Nasihat dari Helen Keller

Potret Helen Keller, 1904 (dari wikipedia)

Helen Keller adalah seorang perempuan buta-tuli yang kisah hidupnya telah begitu menginspirasi dunia, termasuk saya, penduduknya. Mengapa? Kegigihannya untuk terus belajar dan berkarya, di tengah keterbatasan kondisi fisiknya, sungguh luar biasa.  Helen Keller merupakan seorang buta tuli pertama di dunia yang mengantongi gelar Bachelor of Art. Bukunya “The Story of My Life” berhasil meledak dan membuatnya sering  diundang menjadi “pembicara” di berbagai tempat dan Ia pun aktif menyuarakan dukungannya terhadap gerakan sosialisme, hak buruh, hak suara perempuan, dan gerakan-gerakan “kiri” lainnya di Amerika Serikat.  Dalam hidupnya Helen menulis sekitar 12 judul buku.

Bagian yang paling sering membuat saya tertegun sendiri adalah ketika membayangkan betapa sulitnya proses belajar Helen, dari mengenal huruf, mengidentifikasi benda, merajut dan mencerna informasi, sampai akhirnya bisa menuangkan pikirannya sendiri. Orang buta dengan mudah dapat disentuhkan dengan air, lalu disebutkan bahwa benda tersebut adalah air. Tapi kalau orang yang buta dan tuli? Bagaimana memberi tahunya bahwa itu adalah air? Khususnya di saat yang sama Helen pada saat itu belum mengenal huruf?  Ia menjadi buta dan tuli karena  terserang penyakit parah di usianya yang baru 19 bulan! Indra sentuh merupakan satu-satunya media bagi Helen belajar. Dengan pendampingan Anne Sullivan selama 49 tahun, Helen diajarkan untuk mengidentifikasi benda dengan cara penggoresan ejaan dari sebuah kata di telapak tangan setiap Helen diminta meraba suatu benda. Awalnya, goresan tersebut hanya semacam simbol bagi Helen. Benda pertama yang membuat Helen tersadar bahwa sebenarnya selama ini Anne mencoba mengajarkannya mengidentifikasi benda dengan kata, yang dapat dieja huruf demi huruf, adalah “W-A-T-E-R”.    

Saya sendiri pertama kali berkenalan dengan Helen Keller melalui Komik Topeng Kaca. Di komik itu, Maya Katajima – seorang gadis yang bercita-cita besar untuk menjadi aktris profesional –  selaku tokoh utama pada komik tersebut, diberi tantangan oleh gurunya untuk memerankan Helen Keller. Di situ Maya sangat ditantang untuk dapat berakting sempurna dengan hanya bermodalkan gestur tubuh dan teriakan vokal; karena sudah barang tentu tidak akan ada satu baris pun dialog yang perlu dihapalkan dan diucapkan oleh Maya dalam memerankan Helen. Untuk mendapatkan nuansa jiwa seorang yang buta dan tuli, Maya diceritakan mengurung diri di kamar gelap berhari-hari. Namun tentunya, dengan usaha kerasnya itu, Maya berhasil mencengangkan penonton atas aktingnya sebagai Hellen Keller. Waaaah, jadi nostalgia haha 🙂

Tulisan tangan Helen Keller.
Foto diambil dari http://www.flickr.com/photos/kt/5995447/ (by The Rocketeer)

Anyway, salah satu tema  obrolan after office hour hari ini adalah mengenai Helen Keller. Sebagai akademisi yang juga aktif dalam gerakan pemberdayaan masyarakat yang cukup menantang, kami perlu menyemangati diri sendiri setiap harinya. Salah satu caranya adalah melalui berbagi kutipan-kutipan menyejukkan dari para tokoh inspiratif Indonesia maupun dunia. Saat itu kami sedang berbincang-bincang tentang proses penciptaan suatu karya yang berkualitas. Karya foto misalnya, suatu foto yang bisa memiliki sukma yang begitu kuat dan, entahlah, seakan bisa bercerita dalam diamnya, adalah hasil kerja dari seorang fotografer yang memandang bahwa setiap elemen yang tertangkap dalam frame kameranya adalah penting. Tidak ada yang tidak penting. Oleh karena itu, semua elemen mendapatkan perhatian yang sama besarnya. Kemudian, karena semua elemen – sekecil atau sesederhana apa pun elemen itu – mendapatkan perhatian besar alias non-residual, foto yang dihasilkan pun memiliki kekuatan yang dapat merasuk ke lubuk hati ketika kita memandangnya. Sejenis foto yang seakan benar-benar menghentikan waktu, membuat kita tertegun sesaat. Ilham yang kami dapat malam itu adalah bahwa, untuk  menghasilkan karya berkualitas, apa pun bentuk karya itu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah memandang bahwa pekerjaan kita itu bernilai penting, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Sederhana atau sepele bagi orang lain? Terserah, yang penting, bagi kita pekerjaan tersebut adalah penting, besar, dan akan bermanfaat untuk kehidupan orang lain.

Hal tersebut kemudian menggiring diskusi kami kepada kutipan Helen Keller berikut, yang hari ini menjadi  nasihat menyejukkan untuk menjaga semangat kami. Terima kasih Bu Hilda sudah berbagi 🙂 Bagian paling menohok bagi saya dari kutipan Helen Keller ini adalah kata terakhirnya: jujur. (DM)

Sumber kisah Helen Keller disini dan disini; untuk cerita lebih detil mengenai proses Helen mengerti mengeja kata pertamanya bisa dilihat disini

Advertisements
Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: