Menggali Kearifan dibalik Nasi Tumpeng

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata “nasi tumpeng”? Mungkin saja, di kepala Anda langsung terbayang suguhan nasi gurih berbentuk kerucut yang dikelilingi dengan beragam lauk pauk yang membuat lidah bergoyang. Yap, tidak ada yang tidak kenal dengan kuliner khas Jawa yang satu ini. Selain rasa gurih nasinya yang khas, lauk pauk yang dihias di sekitar nasi pun rasanya juga nikmat. Penyajiannya pun sangat khas. Nasi yang berbentuk kerucut itu selalu diletakkan di atas tampah (semacam nampan bundar dari anyaman bambu) yang dialasi dengan daun pisang. Kemudian lauk pauk yang bermacam-macam itu ditata mengelilingi nasi.

Kita mengenal nasi tumpeng sebagai masakan khas Suku Jawa yang biasa dihidangkan dalam perayaan atau acara-acara adat Jawa. Selain itu, sebagian masyarakat moderen juga sering menyajikan nasi tumpeng dalam perayaan non-adat, seperti syukuran ulang tahun dan peresmian sebuah instansi atau tempat usaha. Sehingga, nasi tumpeng semakin populer di kalangan masyarakat umum. Termasuk saya yang berasal dari Kalimantan.

Nasi Tumpeng Tradisional

Nasi Tumpeng Modern

Suatu saat, saya pernah menanyakan kepada teman ibu saya mengapa  nasi tumpeng berbentuk kerucut. Beliau lantas menjawab pertanyaan saya panjang lebar. Ia mengatakan bahwa bentuk kerucut pada nasi tumpeng merepresentasikan bentuk gunung. Gunung sebagai pasak bumi melambangkan pasak bumi yang mengukuhkan bumi, ibaratnya pasak yang mengikat dua batang kayu dan menjadikannya kokoh bersatu. Sedangkan lauk pauk yang beraneka rasa (asam, manis, pedas, asin) menggambarkan kehidupan kita yang selalu berganti hari demi hari. Kadangkala kehidupan kita manis dan menyenangkan. Di lain waktu, bisa saja kehidupan kita terasa kecut karena kesedihan, atau mungkin pedas karena kekecewaan mendalam yang menyebabkan kemarahan. Itulah makna di balik nasi tumpeng,  sebuah simbol kekuatan (pasak bumi) yang ditengah asam garam suka duka kehidupan. Berdasarkan latar belakang tersebut, nasi tumpeng pun menjadi sajian yang umum tersedia pada acara selamatan atau syukuran.

Tak banyak orang yang tahu bahwa nasi tumpeng sebenarnya mengandung suatu makna filosofis sedalam itu. Saya termasuk salah satunya, sampai akhirnya saya mendapat penjelasan dari teman ibu saya tersebut, yang berhasil memicu diri untuk mengali lebih dalam lagi informasi mengenai filosofi nasi tumpeng. Ternyata saya menemukan cerita yang cukup beragam, namun, semuanya menarik. Ingin tahu seperti apa? Berikut penjelasannya:

Nasi putih: bentuk gunung atau kerucut melambangkan tangan yang merapat menyembah kepada Tuhan. Dapat dikatakan, nasi tumpeng merupakan perwujudan dari rasa syulur, persembahan sekaligus permohonan kepada Tuhan. Cara pandang ini didukung dengan ajaran kejawen (ajaran adat Jawa) yang menganggap gunung adalah tempat yang kudus dan suci, serta hubungannya yang erat dengan langit dan surga.

Dalam ajaran Hindu yang dulu tersebar di Pulau Jawa, gunung adalah sumber awal kehidupan. Pada kisah Mahabaratha diceritakan tentang gunung Mandara yang mengalir air kehidupan (amerta), dan siapa yang meminumnya akan mendapat keselamatan. Ini adalah cikal-bakal tradisi tumpeng dalam acara selamatan. Bentuk ini juga dapat dimaknai sebagai harapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin “naik” dan “tinggi”. Selain itu, nasi putih melambangkan segala sesuatu yang kita makan, menjadi darah dan daging haruslah berasal dari sumber yang bersih atau halal.

Ayam: ayam jago (jantan) yang dimasak utuh ingkung dengan bumbu kuning/kunir dan diberi areh (kaldu santan yang kental), merupakan simbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati diraih dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa). Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk yang dilambangkan oleh ayam jago, antara lain: sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela dan merasa tahu/menang/benar sendiri (berkokok), tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri.

Ikan Lele: dahulu lauk ikan yang digunakan adalah ikan lele bukan banding atau gurami atau lainnya. Ikan lele tahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai. Hal tersebut merupakan symbol ketabahan, keuletan dalam hidup dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling sulit sekalipun.

Ikan Teri / Gereh Pethek: Ikan teri/gereh pethek dapat digoreng dengan tepung atau tanpa tepung. Ikan Teri dan Ikan Pethek hidup di laut dan selalu bergerombol yang menyimbolkan kebersamaan dan kerukunan.

Telur: telur direbus pindang, bukan didadar atau mata sapi, dan disajikan utuh dengan kulitnya, jadi tidak dipotong sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu. Hal tersebut melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan.

Filsafat Jawa mengajarkan “Tata, Titi, Titis dan Tatas”, yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan,dan diselesaikan dengan tuntas. Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat (fitrah) yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.

Sayuran dan urab-uraban: Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap. Sayuran-sayuran tersebut juga mengandung symbol-simbol antara lain:

  • Kangkung berarti jinangkung yang berarti melindung, tercapai.
  • Bayam (bayem) berarti ayem tentrem atau nyaman dan tenteram,
  • Taoge/cambah yang berarti tumbuh,
  • Kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan/innovative,
  • Brambang (bawang merah) yang melambangkan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya, cabe merah diujung tumpeng merupakan symbol dilah/api yang meberikan penerangan/tauladan yang bermanfaat bagi orang lain.
  • Kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya.
  • Bumbu urap berarti urip/hidup atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga

Pada jaman dahulu, sesepuh yang memimpin doa selamatan biasanya akan menguraikan terlebih dahulu makna yang terkandung dalam sajian tumpeng. Dengan demikian para hadirin yang datang tahu akan makna tumpeng dan memperoleh wedaran yang berupa ajaran hidup serta nasehat. Dalam selamatan, nasi tumpeng kemudian dipotong dan diserahkan untuk orang tua atau yang “dituakan” sebagai penghormatan. Setelah itu, nasi tumpeng disantap bersama-sama. Upacara potong tumpeng ini melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan sekaligus ungkapan atau ajaran hidup mengenai kebersamaan dan kerukunan.

So, itulah hasil galian saya mengenai  filosofi dan nilai-nilai kebijaksanaan dibalik nasi tumpeng.  Sebelah dari hati kecil takjub, gila juga ya orang jaman dulu mikirnya? Namun sebelah lagi merasa heran, cerita bermakna dalam seperti ini kenapa tidak banyak di”pasar”kan, ya? Kebanyakan orang Indonesia tahu kalau tumpengan berarti ada syukuran. Tapi tidak tahu makna dibalik nasi tumpeng tersebut. Saya aja baru tahu sekitar sebulan lalu. Saya coba tanya orang-orang di sekitar saya, juga banyak yang baru tahu setelah saya bercerita. Well, pertanyaan soal pemasaran cerita kearifan lokal tadi bisa dibilang,  pertanyaan iseng sih. Soalnya otak saya  cukup berkeliaran ketika baru mengetahui  dalamnya makna di balik nasi tumpeng. Kalau saja makna tersebut dipasarkan dengan baik kepada masyarakat luas, khususnya ke kalangan remaja, sejak 5-10 tahun lalu, mungkin  jumlah ABG galau ga sebanyak sekarang. Bisa jadi, kan, ya? Hidup nasi tumpeng!

Advertisements
Categories: Kearifan Lokal | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: