Month: June 2012

aku, nggak ngerti

maunya opo tho mas, aku nggak ngerti.. :’I
gambar dari: http://www.iwastesomuchtime.com
Advertisements

KICKSTARTER: Inovasi bagi kreator independen wujudkan Idenya!

salah satu proyek di Indonesia yang berhasil di biayai, kreatornya tapi masih orang asing sih

Kreatifitas memang tiada batasnya! Dulu, banyak anak muda dengan berbagai ide kreatif idealis kesulitan untuk mewujudkan kreatifitasnya. Mengingat sulitnya mencari sponsor yang mau menerima ide mereka secara seutuhnya atau apa adanya. Dengan kata lain, perlu kompromi yang luar biasa terhadap keinginan sponsor yang umumnya menginginkan adanya perubahan mendasar pada ide yang diajukan, sehingga kadang-kadang membuat para kreator merasa seakan disuruh pindah agama, sehingga akhirnya mengambil keputusan, mendingan ga usah dapet sponsor, deh. Proses mewujudkan ide kreatifnya pun jadi terhambat, tertunda, atau bahkan yang paling ekstrim, terkubur. Jadi, it is a problem.

Well, bagi yang pesimis problem is a problem, tapi bagi yang optimis, problem is a room for creativity! Tampaknya kreatifitas itu memang ada tahapannya. Pertama kreatifitas untuk melahirkan ide baru yang keren. Kedua, kreatifitas untuk menuangkan ide tersebut ke bentuk tulisan atau audio visual agar ide tersebut dapat diketahui dan dipahami oleh orang lain (membuat proposal ide). Ketiga, kreatifitas untuk mewujudkan ide tersebut. Nah, tahap yang ketiga ini sepertinya yang  paling problematik bagi para kreator. Namun syukurnya sekarang sudah ada ide kreatif untuk menyelesaikan masalah tersebut: www.kickstarter.com: a funding platform for creative project.

Continue reading “KICKSTARTER: Inovasi bagi kreator independen wujudkan Idenya!”

Kang Din: Pejuang Kesejahteraan Petani dari Salatiga

Kang Din, demikian pria berpenampilan sederhana ini biasa disapa. Pria kelahiran 9 Februari 1965 ini mungkin tak pernah menyangka ketulusannya mengabdi pada masyarakat suatu saat akan dilihat publik dan meraih penghargaan bergengsi seperti Maarif Awards 2012. Jika Romo Carolus berusaha mengangkat penduduk Kampung Laut Cilacap dari lembah kemiskinan, Kang Din telah 12 tahun berjuang memakmurkan kaum petani  di daerah Cilacap dan sekitarnya.

Terdorong karena kegelisahannya melihat kondisi para petani di sekitarnya, Kang Din kemudian membentuk kelompok tani. Pada tahun 1989, ia berpartisipasi dalam penelitian transformatif-pelatihan metodologi diprakarsai oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan berkenalan dengan berbagai tokoh seperti cendekiawan Moeslim Abdurrahman dan Masri Singarimbun. Continue reading “Kang Din: Pejuang Kesejahteraan Petani dari Salatiga”

Kancah Sinetron Indonesia di Negeri Jiran: “Indonesia tu dah macam Hollywood Asia Tenggara, lah!”

Sebagai orang yang pernah mencetak dan menjual kaos ANTI SINETRON, harus saya akui bahwa kini saya tengah berpikir kembali mengenai sinetron yang sempat saya anggap tidak berkualitas dan kurang mendidik. Khususnya ketika saya berkunjung ke desa-desa dan mendengar ibu-ibu yang berjualan di pasar seru sekali mendiskusikan episode terakhir suatu sinetron, dan betapa gemasnya mereka bahwa suatu karakter di sinetron tersebut tidak mengambil keputusan seperti yang mereka harapkan. Kesedihan tokoh sinetron seakan menjadi bagian dari kesedihan mereka. Dalam hati saya, “urusan pendidikan anak mereka dipikirkan seserius itu juga, ga, ya?”.

Anyway, pada akhirnya pasarlah yang menentukan. Sinetron adalah produk yang laris manis, dan ternyata tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negeri jiran seperti Singapura. Wajarlah jika industri sinetron terus berkembang biak. Haruskah kita khawatir? Saya yakin tidak semua sinetron mengajarkan hal-hal buruk, ada dinamika dan cerita mengenai dilemma di dalamnya, mungkin masyarakat bisa mengambil hikmah dari cara tokoh-tokoh tersebut mengatasi dilemanya? Atau paling tidak, sinetron tersebut berhasil menghibur hati banyak  orang. Hal tersebut tentu cukup bearti dan patut dihargai. Lagipula, apa yang para kritikus tajam sinetron sudah lakukan untuk masyarakat? Memang menghibur itu jauh lebih mudah daripada menghibur sambil mendidik orang lain. Saya pikir, tantangan saat ini adalah untuk menghasilkan lebih banyak sinetron yang menghibur dan mendidik sekaligus, khususnya dalam membangun karakter bangsa. Indonesia sudah membuktikan bahwa hal itu bisa dilakukan. Bukankah sudah pernah ada “Si Doel Anak Sekolahan” , atau, “Para Pencari Tuhan”? Kita hanya perlu lebih kreatif lagi, ya ga sih?  Continue reading “Kancah Sinetron Indonesia di Negeri Jiran: “Indonesia tu dah macam Hollywood Asia Tenggara, lah!””