Endang Rahayu: Sosok Pejabat Negara yang Bekerja dengan Hati

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menyampaikan jawaban dari pertanyaan anggota dewan saat hadir dalam rapat kerja dengan Komisi IX di Kompleks Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (27/01). Raker tersebut membahas perkembangan program-program Departemen Kesehatan antara lain Jamkesmas serta program untuk mengatasi rawan gizi di sejumlah daerah terpencil.

Wafatnya mantan Menteri Kesehatan RI Endang Rahayu Sedyaningsih merupakan pukulan bagi bangsa Indonesia. Mulai dari presiden, sesama pejabat negara, hingga, masyarakat awam. Dedikasinya kepada negara hingga menjelang akhir hayat menunjukkan pengabdiannya yang tulus apalagi mengingat bahwa Beliau baru mengundurkan diri tidak lebih dari seminggu sebelum kematiannya. Berbagai prestasi di bidang kesehatan yang ia torehkan membuat kita tak henti mengenangnya sebagai sosok pejabat yang berjuang keras untuk kesehatan masyarakat, khususnya rakyat kecil.

Meskipun baru sekitar 2,5 tahun Endang menjabat sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia, namun publik dapat menilai kerja kerasnya dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Berbagai program yang ia gagas dikenal sebagai program kesehatan yang sangat pro terhadap rakyat miskin. Di antara program yang berhasil diwujudkan antara lain Jampersal dan RS Pratama. Jampersal adalah program jaminan persalinan bagi rakyat miskin. Masyarakat dari golongan tidak mampu dijamin negara untuk dapat melakukan persalinan secara gratis dengan imbalan keikutsertaan mereka dalam program Keluarga Berencana. Sedangkan RS Pratama merupakan rumah sakit pertama yang didirikan khusus untuk melayani pasien dengan Jamkesmas. Rumah sakit ini merupakan jawaban langsung terhadap banyaknya keluhan tentang buruknya pelayanan rumah sakit umum kepada pasien dari jalur Jamkesmas.

Endang Rahayu juga dikenang telah mati-matian berjuang untuk meloloskan kebijakan UU BPJS. Di tengah kondisi kesehatannya yang terus memburuk, ia tetap konsisten mengikuti perhelatan UU BPJS dengan Komisi IX DPR. Bahkan, ia selalu hadir dalam rapat marathon yang diselenggarakan oleh Komisi IX tanpa menunjukkan bahwa ia sedang sakit.

Adapula kebijakan-kebijakan lain yang ia keluarkan diantaranya adalah mewajibkan pemberian ASI eksklusif yang dikuatkan dalam Peraturan Pemerintah (Permen), melarang iklan dan tenaga medis menyebarkan pemberian susu formula, mewajibkan perkantoran untuk membuat ruang menyusui. Ia juga memperhatikan kasus flu burung di Indonesia yang sejak awal tahun ini kembali menelan korban. Pelatihan-pelatihan pun digelar di rumah sakit, bandara, dan pelabuhan untuk menangani kasus flu burung. Bahkan rumah sakit utama di daerah pun kini telah memiliki ruang isolasi flu burung. Dan masih banyak lagi jasanya di ranah kebijakan tentang kesehatan masyarakat baik yang sudah dilaksanakan maupun yang masih dalam tahap perencanaan.

Selain prestasi-prestasinya yang gemilang, banyak tokoh masyarakat yang mengamini bahwa Endang Rahayu juga dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan pekerja keras. Aburizal Bakrie, Ketua Umum Partai Golkar berkata, “Beliau pekerja keras dan sangat sederhana.” Ical (sapaan Aburizal Bakrie) mengungkapkan kekagumannya pada wanita yang berusia 57 tahun itu. Ia mengatakan bahwa saat pertama kali menjadi menteri, Endang mendatangi Ical yang masih menjabat sebagai Menkokesra untuk meminta pendapat.

Jabatan yang dimilikinya ternyata tidak membuat Endang lupa diri. Wakil Komisi IX bidang kesehatan DPR, Sumarjati Arjoso, juga pernah mengungkapkan bahwa Endang sempat ditawari proyek-proyek oleh Nazaruddin, namun ditolak. Hal itu diceritakan Endang saat dikunjungi Sumarjati sekitar sepekan yang lalu. Endang menuturkan bagaimana ia berusaha menghindari Nazaruddin. Dedikasi beliau juga dapat dilihat dari ketenangannya dalam menghadapi kanker yang sama sekali tidak pernah beliau jadikan alasan untuk bekerja tidak optimal. Perlu diperhatikan bahwa hari pengunduran diri beliau dari jabatan Menteri Kesehatan hanya berselang sekitar 1 minggu sebelum hari beliau wafat. Hormat dan doa kami, seluruh tim salamduajari, kami haturkan untuk Ibu.

Sebelum meninggal dunia,Ibu Endang tidak lupa  memberi pesan terakhir yang khususnya ditujukan kepada rekan-rekan para penderita kanker. Pesan tersebut dikutip dari sambutan Bu Endang dalam buku “Berdamai dengan Kanker yang ditulis pada 13 April 2011. Demikian bunyi pesannya: “Bagi rekan-rekanku sesama penderita kanker dan para survivor, maka kita berbaik sangka kepada Allah. Kita terima semua anugerah-Nya dengan bersyukur. Sungguh, lamanya hidup tidaklah sepenting kualitas hidup itu sendiri. Mari lakukan sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan hari ini”.

Pesan tersebut ditutup dengan menuliskan kata, “Dan… jangan lupa, nyatakan perasaan kita kepada orang-orang yang kita sayangi. Bersyukurlah, kita masih diberi kesempatan untuk itu”

Kini, salah satu “srikandi” Indonesia itu telah tiada. Namun nama dan jasanya tetap dikenang sepanjang masa. Ketabahan dan keikhlasannya melawan kanker paru-paru selama 1,5 tahun dapat menjadi inspirasi  bagi para pasien kanker lain yang masih berjuang untuk sembuh. Pribadinya yang menawan menjadi contoh yang patut diteladani. Selamat jalan, Bu Endang. Semoga Ibu mendapatkan tempat yang nyaman dan lapang di sisi-Nya. (RIS dan AG)

Sumber: disini, disini, disini dan disini

Advertisements
Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: