Memahami Papua

*Ditulis berdasarkan pengalaman dan pendapat pribadi. Artikel ini tidak pernah memihak suatu pihak tertentu. Artikel ini tidak pernah memuat kepentingan tertentu. Artikel ini didasarkan kepada logika penulis. Artikel ini murni ditujukan sebatas untuk berbagi pikiran.

*Oleh  Prabu Siagian.

Masalah separatisme di Papua sering mencuat menjadi isu nasional. Sebagai orang yang pernah tinggal di daerah itu dan juga pernah membaca sebuah buku tentang OPM (Organisasi Papua Merdeka), saya tergerak untuk menuliskan pandangan saya akan masalah ini. Secara garis besar, apa yang saya baca di buku itu sejalan dengan apa yang saya amati di lapangan (selama saya tinggal di Papua). Jadi, buku itu tidak mengada-ada, apalagi secara logika sederhana, saya dengan mudah memahami buku itu. Artinya, buku itu bukanlah buku yang aneh. Sayangnya, saya lupa judul buku itu.

Secara fisik manusia, budaya, dan geografi, Papua berbeda dengan wilayah Indonesia lain pada umumnya. Jika diringkas, Papua lebih cocok jika dikategorikan sebagai bangsa Polinesia yang tersebar di Samudera Pasifik dan serumpun dengan sesama suku Papua yang berada di Papua Nugini atau suku Aborigin di Australia. Hal ini dapat dilihat dari keadaan fisik dan tingkat kebudayaan mereka yang sama. Fauna yang ada di Papua pun termasuk fauna Australia. Papua berada satu lempeng dengan Lempeng Australia. Selama jutaan tahun, daratan Papua dan Australia bersatu. Keadaan fauna dan geografisnya serupa dengan wilayah Pasifik selatan.

Secara agama, Papua adalah mayoritas Kristen. Tanggal masuknya Injil (kitab suci inti Kristen) dirayakan secara khusus di Papua. Hari itu hari libur setiap tahunnya. Secara sejarah pun, Papua tidak punya ikatan historis dengan wilayah lain di Indonesia. Kalaupun ada, hal itu adalah tak disengaja ataupun bersifat pasif. Nenek moyang bangsa Papua datang dari arah barat (semenanjung Malaya) ribuan tahun lalu. Hanya dalam kasus inilah mereka pernah berhubungan dengan wilayah barat Indonesia, jauh sebelum nama dan penduduk Indonesia umum lainnya yang kita kenal sekarang ada.  Adapun sejarah komunikasi antarmanusia, Papua kadangkala disinggahi kerajaan di daerah Maluku sebagai tempat berdagang. Fakta paling nyata yang menyamakan Papua dan wilayah barat Indonesia lainnya hanyalah kedua daerah ini pernah dikuasai suatu kekuatan yang sama, yakni kekuatan bangsa Belanda.

Meskipun sama-sama pernah dikolonisasi oleh Belanda, bukan berarti Papua senasib sepenanggungan dengan wilayah barat Indonesia. Kata ”senasib sepenanggungan“ adalah kata vital dalam upaya mendoktrinasi penduduk Papua bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia juga. Meskipun sama-sama pernah diduduki Belanda, sebenarnya hubungan yang dirasakan orang Papua terhadap Belanda berbeda dengan apa yang dirasakan orang di Indonesia barat terhadap Belanda.

Secara umum, orang di Indonesia barat  merasa bahwa Belanda menyengsarakan mereka. Oleh karenanya, mereka bersatu dan bahu membahu menyingkirkan Belanda. Namun demikian, apa yang terjadi di Papua berbeda. Papua dikolonisasi relatif lebih muda, setelah Belanda melakukan kolonisasi di wilayah barat Indonesia. Setelah mempelajari bahwa pendekatan Belanda terhadap wilayah barat Indonesia menimbulkan pemberontakan, Belanda melakukan cara baru dalam mendekati Papua. Pendekatan yang dilakukan lebih humanis. Alhasil, orang Papua tidak antipati terhadap kondisi kolonisasi tersebut. Orang Papua menjadi lebih terbuka dengan Belanda dan Belanda menunjukkan respek atas budaya setempat. Orang Papua pun cenderung diterima karena lebih polos sehingga Belanda merasa sangat tak perlu mengadakan pendekatan secara keras atau bersifat militer atau represif. Hubungan saling respek dan memahami inilah yang membuat hubungan kedua bangsa tersebut lebih akur dibanding dengan wilayah barat Indonesia.

Belanda berencana memberikan orang Papua kesempatan lebih atas tanahnya sendiri. Namun demikian, tepat pada masa itu, Indonesia mengambil alih kekuasaan Belanda atas Papua. Orang Papua merasa bahwa kehadiran Indonesia justru merusak segala hubungan baik dan harapan yang telah dan akan diberikan Belanda kepada Papua. Ditambah, orang Papua melihat bahwa proses pergantian kekuasaan (dari Belanda ke Indonesia) cenderung tidak bersahabat, yakni konfrontasi. Setelah Papua masuk wilayah Indonesia pun, sekali lagi orang Papua melihat hal yang meresahkan. Tentara Indonesia dengan semena-mena mengangkut segala peninggalan Belanda yang masih baik (seperti perabotan) ke luar Papua.

Orang Papua tidak terlibat dalam Sumpah Pemuda 1928. Pengalaman keseharian saya di Papua menunjukkan bahwa sebagian teman-teman saya yang orang Papua, secara terbuka,  tidak menganggap Papua sebagai bagian dari NKRI. Mereka cenderung mengungkapkan pikirannya tentang entitas Papua yang mandiri. Mereka menganggap dirinya Papua Barat (West Papua). Saudaranya yang berada di Papua Nugini adalah Papua Timur (East Papua). Adalah sangat jelas bahwa keberadaan Belanda di Papua Barat maupun Inggris-Jerman di Papua Timur di masa lalu telah memotong Pulau Papua secara keseluruhan menjadi dua negara seperti saat ini. Lihat saja batas Papua Indonesia – Papua Nugini, garis lurus hasil kesepakatan manusia. Orang Papua (Barat) merasa seharusnya mereka bergabung kembali dengan Papua Timur (Papua Nugini). Dengan mudah saya menemukan corak bendera Papua Nugini selama saya tinggal di Papua, entah di kaos atau di payung seseorang.

Adalah sangat sepihak jika menganggap bahwa fakta-fakta ini menunjukkan betapa tidak nasionalisnya orang Papua. Orang Papua paham bahwa mereka sekarang di dalam wilayah Indonesia, karena rapat Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) tahun 1969 yang dikabarkan merupakan rapat orang asli Papua memutuskan bahwa Papua secara terbuka ingin masuk Indonesia. Sementara orang Indonesia memahami Papua hanya sebatas pelajaran sejarah dan konflik TNI-OPM. Terlalu dangkal.

Namun kemudian orang Papua kini berpikir, apakah benar orang Papua yang hadir di rapat Pepera itu merupakan wakil orang Papua secara keseluruhan. Ada yang mengatakan bahwa orang Papua yang hadir di rapat itu adalah orang Papua yang sudah sempat merasakan kesempatan pendidikan di Jawa. Apalagi dibayangkan bahwa dalam rapat itu, ada tentara Indonesia yang menjaga keberlangsungan rapat. Mungkin saja ada semacam represi psikologis dan pendapat bentukan dalam rapat itu, sehingga keputusan rapat itu adalah keputusan yang tidak bebas intervensi. Jika memang benar rakyat Papua setuju, mengapa sekarang dengan mudah kita menemukan suara yang berlawanan dari beberapa rakyat Papua sendiri.

Saya menghabiskan SMP di Papua, untuk kemudian menjalani SMA di Jawa. Kesan baik saya terhadap teman-teman Papua saya selama saya tinggal di sana tidak saya lupakan. Ketika SMA, teman-teman saya yang hampir semuanya tidak ada yang berasal dari maupun tinggal di Papua, punya pendapat tentang Papua secara rendah. Mereka menganggap bahwa saya yang pernah tinggal di Papua seperti saya pernah hidup di atas pohon. Mereka begitu menganggap orang Papua sebagai orang yang sangat primitif dan tidak tahu adat. Semakin mereka menganggap demikian, justru saya berpikir mereka inilah yang sebenarnya primitif. Saya sedih mereka berpikiran demikian. Memang benar bahwa kebudayaan Papua belum mengenal besi dan masih mengenal batu sebagai perkakas, tidak seperti kebudayaan Jawa dan Indonesia lainnya, namun terlalu berlebihan jika menganggap kebudayaan Papua tidak punya otak juga. Local wisdom masyarakat Papua sangat kaya, sama seperti wilayah Indonesia lainnya.

Orang Papua pada umumnya bersifat terus terang dan polos. Sejak kecil, orang Papua diajarkan agar minta maaf kepada “lawan” sebelum matahari terbenam. Jika tidak, mereka justru yang merasa bersalah. Pernah suatu ketika, seorang teman Papua yang merasa telah menyakiti hati saya, sore sebelum matahari terbenam, ia benar-benar datang ke rumah saya, untuk minta maaf. Saya kaget. Ia bercerita bahwa ia bahkan harus menanyakan orang di jalan supaya mendapatkan rumah saya dengan bersepeda. Setelah jauh berkendara, niatnya sederhana, ia mau minta maaf. Sejak itu saya paham bahwa kebijaksanaan yang mereka selalu ceritakan kepada kami, para pendatang, benar-benar diwujudkan. Pernah juga suatu ketika, teman Papua saya dengan rela memberikan saya bantuan, padahal saya tidak minta. Berbeda dengan tipikal orang kota.

Sebenarnya ada kesempatan untuk merebut hati orang Papua sejak awal. Sayangnya, sejak awal, pemerintah Indonesia, dan juga rakyat Indonesia lainnya, tidak menyadari isu sensitif ini. Mereka menganggap bahwa keberadaan Papua di Indonesia adalah take for granted. Keterlambatan untuk memahami isu yang rasanya sepele ini (masalah perasaan dan keabsahan eksistensi Papua di dalam wilayah NKRI) hanya makin menumpuk antipati rakyat Papua terhadap Indonesia. Saya yakin, orang-orang Papua yang ada di pasar-pasar umum di Papua sebenarnya tidak sampai sebegitu jauhnya berpikir tentang mengapa mereka di Indonesia atau tentang kemerdekaan Papua. OPM hanya sebagian suara Papua. Orang Papua umumnya hanya peduli, apakah mereka di bumi Indonesia ini diperhatikan dan dibantu oleh pemerintah Indonesia untuk berkembang menjadi lebih baik, atau tidak. Selama perhatian itu tidak ada, barulah mereka akan lari ke masalah yang lebih serius, mempertanyakan keberadaan mereka di Indonesia. Dan sayangnya ternyata itulah yang terjadi. Dan sekali lagi, orang Indonesia secara umum, salah kaprah, menganggap mereka separatis. Dan semakin dianggap separatis, semakin jauhlah Papua dengan Indonesia.  Intinya, ada kesalahpahaman yang krusial di antara kedua pihak.

Advertisements
Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: