Blackbird: kisah sayap-sayap patah yang dambakan terbang

Dengarkan denting petikan gitar Sir Paul McCartney yang hembuskan nuansa syahdu. Blackbird singing in the dead of night. Dengarkan suara ketukan kaki yang menuntun melodi lagu.  Take these broken wings and learn to fly, all your life. Dengarkan bagaimana denting gitar dan ketukan kaki tersebut membaur harmonis dengan suara berat dan cara menyanyi Sir Paul yang khas. You were only waiting for this moment to arise.

Kadang-kadang sebuah lagu dapat menembus berbagai bentuk batasan, di mana melodi dan liriknya dapat menyentuh perasaan dan lubuk jiwa terdalam seseorang yang berasal dari negara, benua, bahkan dari zaman yang berbeda sekalipun.  Keindahan dari suatu lagu memang tidak mesti berada di solo gitar yang rumit atau lirik yang kompleks, terkadang keindahan justru ada pada kesederhanaan. You were only waiting for this moment to be free. Adakah tindakan yang lebih berani daripada keberanian untuk memperjuangkan dan menunggu sesuatu, yang belum diketahui kapan akan terjadi atau bahkan belum diketahui akan pernah terjadi atau tidak, selama seumur hidup? Leonardo da Vinci pernah berkata, simplicity is the ultimate sophistication. Itulah Blackbird. It is simple, it is innocent, yet it sends a powerful message of Hope. Mungkin itu pesan kunci dari lagu tersebut, harapan.

Ketika itu, 4 April 1968, seantero dunia dibuat gempar oleh berita kematian seorang tokoh revolusioner yang tak kenal henti memperjuangkan hak dirinya dan kaumnya. Dr Martin Luther King, Jr adalah namanya. Seketika Ia tergeletak, pada saat hendak bersiap-siap memimpin aksi demonstrasi damai menuntuk hak sipil masyarakat Afrika-Amerika, di sebuah balkon hotel di Memphis. Ya, Ia terbunuh. Kejadian itu kemudian memicu kekacauan di sekitar 110 kota di Amerika Serikat, sebagai buah kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan masyarakat keturunan Afrika, suku bangsa yang tercatat sebagai korban diskriminasi terburuk dan terlama dalam sejarah modern. Bagaimana tidak, King adalah tokoh utama yang membuat mereka akhirnya berani bermimpi, bahwa secercah cahaya itu mungkin saja ada di tengah hitam pekatnya malam.

Tragis memang, karena lelaki yang dicintai oleh jutaan pemimpi baru tersebut, harus terbunuh. Akibatnya para pemimpi baru tersebut pun, murka. Kekerasan lantas merajalela. Dunia pada saat itu penuh amarah, dunia pada saat itu penuh nestapa. Nestapa itu pun turut dirasakan oleh seorang pria di lain benua, tepatnya di sebuah dapur di Skotlandia. Pria itu, adalah Sir Paul McCartney. Lagu Blackbird pun lahir sebagai simbol pergerakan hak sipil masyarakat Afrika-Amerika. Sebuah lagu yang menyuarakan kisah burung-burung hitam, yang dengan sayap-sayap patah dan mata sayunya, tiada henti mencoba untuk terbang, tiada henti mencoba untuk melihat, seumur hidupnya. Blackbird singing in the dead of night. Take this sunken eyes and learn to see, all your life. You were only waiting for this moment to be free.

Entah Paul McCartney berpikir apa pastinya saat menulis lagu itu, tapi yang pasti, lagu tersebut sudah membuat saya bertanya-tanya. Dengan kondisi sayap yang patah, mengapa burung hitam tersebut tetap saja mau belajar terbang? Belajar terbang, bukan terbang. Ketika melihat harapan untuk menang sesulit melihat cahaya terang di tengah hitam pekatnya malam, mengapa mereka terus berjalan dan berjuang? Demikianlah bagaimana Blackbird mengilhami saya mengenai makna perjuangan yang sebenarnya. Bahwa  perjuangan yang hakiki itu adalah perjuangan yang murni dilakukan untuk memperjuangkan sesuatu yang diyakini benar, sesuatu yang diyakini harus diwujudkan. Bahwa  perjuangan yang hakiki itu bukanlah perjuangan untuk meraih kemenangan. Somethings are just worth to fight for, no matter that it might lead to nowhere.

Mungkin gejolak jiwa yang sama terjadi pada para pejuang kemerdekaan kita dulu. Pada masa perjuangan tersebut, tak terhitung jumlah jiwa yang mati dalam keadaan tidak tahu, apakah kemerdekaan akan pernah terwujud. Mereka hanya yakin, bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, maka harus diperjuangkan. Mereka juga adalah sayap-sayap patah yang dambakan terbang. Namun kemenangan memang akan ada masanya sendiri. Seperti masyarakat Afrika-Amerika yang hak sipilnya saat ini sudah difasilitasi dan dilindungi, Indonesia kini pun sudah merdeka. Para pendiri bangsa, adalah sayap-sayap patah yang berkesempatan untuk merasakan nikmatnya terbang. Dari ketinggian mereka dapat melihat lebih luas, sehingga mampu merumuskan landasan dan cita-cita ideal untuk bangsa kita. Pancasila namanya. Pertanyaannya saat ini adalah, sudahkah landasan tersebut dijalankan? Sudahkah cita-cita tersebut dicapai?

Lebih sudah enam dekade berlalu, rasanya Indonesia masih jauh masih jauh dari kemanusiaan yang adil yang beradab, masih jauh dari keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Menyedihkan memang. Tapi haruskah kita pasrah karena sayap sudah terlanjur patah? Atau terus jalan dan berjuang layaknya burung-burung hitam itu yang terus belajar untuk terbang? Blackbird fly, blackbird fly, into the light of the dark black night. Begitulah nyanyiannya secara berulang-ulang bagaikan mantra. Menunggu tak selalu berarti diam. Gelap tak selalu berarti tak ada secercah cahaya. Blackbird fly, blackbird fly, into the light of the dark black night. (DM dan AG)

Dengarkan lagu Blackbird disini.
Untuk Sumber: disini dan disini

Simply love this picture! blackbird fly, blackbird fly, into the light of the dark black knight.

Advertisements
Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: