Kekayaan Bumi Menipis, Saatnya Menggali Luar Angkasa?

Space, the final frontier in which the future fortune lies.. Could it be real?

Ah, alam semesta adalah suatu hal yang begitu misterius. Begitu kita menyatakan bahwa kita mengetahui sedikit informasi mengenainya selalu saja kita dipermalukan oleh betapa lebih banyak hal yang tidak kita ketahui. Memang benar untuk mengatakan bahwa alam semesta adalah perbatasan terakhir bagi manusia yang menarik garis antara apa yang dapat kita capai dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki dan dengan apa yang bahkan tidak dapat kita bayangkan.

Namun manusia memiliki sifat yang selalu haus akan ilmu, kita akan terus bertanya dan bertanya hingga perbatasan tadi itu hilang. Ada yang berpendapat bahwa hal ini adalah suatu anugerah tapi sekaligus juga suatu kutukan. ‘Curiosity killed the cat’ kata mereka, tapi sejauh ini sepertinya kita baik-baik saja. Ada pula sifat manusia yang selalu haus akan kekayaan alam dan apalah itu yang mendasari pembenaran dibalik ekspedisi Eropa di jaman baheula yang berujung pada kolonisasi. Kini penjajahan tidak lagi dibolehkan (saya nggak mau main politik tapi *cough*US*cough*) dan lagi pula kebanyakan kekayaan alam yang tersedia di dunia juga semakin sedikit. Disinilah masuk peran para kaum intelek dunia –and their inner geeks yang telah mengumumkan akan rencana pengadaan penggalian di asteroid-asteroid untuk berbagai macam mineral seperti emas dan platinum.

Jika di kelas IPA anda memperhatikan saat guru anda menjelaskan tentang astronomi saat sekolah, tidak seperti saya, maka anda akan mengetahui bahwa asteroid-asteroid yang melayang di ruang angkasa sana mengandung senyawa kimia dari bahan bakar dan mineral-mineral yang menyerupai apa yang ditemukan di bumi. Masalahnya saat itu, dan harus diakui bahwa sekarang masalahnya masih sama, adalah tidak adanya teknologi dan pendanaan yang memadai untuk ekspedisi seperti ini. Hal tersebut dianggap terlalu kompleks dan mahal. Biaya yang diperlukan untuk membawa pulang 2 ons materi dari luar angkasa dapat mencapai USD 1 milyar. Tentunya itu adalah tantangan bagi dunia teknologi, karena banyaknya jumlah emas, platina, dan mineral lainnya di asteroid sangat menggiurkan untuk diacuhkan. Bayangkan, untuk sebuah asteroid yang berukuran relatif kecil  saja diperkirakan mengandung platina senilai USD 50 milyar!

Namun tetap, perjalanan menuju ke sana masih panjang, teknologi harus dulu menjawab tantangan mengenai bagaimana membawa pulang platina, emas, dan jenis mineral lainnya tersebut dengan biaya yang lebih rendah dari nilai mineral itu sendiri. Wajar Prof. Jay Melosh dari Purdue University berpendapat bahwa penjelajahan antariksa adalah “permainan yang hanya mampu dimainkan oleh negara-negara kaya dan mereka yang ingin menunjukkan kecakapan teknisnya”.

Meski demikian Planetary Resources, perusahaan yang akan menjalankan proyek ini, tetap optimis. Mereka telah merencanakan pendirian semacam depot bahan bakar di ruang angkasa pada tahun 2020. Menurut perhitungan yang dilakukan The Washington Post, salah satu sumber biaya yang paling besar bagi proyek ini adalah air karena akan sangat mahal untuk dapat membawa air ke luar angkasa padahal perannya penting sekali. Jika air yang ditemukan di asteroid-asteroid dapat diekstrak dan diuraikan ditempat sehingga menjadi oksigen cair dan hidrogen cair yang dapat digunakan sebagai bahan bakar, biaya peluncuran akan berkurang hingga menjadi 1/10 atau bahkan 1/20 dari biaya awal yang diprediksikan. Pengolahan bahan bakar tersebut dilakukan di depot bahan bakar yang kemudian dapat digunakan oleh satelit ataupun pesawat antariksa yang mengorbit bumi.

Proyek penggalian ini memang terdengar seperti sesuatu dari komik, bahkan premisnya saja pernah digunakan untuk jalan cerita Jimmy Neutron (ada episode dimana mereka menemukan astro-ruby terus dikejar-kejar sama bandit alien yang sama-sama menginginkan komoditas tersebut, if anybody cares. No? Oke lanjut…) tapi bukankah memang ide-ide yang fantastis seperti ini yang mengundang minat berbagai macam financial backers yang mendukung proyek ini? Dari para pemilik Google, Larry Page dan Eric Schmidt hingga sang sutradara yang telah menjelajah kedalaman bumi, James Cameron. Eric Anderson yang mempelopori firma Space Adventures yang menyediakan layanan penerbangan antariksa bagi umum (seperti Virgin Galactic) juga mendukung proyek ini dan berkata, “Kami memandang jauh ke depan. Kami tidak mengharapkan bahwa perusahaan ini akan menjadi semacam financial home run. Ini akan memakan waktu yang lama”.

Di dunia di mana sumber daya yang kita butuhkan untuk bertahan hidup kian menipis tiap harinya, mungkin memang kini saatnya kita mulai mencari jawaban jauh dari langit sana, di luar angkasa. (AG)

Sumber: disini, disini, dan disini

Advertisements
Categories: Dunia Kita | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: