Jonas Bendiksen: Menggarap Seni sebagai wujud Kritik Sosial lewat “The Place We Live”

Foto kiri dari google, foto kanan dari koleksi pribadi. Sekedar ingin menunjukkan penyajian pamerannya yang memposisikan audiens seakan di dalam ruangan

Terkadang kita bisa dikelilingi oleh suatu hal, atau bahkan sudah biasa melewati, melihat, atau mengetahui hal-hal tersebut secara langsung dalam sehari-hari kita, tetapi tetap saja kita tidak menyadari makna dari hal-hal tersebut. Terkadang untuk sadar akan suatu makna dibalik hal-hal yang tampak dipermukaan, kita harus benar-benar disuapi akan kenyataan yang pahit. Tapi masalahnya adalah, apakah kita siap menerima kenyataan? Saya tidak tahu apa yang Anda alami, tetapi makna dari sesuatu yang saat ini baru saya sadari adalah mungkin sebenarnya merupakan sesuatu yang sudah saya ketahui sejak dulu. Mungkin saya sudah pernah menatap mata itu, tatapan-tatapan mata yang muncul ketika menjalani kenyataan hidup setiap harinya. Hanya saja mungkin, saya sebenarnya belum siap untuk mendalami makna dibalik tatapan-tatapan itu, atau, tidak ingin repot mencaritahunya karena takut akan mendapatkan jawaban yang tidak ingin saya ketahui karena tidak menyenangkan. Mata manusia adalah organ tubuh yang luar biasa karena mata dapat dikelola untuk hanya melihat hal-hal yang ingin kita lihat. Seeing is believing, but do we dare to believe what we see?

Salah satu hal yang mengagumkan dari suatu karya seni adalah betapa mudah ia dapat diakses seseorang, bukan secara fisik tapi secara emosional. Ada yang mengatakan bahwa suatu gambar itu bernilai seribu kata dan terkadang memang lebih mudah untuk menangkap sebuah konsep ketika konsep tersebut disajikan dalam bentuk gambar dibanding sebuah esai yang berlembar-lembar panjangnya. Tetapi banyak yang berpendapat bahwa seni harus benar-benar terpisahkan dari nilai-nilai politik, sosial, atau nilai-nilai lain semacamnya; seolah jika Anda mengintegrasikan nilai-nilai tersebut dalam karya seni Anda, karya tersebut seakan ‘dimurahkan’. Walau pernyataan tersebut tidak salah, kita harus bertanya, lantas untuk apa kita berkarya? Life imitates art and art imitates life. Jika kita memiliki kemampuan untuk melihat kondisi dunia yang meresahkan dan juga memiliki kemampuan untuk menunjukkan apa yang kita lihat itu kepada masyarakat luas, mengapa karya seni tidak boleh menjadi sebuah wujud atau transformasi dari suatu kritik sosial? Bentuk karya semacam itulah yang digarap oleh Jonas Bendiksen.

Jonas Bendiksen adalah seorang fotografer jurnalis asal Norwegia yang karyanya sering menghiasi majalah-majalah seperti National Geographic, Paris Review dan Newsweek. Buku pertamanya, Satellites, menggambarkan kehidupan di daerah pinggiran negara-negara mantan Soviet. Tetapi pameran karyanya pada tahun 2009 lalu memiliki tema The Places We Live, yang mengangkat fenomena mendasar yang sangat dekat dengan kehidupan, suatu fenomena yang terjadi di sekitar tempat-tempat tinggal kita (the places we live): kemiskinan.

Dalam penggarapan karya tersebut, Bendiksen menjelajahi 20 rumah di beberapa daerah kumuh di empat kota di dunia. Ke empat kota tersebut adalah Nairobi (Kenya), Mumbai (India), Caracas (Venezuela), dan sedihnya, juga Jakarta (Indonesia). Ia ingin menyentil penduduk dunia, khususnya para penikmat karyanya, mengenai apa makna hidup yang sebenarnya untuk abad ini.  Dalam laman internet pamerannya, http://www.theplaceswelive.com, terpapar pernyataan Shilpiri, salah seorang warga di daerah kumuh Mumbai, “Jika kami memberitahukan orang-orang mengenai kondisi rumah kami, akankah ada yang percaya?”

Keistimewaan dari karya Bendiksen kali ini adalah penyajian foto-fotonya yang tidak disusun ke dalam bingkai-bingkai cantik, melainkan disajikan berupa proyeksi gambar pada dinding-dinding 4 sisi yang membentuk kamar-kamar untuk masing-masing kota: kamar Nairobi, Mumbai, Caracas, dan Jakarta. Selain melihat foto-foto yang mengelilingi dirinya, audiens pameran foto Bendiksen juga dapat mendengar suara-suara dari subjek-subjek pada foto-foto yang dipamerkan, yaitu suara mereka yang bercerita mengenai kondisi kehidupan mereka. Tiap kamar pameran menunjukkan tampilan 360° dari kondisi rumah yang menjadi subjek foto bendiksen. “Saya ingin menghasilkan sebuah pengalaman lebih, suatu ilusi seakan audiense sedang berdiri di dalam rumah-rumah itu, daripada hanya melihat hasil cetakan di dinding. Ini hanya sebuah eksperimen tapi menurut saya berhasil” kata Bendiksen. Tentu saja berhasil, it was a masterpiece! Bendiksen mendapatkan penghargaan Telenor International Culture Prize atas karyanya The Place We Live. Nobel Peace Center, salah satu tempat yang wajib dikunjungi ketika orang-orang berkunjung ke Oslo, pun turut memamerkan karyanya.

Okay, kembali ke cerita mengenai foto-foto di The Place We Live. Keadaan yang digambarkan oleh foto-foto dari kampung-kampung Jakarta harusnya bukan lagi hal yang begitu asing bagi mata kita. Ada yang menunjukkan sederet rumah-rumah kumuh “portable” yang berlokasi tidak lebih dari 2-3 meter dari rel kereta, siapa yang tidak pernah melihat pemandangan ini di Jakarta? Tetapi gambar-gambar ini tetap saja mengejutkan, kenapa? Salah satu teman saya pernah mengatakan, “I think we are so used to turning our cheeks every time we see these things, as if by ignoring them and refusing to accept their existence, they would really cease to exist.” Apa iya kita telah menjadi segerombol insan yang sudah begitu kebal terhadap berbagai macam kejadian, sehingga potret-potret sedemikian tidak lagi mempengaruhi ketenangan hati kita? (Tentunya saya tidak berani mengatas-namakan masyarakat secara keseluruhan).

Terkadang untuk menyadari makna sebenarnya dari sesuatu yang mungkin sudah terang-terangan ada dan biasa dihadapi, kita memerlukan sudut pandang baru, sepasang mata baru. Jonas Bendiksen, melalui karyanya, telah menghadirkan sudut pandang baru tersebut, suatu sudut pandang yang kita semua mungkin butuh sadari. Jika seorang asing saja dapat memaknai suatu penyakit yang jelas-jelas berjangkit di masyarakat kita sendiri, mengapa kita sendiri tidak dapat memaknainya? Di sisi lain,  mungkin memang masih banyak orang yang lingkungan kehidupannya begitu jauh dengan kondisi pada potret-potret kehidupan yang ditampilkan oleh Bendiksen, bahkan mungkin belum tahu bahwa kondisi kehidupan seperti itu, ada. Bagi kita, Bendiksen telah menjadi pengingat bahwa penyakit sosial yang Ia potretkan itu masih berlangsung di abad ini; tapi bagi mereka, Bendiksen mungkin menjadi pencerah menyebalkan yang menunjukkan mereka suatu kenyataan baru yang tidak menyenangkan.

Tujuan jurnalisme bukanlah untuk memberitahu masyarakat apa yang ingin mereka dengar, tujuan jurnalisme adalah memberi tahu masyarakat suatu informasi atau berita, terlepas dari apakah berita tersebut ingin diketahui oleh masyarakat atau tidak. Secara historis, seni telah menjadi bukti atau perwujudan dari suatu budaya, teknologi, dan nilai-nilai yang berlaku di suatu masyarakat, pada suatu tempat dan titik waktu tertentu. Berdasarkan catatan sejarahnya, masyarakat era renaisans diketahui sebagai masyarakat yang mementingkan ilmu pengetahuan oleh masyarakat era kita. Lantas, mengapa tidak mungkin masyarakat era kita nanti diketahui sebagai masyarakat yang peduli oleh masyarakat era masa depan? Yaitu masyarakat yang tidak takut untuk menatap dan memaknai masalah-masalah yang nyata tengah dihadapinya,  masyarakat yang tidak lari atau memalingkan wajah darinya, melainkan masyarakat yang bertindak untuk mencari dan bertindak untuk melaksanakan solusinya. (AG dan DM)

Referensi: disini dan disini

Advertisements
Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: