Kancah Sinetron Indonesia di Negeri Jiran: “Indonesia tu dah macam Hollywood Asia Tenggara, lah!”

Sebagai orang yang pernah mencetak dan menjual kaos ANTI SINETRON, harus saya akui bahwa kini saya tengah berpikir kembali mengenai sinetron yang sempat saya anggap tidak berkualitas dan kurang mendidik. Khususnya ketika saya berkunjung ke desa-desa dan mendengar ibu-ibu yang berjualan di pasar seru sekali mendiskusikan episode terakhir suatu sinetron, dan betapa gemasnya mereka bahwa suatu karakter di sinetron tersebut tidak mengambil keputusan seperti yang mereka harapkan. Kesedihan tokoh sinetron seakan menjadi bagian dari kesedihan mereka. Dalam hati saya, “urusan pendidikan anak mereka dipikirkan seserius itu juga, ga, ya?”.

Anyway, pada akhirnya pasarlah yang menentukan. Sinetron adalah produk yang laris manis, dan ternyata tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negeri jiran seperti Singapura. Wajarlah jika industri sinetron terus berkembang biak. Haruskah kita khawatir? Saya yakin tidak semua sinetron mengajarkan hal-hal buruk, ada dinamika dan cerita mengenai dilemma di dalamnya, mungkin masyarakat bisa mengambil hikmah dari cara tokoh-tokoh tersebut mengatasi dilemanya? Atau paling tidak, sinetron tersebut berhasil menghibur hati banyak  orang. Hal tersebut tentu cukup bearti dan patut dihargai. Lagipula, apa yang para kritikus tajam sinetron sudah lakukan untuk masyarakat? Memang menghibur itu jauh lebih mudah daripada menghibur sambil mendidik orang lain. Saya pikir, tantangan saat ini adalah untuk menghasilkan lebih banyak sinetron yang menghibur dan mendidik sekaligus, khususnya dalam membangun karakter bangsa. Indonesia sudah membuktikan bahwa hal itu bisa dilakukan. Bukankah sudah pernah ada “Si Doel Anak Sekolahan” , atau, “Para Pencari Tuhan”? Kita hanya perlu lebih kreatif lagi, ya ga sih? 

One thing leads to another. Terkadang kita tidak sadar betapa suatu momen tanpa disengaja menggiring dan mendukung peristiwa-peristiwa berikutnya. Sebagai contoh, kantor saya pernah disambangi (tanda mengundang khusus) oleh Hizbud Tahrir Indonesia, saat itu adalah pertama kalinya saya mengenal organisasi tersebut, bahkan namanya pun sebelumnya saya tidak pernah dengar. Selang dua hari, ada mahasiswa yang bercerita tentang skripsinya yang membahas ketatalembagaan di organisasi tersebut. Jadinya saya dapat berdiskusi dua arah dengan mahasiswa tersebut, Jika saja dua hari sebelumnya HTI tidak bersilaturahmi ke kantor kami, tentu waktu itu saya akan lebih seperti mendengarkan saja cerita mahasiswa tersebut, tidak dapat mengumpan balik dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Hal yang serupa terjadi untuk kasus yang jauh berbeda, yaitu balada Sinetron Indonesia. Untuk urusan pekerjaan tertentu saya perlu mencari tahu bagaimana eksistensi produk-produk Industri Kreatif Indonesia di negeri tetangga. Dari banyaknya cerita yang saya temukan, cerita ini adalah yang paling menarik dan ingin saya bagi. Disitu diceritakan bahwa Indonesia, bagi orang Singapura, sudah seperti Hollywood-nya Asia Tenggara, dari cerita orang-orang lain katanya hal yang sama terjadi juga di Malaysia. Adapun tulisan ini saya ambil dari blog just another fool. Kalau tidak ada urusan mengenai perkembangan Industri Kreatif, tentu saya tidak akan pernah membaca artikel di bawah ini, dan tidak akan ada posting ini. So, yup, one thing leads to another. Berikut tulisan lengkapnya.

Hollywood-nya Asia Tenggara ?

Indonesia tu dah macam Hollywoodnya Asia Tenggara, lah!” kata seorang warga Melayu Singapura yang taksinya saya tumpangi beberapa waktu silam dalam perjalanan ke kantor. Suara Ian Kasela dan kawan-kawan Radja nya mengalun keras dari cd player di dashboardnya, sementara di bawahnya bertumpuk CD-CD lagu Indonesia terbaru. Ketika tahu saya orang Indonesia, berceritalah dia tentang kesukaannya pada budaya populer Indonesia lengkap dengan logat ala Jakarte’ yang bikin saya menahan geli karena caranya menyelipkan “deh”, “dong”, “bangad (maksudnya banget)”, “gue” dan kata ‘gaul’ lain di sela-sela kalimatnya.

Kamu lihat dong gue punya CD!” katanya bersemangat. “Ni gue beli di Batam deh! Pokoknyah gue suka bangad sama artis-artis Indon, gitu dong..” Dia juga cerita betapa setiap Senin malam dia dan istrinya tak pernah melewatkan sinetron yang diputar ulang di stasiun televisi berbahasa melayu di Singapura, Suria. Hampir setiap malam pula ia menonton beragam sinetron di RCTI dan SCTV yang bisa ditangkap dengan jelas disini. “Artis-artis sinetron tu.. phuihhh.. Jambu punya, beb..” katanya sambil mengacungkan jempol ke saya melalui kaca spion. Penat rupanya dia berlogat Jakarte karena malah saya ladeni dengan logat Melayu. (Oya, “Jambu” itu istilah gaul anak-anak disini yang kurang lebih sama artinya dengan molek, sexy, cantik atau bahenol kata orang Betawi)

Si Abang Teksi ini bukan satu-satunya orang Melayu di Singapura yang menggemari budaya Indonesia. Beberapa kali saya mendengar anak-anak nongkrong di bawah blok rumah sedang asik gitaran membawakan lagu Raja, Peter Pan, Dewa, Ungu dan teman-temannya. Mereka bahkan sudah berhenti memanggil saya dengan panggilan Pak Cik begitu tahu saya orang Indonesia hehe. Lagu Indonesia juga sudah tidak asing di radio-radio Melayu disini seperti halnya sinetron Indonesia yang diputar di televisi berbahasa Melayu. Sinetron Hikmah yang dibintangi Tante Tamara Blezinsky adalah salah satunya yang tengah hits. Sebelumnya, banyak orang Singapura yang tergila-gila pada sinetron Dia. Bahkan ketika Ari Wibowo datang ke Singapura, 30 ribu orang hadir dalam sebuah acara jumpa fans di Plaza Singapura. Edun!

Situasi serupa juga terjadi di Malaysia. Farah Mahdzan, seorang blogger asal Malaysia bahkan bercerita di situs webnya bagaimana ia bisa mendapatkan proyek untuk mengerjakan subtitle Bahasa Melayu untuk sinetron Indonesia yang akan ditayangkan bagi pelanggan Astro di Malaysia. Malaysia memang dikenal ketat dalam aturan kebahasaan dan konsekuensinya, semua acara yang tidak menggunakan Bahasa Melayu harus dibuatkan subtitle agar masyarakat bisa memahaminya. Kapasitas Farah sendiri rasanya juga tak diragukan. Sejak umur 15 tahun, budak Petaling Jaya ini :)tertarik pada segala hal berbau Indonesia yang dituangkannya dalam situs webmyindo.com. Salut!

Salut juga karena makin banyaklah sinetron Indonesia masuk ke negeri jiran kita itu. Namun sebagai orang Indonesia haruskah kita berbangga atau sebaliknya?

Ya siapa sih yang tidak bangga dengan keberhasilan putra Indonesia di luar negaranya? Tapi ketika bicara sinetron Indonesia yang kini juga mulai digemari di luar negara, saya tak tahu harus berkata apa karena ini menyangkut selera. Sejauh ini yang saya amati, sinetron Indonesia yang beredar di luar negeri adalah yang model itu-itu saja. Yang saya maksud disini adalah jenis sinetron yang menjual absurditas, kemewahan berlebihan, kekasaran berbahasa dan bersikap terhadap sesama, bahkan sampai yang mengkomersialkan Tuhan dan Setan dengan cara yang menggelikan (untuk tidak menyebutnya menggelisahkan). Oya, tahukah anda bahwa ‘sinetron kuburan’ atau istilahnya Chaidir disebut setantron ala Indonesia itu kini diperjual belikan dalam cakram VCD dan konon kabarnya cukup laku keras di kalangan masyarakat Melayu di Singapura.

Nah, haruskah kita bangga dengan itu?

Tidak! Saya tidak bangga!!

Bagaimana dengan anda?

Lebih jauh lagi, banggakah anda ketika ada yang mengatakan Indonesia itu bak Hollywoodnya Asia Tenggara?

Saya tidak! Kenapa pula harus dibandingkan dengan Hollywood?

Bagaimana dengan anda?

(JAF)

Advertisements
Categories: Koridor Opini | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on “Kancah Sinetron Indonesia di Negeri Jiran: “Indonesia tu dah macam Hollywood Asia Tenggara, lah!”

  1. kamal

    postingan yang bagus. sy cukup bangga koq mas..

  2. ircham

    saya tidak menilai suatu hal itu dari satu sisi saja, jadi saya tetep bangga, karena apa? karena jika sinetron kita laris maka berarti pemain kita punya kualitas…setidaknya karena mereka mampu membawakan sebuah peran dalam drama meskipun jiplakan. ya….mungkin bisa dicoba orang2 melayu suruh meranin drama korea paling terkenal saja,,,dan lihat hasilnya apa akan keras lakunya?

  3. riri

    sayangnya sinetron yang di jual ke malaysia kebanyakan sinetron kurang berkualitas.sinetron yang berkualitas justru tak di jual ke sana sehingga membentuk imej yang kurang baik bagi industri hiburan kita.Sinetron kita di cap sampah dan tak punya moral value.jadi kalo menurut saya…..bangga banget sih engga ya cuman bersyukur aja lah sinetron kita bisa tayang di negara orang.

  4. abad ini

    jelek atau baik tetap pede dong..cina aja punya produk plastik kualitas terburuk masih pede kok, bahkan produk mereka sekarang merajai asia tenggara. kenapa tidak dengan sinetron indonesia? mungkin mereka menganggap sinetron indonesia kurang berkualitas tapi mereka kan juga punya kebutuhan akan hiburan, jadi manfaatkan peluang ini untuk meng-indonesia-kan malaysia dan singapura.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: