Nyoman Nuarta, Maestro Seni Ukir Indonesia


Rush Hour, 2002

Bagi beberapa anggota masyarakat nama Nyoman Nuarta mungkin tidak asing lagi. Namun bagi yang belum tahu, beliau adalah ahli patung dari Bali yang karyanya banyak menghiasi ibukota. Patung-patung karyanya sebagian besar terbuat dari tembaga dan dibiarkan tidak dicat karena  tembaga itu sendiri memiliki warna yang unik dan jika dibiarkan di suatu lingkungan akan teroksidasi dan berubah warna sesuai kondisi lingkungan tersebut seolah tembaganya memiliki nyawa sendiri.

Ciri lain dari patung Nyoman Nuarta adalah bentuknya yang memiliki motion lines yang seperti ditarik dari outline badan patung tersebut, jadi ketika kita melihat patungnya ada kesan pergerakan. Tapi terkadang dapat terlihat juga seperti patungnya terlarut akibat kikisan angin.

Monumen Arjuna Wijaya, 1987

Salah satu patungnya yang terkenal, dan termasuk satu yang saya kagumi, adalah patung Arjuna Wijaya atau patung delman, yang menghiasi bilangan Medan Merdeka, Jakarta, sejak 1987. Patung tersebut menggambarkan adegan perang Baratayudha ketika Batara Kresna menaiki kereta kudanya menuju pertempuran melawan Adipati Karna. Delapan kuda yang menarik keretanya menyimbolkan delapan ajaran hidup Asta Brata yaitu untuk mencontoh bumi, matahari, api, bintang, samudra, angin, hujan dan bulan. Kata-kata “Kuhantarkan kau melanjutkan perjuangan dengan pembangunan yang tidak mengenal akhir” tertera pada prasasti yang melekat pada patung.

Tadi saya bilang bahwa mungkin anda familiar dengan nama Nyoman Nuarta, hal ini dikarenakan karya beliau sering masuk media massa tapi untuk alasan yang sebenarnya menyedihkan. Misalnya pada patung Garuda Wisnu Kencana  yang berdiri di Bukit Unggasan, Bali terlibat kontroversi karena masyarakat dan pemerintah lokal takut bahwa ketinggian patung tersebut akan merubah keseimbangan spiritual pulau Bali. Oleh karena itu patung yang harusnya setinggi 172m dan melebihi patung Liberty tersebut tidak pernah diselesaikan, kini hanya kepala dan torso patung yang berdiri di atas bukit.

Adapun patung 3 Mojang yang tadinya berdiri di depan gerbang masuk perumahan Harapan Indah di Bekasi. Patung itu telah diturunkan pada tahun 2010. Alasan diturunkannya patung itu tidak pasti karena tiap surat kabar memberi cerita yang beda-beda, dari tuduhan bahwa patungnya didirikan tanpa izin sampai dianggap seronok oleh masyarakat. Patung tersebut kemudian dibeli oleh Gubernur Bali dan sempat dipamerkan di Pasar Seni ITB.

Censorship in the arts adalah suatu isu yang selalu ada dan ikut berevolusi dengan perkembangan seni sendiri. Walaupun biasanya alasan dibalik sensor itu sendiri adalah untuk moralitas masyarakat, dan kita tidak bisa menyalahkan pemerintah yang ingin menjaga ketertiban sosial. Tapi bagaimana dengan sisi cerita dari sudut pandang si seniman yang karyanya disensor? Bukankah karya seni adalah suatu bentuk ekspresi dimana suatu masyarakat yang demokratis harusnya dapat tetap toleran dan menerima pendapat tiap-tiap individu tanpa diselimuti oleh “prasangka”? Dan yang lebih lagi, bukankah sensor itu sebenarnya adalah bentuk pengremehan karena masyarakat dianggap tidak dapat menentukan sendiri apa yang dianggap baik dan buruk? Memang sih rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia berumur 15 tahun ke atas baru sekitar 8 tahun (BPS, 2010). Tapi apakah itu cukup untuk menghakimi  masyarakatsebagai kalangan yang tidak memahami mana yang baik dan yang buruk? Toh, yang korupsi, selingkuh, atau ngemplang kredit juga kebanyakan kalangan berpendidikan tinggi, kan?

Kembali lagi ke Nyoman Nuarta. Lebih sering daripada tidak, dalam hidupnya, seorang seniman umumnya tidak mendapatkan apresiasi dan rekognisi atas karyanya. Misalnya Van Gogh yang lukisannya dianggap tidak ortodoks oleh orang-orang dimasanya, tapi kini lukisan-lukisan tersebut bernilai jutaan dan digantung bersama karya-karya impressionist masters lainnya. Patung-patung Michelangelo dianggap tidak senonoh oleh Vatikan sehingga dialterasi. Karya-karya tersebut baru direstorasi menjadi bentuk asalnya ratusan tahun setelah kematian sang maestro.

Intinya setiap seniman pasti memiliki masanya, hanya saja sekarang belum waktu yang tepat bagi Nuarta. Akan tiba harinya dimana karya beliau dipandang oleh rakyat pribumi dan tiap detail rumitnya diapresiasi. Tapi kapankah itu? Setelah rata-rata lama sekolah orang Indonesia 15 tahun kali ya? Konon tingkat pendidikan dan apresiasi atas karya seni budaya berbanding lurus. Tapi tetap kita tidak tahu kapan tepatnya  saat itu akan tiba. 10 tahun? 20 tahun? Setidaknya sembari menunggu kita tetap dapat memandang kehidupan patung-patung yang penuh kontroversi itu melalui lensa positif, seperti yang dikatakan Federico Felini, censorship is advertising paid by the government. Setidak

Jika anda berminat melihat karya-karya Nyoman Nuarta lainnya, beliau memiliki galeri di Bandung, NuArt Sculpture Park. Dan jika anda berminat kesana, pastikan yang bawa mobilnya jago soalnya jalannya nanjak dan berliku-liku but it’s all worth the tripe. (AG, DM)

Untuk sumber gambar monumen Arjuna Wijaya bisa klik disini, dan untuk  patung Rush Hour disini.

Advertisements
Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: