I don’t believe in that kind of optimism, optimism is good but there is a point where it reaches denial. I find it sad that people end up there and it’s absurd that people end up lauding denial..

    Anon, please pardon my choice of words for they are somewhat ambiguous. I think that state of mind is bullshit because I equate it as denial. I don’t truly believe that people accept their conditions. And I think there is far too much judgment put upon people who feel that they don’t deserve their miserable state. You know, if a person loses the ability to hear and they hate that, they should be able to. I know I would and there will come a time when I get too tired of hating it and that’s what I think actually happens to people. It’s bullshit to say it’s amazing to be miserable but it’s also pointless to moan endlessly. But again, if that floats your boat then good on you!

    Yes, I agree that people have different ways of coping with their terrible lives but I have as much right to call it bullshit as you have to call my calling it bullshit, bullshit. That’s the wonderful and awful thing about democracy. You can call me mean or cruel because it’s your right to say that, maybe that’s exactly what I am but at least I have the decency to admit it.

  7. GANDAHARTA

    sudah jelas sekarang anda (Super McAwesomePants) adalah orang yang yakin dengan pemikiran anda sendiri, saya sangat menghargai konsep pemikiran dan prinsip anda, berfikir bahwa hidup hanyalah di dunia ini saja, dan berfikir bahwa bencana dan musibah bukan lah hal yang patut disyukuri. saya hargai itu sebagai pendapat… tapi ingat lah kita (manusia) penuh keterbatasan, semua panca indra kita terbatas, mata hanya bisa melihat tapi tak dapat mendengar, telinga bisa mendengar tapi tak dapat bicara, begitu pun otak kita dalam berfikir, tidak semua hal dapat kita pikirkan dan membuatnya jadi logis, banyak yg tak logis, untuk itu kita di berikan naluri dan perasaan, untuk melihat dan merasakan apa yang tak dapat dilihat oleh mata kita dan tak dapat dirasakan oleh kulit atau lidah kita… pernahkah anda berfikir mimpi dikala anda tidur lelap, darimana datangnya itu?.. bagaimana anak bayi yg baru lahir langsung dapat menghisap asi ibunya? siapa yang mengajari bayi itu?… lihatlah alam semesta lebih luas dikala malam, dapatkah mata dan otak kita menghitung berapa banyak jumlah bintang diatas sana.. dapatkah kita merasakan belaian lebut dari tangan tuhan, dapatkah kita mendengar kata2 tuhan?… panca indra kita terlalu lemah dan terbatas untuk itu,. untuk itu kita perlu naluri dan perasaan kita untuk melihat itu semua, karna naluri dan perasaan kita itu bisa merasakan apa yg tidak kita lihat,.. jika semua org sependapat dengan anda saya takut semua orang tua tidak akan merawat dan membesarkan anak kandungnya dengan baik, apa bedanya merawat bayi dengan orang yg sedang sakit?? sama – sama repot dan melelahkan, bahkan butuh waktu bertahun-tahun mendidik, mengasuh, membesarkan, menafkahi anak kita,. tapi kenapa setiap orang tua dapat dengan ikhlas nya merawat dan mengurus anaknya yang masih bayi atau sakit itu??…
    begitupun bayi atau anak yang sedang sakit itu, apa mereka pernah ingin untuk dilahirkan? atau apakah mereka ingin untuk sakit?? disini perasaan dan naluri seorang manusia bekerja, bahkan ketika melihat anak itu kesakitan atau menangis, sang orang tua ini ikut mengis seakan ikut merasakan sakitnya anak itu, apa hal semacam ini dapat kita pikirkan hanya dengan pikiran kita saja?
    yang sakit orang lain kok kita ikutan nagis?? kenapa itu bisa terjadi…
    apakah orang-orang di aceh sangat berharap datangnya sunami? dapatkah kita membatalkan datangnya sunami itu??
    disini kita sedang diajarkan bersyukur dan melihat kebesaran Tuhan,.
    apa yang yang kita sebut sebagai musibah atau bencana??? dan apa yang kite sebut sebagai anugrah??? semua hal yang datang dikehidupan kita bisa menjadi musibah atau anugrah buat hidup kita, tergantung bagaimana melihat dan menyikapinya,. ada seseorang di beri kemudahan untuk menjadi pejabat (penguasa) lantas setelah menjadi penguasa mereka lalai, hanya memikirkan hartanya sendiri dan menyalahgunakan kedudukannya kemudian merugikan banyak orang, dan membuat orang yang dirugikan marah dan berbuat tak senonoh hingga membunuh orang tersebut, apakah kekuasaan dan kedudukan yang datang pada org itu dapat kita sebut anugrah?? anugrah pun dapat berubah jadi musibah… begitupun musibah, begitu banyak manusia yang menjadi manusia yang lebih baik dan kuat (iman dan pikirannya) setelah musibah datang padanya… misibah pun dapat berubah jadi anugrah,..
    cobalah kita menjadi manusia yang lebih sensitif terhadap apa2 yang terjadi di sekitar kita, mungkin itu petunjuk, dan jangan paksa mata kita untuk mendengar, jangan paksa mulut kita melihat, ingat akan keterbatasan kita sebagai manusia.. gunakan naluri dan perasaan kita untuk memperkuat sisi kemanusiaan kita, kita tidak bisa hidup sendirian, butuh orang lain untuk membuat hidup ini menjadi lebih berarti,.. dan jangan paksa otak kita untuk berfikir hal2 yang diluar kemampuannya, karna terlalu banyak hal yang tidak dapat manusia pikirikan tapi kita hanya cukup percaya…
    contoh kasus: kita ditanya seseorang, apakah anda percaya jika sebuah pedang tajam memutuskan leher anda maka anda akan mati?? apakah kita akan mengambil sebuah pedang lalu memutuskan leher kita sendiri, oh ternyata mati, roh kita yang akan menjawab: baiklah saya percaya, buktinya saya mati. dan org yang bertaya itu akan melihat jasad kita sabil berkata dalam hatinya, bahwa orang yg saya tanya ini mungkin orang strees atau orang yang aneh…
    tapi jika anda menjawab: yes saya percaya jika leher saya putus saya akan mati.
    lalu dari mana kita mendapatkan keyakinan itu? tentulah dari film, berita, kata orang, atau kita melihat sendiri kejadian itu pada orang lain…
    apa artinya ini? ini membuktikan ada hal2 yang cukup kita yakini tanpa harus kita pikirkan atau kita buktikan sendiri… dan keyakinan itu ada kadar2nya tergantung sejauh apa kita belajar mengenai hal2 tersebut,, kadar keyakinan setiap orang akan berbeda2 tentang jika putus lehernya akan mati, yang hanya dengar dari kata orang akan berbeda keyakinannya dengan orang yang pernah melihat langsung kejadian itu… tapi hanya orang2 tertentulah yang akan dapat melihat kejadian itu langsung didepan matanya..
    disetiap agama pasti punya kitap atau apapun yang dapat kita mengajarkan tentang ketuhanan dan kemanusiaan pelajarilah supaya kita bisa yakin akan hal2 yang tak dapat kita lihat atau tak logis itu, semakin kita tau, semakin kita percaya dan akhirnya menjadi keyakinan… ada sejarah2 yang sudah terbukti keakuratan nya yang bisa membuat kita lebih yakin.. tapi disetiap agama hanya org2 pilihan lah yang dapat bertemu langsung dengan Tuhan nya, kita bisa membayangkan betapa kuatnya keyakinan seseorang jika telah dimuliakan dapat bertemu dengan Tuhannya langsung… tentulah dia akan menjadi Nabi disetiap agamanya..
    saya hanya khawatir jika kegelisahan seperti anda ini dapat memperbanyak kasus bunuh diri, karna berfikir setiap musibah hanyalah membawa kita pada kehancuran, jadi biat apa hidup dalam musibah mendingan mati aja… saya rasa ada yang perlu kita perhatikan lagi, cara kita melihat musibah itu, dengan ke ikhlasan kita menerima sebuah musibah, dan penuh keyakinan untuk bangkit perlahan, maka kita dapat merubah musibah itu menjadi sebuah anugrah, hanya Tuhan yang sedang menguji ke imanan umatnya….
    masalah hidup setelah mati saya percayakan keyakinan itu sepenuhnya kepada anda.. tak ada masalah apapun jika anda tak percaya…
    terus belajar lah tentang apa2 soal hidup dan mati, maka pengetahuan itu akan menghapus segala kegelisahan kita….

    🙂 salam

  8. Super McAwesomePants

    Punten saudara GANDAHARTA, tapi saya ingin tahu dari mana anda bisa menarik kesimpulan bahwa saya adalah orang yang begitu tidak berperasaan. Yang saya utarakan hanyalah bahwa orang-orang *tidak harus* menerima dan mengikhlaskan keadaan hidup masing-masing dan pemikiran bahwa hal tersebut harus dilakukan itu tidak adil. Bisakah anda bayangkan beban emosional yang didera seseorang jika ada orang lain yang mengatakan bahwa rasa tidak berterimakasihnya itu adalah sesuatu yang salah? Pernah nggak anda mengalami suatu kejadian yang sangat tidak mengenakkan lalu ada manusia ucruk2 datang dan bilang “setidaknya lo masih idup”? Itu hiburan macam apa?

    Saya tidak pernah bilang kalau kita mengalami kesulitan, kita harus langsung menyerah saja. Saya cuma bilang kalau mindset positif yang dipromosikan orang itu bukan suatu necessity dan bahkan sebenarnya bullshit. Anda pernah baca buku Half Empty karya David Rakoff? Inti dari buku itu adalah mindset optimis atau pesimis sebenarnya tidak berpengaruh. If anything, orang-orang yang pesimis cenderung lebih produktif daripada orang-orang yang optimis. Jadi menurut saya, please, be angry, be sad, curse the skies karena hal-hal tersebut bisa menjadi inspirasi yang begitu indah. That was my point.

    Saya nggak mau komentar perihal “hal-hal yang hanya dapat dirasakan” ya, karena itu sudah off-topic dan saya nggak enak sama yang nulis artikelnya. Tapi kalau boleh, saya ingin mengatakan bahwa analogi leher putus itu kurang mengena. Pertama, pengamatan baik secara langsung atau tidak langsung adalah sumber pembuktian yang kredibel, exhibit a: animal testing (bukan berarti animal testing itu benar). And I hope you were kidding tapi film adalah tempat yang saaaaaangat buruk untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan. James Bond pernah menembak tank propane menggunakan handgun dan tanknya meledak, coba aja saudara tembak sendiri dengan tank yang sama, dengan pistol yang sama tapi saya bisa bilang bahwa tank itu tidak akan meledak karena kulit tanknya akan terlalu tebal untuk ditembus peluru pistol tersebut. Kedua, they will most certainly die! I’m not a doctor but the throat is an essential part of respiration, no breathe: no live. That or they will die from blood loss karena banyak nadi yang ada di leher. If anyone, ANYONE, thinks that they need to first slit their throats before being able to conclude with 100% confidence that they will die then quite frankly they probably deserve to die..

    Ya, saya akan belajar lebih banyak tentang hidup. Dan ini mungkin akan terdengar lantang karena saya tidak kenal anda dan anda tidak kenal saya tapi tolonglah, saudara GANDAHARTA, lakukanlah hal yang sama.

    • gandaharta

      Begini saudara Super McAwesomePants, saya tidak menyatakan anda tidak berperasaan, semua manuasia punya peraasaan, cuma kadarnya yg berbeda2,.. Saya cuma tidak sependapat dengan anda, cernalah lebih tenang apa yg saya tuliskan,.. Jangan terlalu menutup diri akan perbedaan dan berharap semua org harus berlaku sama dengan kita,. Sungguh perbedaan ini benar adanya, jadi yg saya inginkan adalah anda lebih menghargai apa yg menjadi keputusan dan pilihan org lain terhadap hidupnya, kalo org yg terkena musibah itu dapat ikhlas dan tetap tegar lalu tetap berfikir positif untuk masa depannya, maka beruntung lah dia masih diberi hidup, karna dia masih punya kesempatan untuk memperbaiki semua menjadi kembali baik, dan ini adalah golongan orang2 yg bersykur..
      Saya setuju marah itu boleh, sedih itu boleh, tapiii ada batasnya, karna jika emosi yg terlalu berlebihan hanya akan menambah masalah baru, bukan menjadi sebuah inspirasi bagi org lain atau diri kita sendiri,. Kesabaran dan ke ikhlasan ini lah yg dapat membatasi amarah,..
      Articel dia atas adalah sebuah inspirasi untuk kita semua, betapa musibah pun dapat disyukuri, dan dapat membuat seseorang menjadi pribadi yg lebih tegar dan baik.. Kenapa itu bisa terjadi, karna ada beberapa hal telat menyentuh hati dan pikiriran mereka, ini yg tak dapat ditangkap oleh nalar kita,.. Keikhlasan itu datang dari sebuah keyakinan, dari hati yg paling dalam, atau dari mana itu datangnya saya pun tak mengerti, tapi ini sangat menginspirasikan saya, apa yg mereka rasakan tentang ke ikhlasan, ketabahan, kesabaran tingkat tinggi, yg akan membawa mereka menjadi pribadi yg sangat baik..
      Dari kesimpulan yg anda berikan tentang buku yg anda baca, sangat baik sekali jika anda memahaminya lebih dalam, kenapa orang yg pesimis bisa lebih produktif?? Apa yg terjadi dengan mereka?? orang yg pesimis adalah org yg meragukan kemampuannya, tidak percaya diri, dan kurangnya pengetahuan,. tapi kenapa mereka lebih produktif?? Karena optimis itu berawal dari rasa pesimis itu sendiri, jika kita sudah yakin dengan kemampuan diri kita maka usaha yg akan kita lakukan akan lebih sedikit, jika percaya diri kita sudah tinggi maka persiapan kita akan lebih sedikit daripada orang yg tidak percaya diri, jika pengetahuan kita sudah banyak maka kita akan belajar lebih sedikit dibandingkan orang2 yg kurang pengetahuannya,. Maka lambat atau cepat org yg pesimis ini akan menjadi org yg optimis, itu lah proses untuk menjadi manusia yg lebih baik…
      Ada baiknya kita saling menjalin hubungan kemanusiaan dengan baik, perbedaan ini membuat kita dapat saling menghargai,..
      Saya tidak kenal anda, anda pun tidak kenal saya,..
      Saya hanya bisa mendoakan anda agar terjauh dari segala musibah didunia,.. 🙂 salam

      • Super McAwesomePants

        Saya tidak pernah mengharapkan anda atau siapapun untuk sependapat dengan saya, betapa membosankan dunia ini jika semua orang berpikiran sama! Kalau memang terdengar demikian maka saya minta maaf tapi dari awal saya hanya mengemukakan pendapat saya sendiri dan sekedar rephrasing karena sepertinya ada kesalahpahaman dan saya ingin meluruskannya dengan menjelaskan ulang maksud komentar awal saya itu apa. Satu-satunya hal yang saya ingin anda ubah adalah analogi leher putus karena kurang masuk akal dan menurut saya tidak begitu mendukung poin anda.

        Intinya adalah menurut saya optimisme itu bullshit, kalau menurut anda opini saya mengenai optimisme juga bullshit maka saya tidak akan menjudge anda atau memaksa kehendak anda. Tapi saya harap anda juga dapat memfasilitasi opini saya tadi. Jangan menyuapi saya akan ideologi akan ketuhanan yang sejujurnya tidak ingin saya dengar..

  9. Pingback: Kunci Kebahagiaan: make the best of everything | salamduajari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: