Perjalanan Memahami Fenomena Kemiskinan

Dari judulnya seakan tulisan ini akan membahas suatu tema yang berat. Tidak juga sebenarnya. Karena melalui tulisan ini saya hanya ingin bercerita mengenai kunjungan lapangan yang dilakukan oleh saya beserta mahasiswa kelas Ekonomi Kemiskinan di FEUI. Perjalanan dilakukan pada 22 Februari 2012, berangkat dari FEUI Depok dengan Bus Depok – Pasar Minggu tanpa AC yang sengaja disewa dalam rangka mengkondisikan nuansa “petualangan” pada kunjungan lapangan kali ini. Berangkat pukul 11.20 WIB, rombongan tiba di Koperasi Kasih Indonesia, koperasi simpan pinjam yang digagas oleh alumni FEUI angkatan 2004 Leonardo Kamilius, pada sekitar pukul 13.20 WIB. Hari yang cerah (bahasa positif dari gerah) memperkuat nuansa petualangan pada kunjungan lapangan saat itu. Mengapa ke Koperasi Kasih Indonesia? Karena KKI memfokuskan layanannya untuk kalangan miskin yang notabene memiliki ketergantungan tinggi terhadap rentenir manakala si miskin mengalami shock atau kejadian kurang beruntung yang bersifat tidak terduga. Menurut hasil pengamatan Leon, tingkat suku bunga rentenir di daerah Cilincing tersebut adalah sekitar 30-40% per BULAN!

Sesi kunjungan lapangan diawali dengan diskusi mengenai “Apa itu Kemiskinan?” dari kacamata Leon. Mahasiswa secara bebas dapat bertanya jawab dengan Leon, sesi diskusi berlangsung hangat dan tampaknya membuka mata mahasiswa. Jumlah peserta yang kecil membuat diskusi berlangsung fokus dan terarah (jumlah mahasiswa yang mengambil Ekonomi Kemiskinan dengan Bahasa Inggris semester ini hanya 13 orang, 8 orang mengikuti kunjungan lapangan tersebut).

Pada hari itu kebetulan ada Kartika Sari Djuniwaty, alumni FEUI angkatan 2001, yang saat ini tengah mengambil S3 di Norwegia. Ia ingin menulis tentang keuangan mikro untuk disertasinya.

Setelah berdiskusi, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit ke lokasi pertemuan kelompok peminjam dengan dipandu oleh  staf KKI (yang juga merupakan alumni FEUI angkatan 2007, Ferry). Pertemuan di buka dengan pembacaan doa, pembacaan janji anggota, pengumpulan pembayaran cicilan dan tabungan anggota, kemudian dibukalah sesi diskusi antara masyarakat anggota KKI dengan mahasiswa. Kepolosan masyarakat dalam menjawab pertanyaan mahasiswa beberapa kali membuat mahasiswa tersenyum. Benar kata Leon, masyarakat miskin itu bukan orang malas, karena banyak dari mereka yang sudah mulai bekerja dari dini hari untuk menyiapkan dagangan, dan berkeliling kota berjualan mulai pagi hari hingga sore. Namun mereka penuh dengan ketidaktahuan, yang bermuara pada ketidaksadaran, bahkan atas hak-haknya sendiri. Ketidaksadaran tersebut membuat cara pandang atau pola pikir mereka cenderung  short-sighted (berpandangan jangka pendek), yang kemudian menjelaskan perilaku mereka yang cenderung konsumtif dan tidak menabung.  Akhirnya, terdapat beberapa poin  yang dapat ditangkap melalui kunjungan hari itu:

  1. Kemiskinan bukanlah semata-mata masalah rendahnya tingkat pendapatan, sehingga kemiskinan tidak dapat dipandang sebagai semata-mata masalah ekonomi, namun lebih luas dari itu, yaitu masalah sosial. Khususnya yang terkait dengan budaya kemiskinan yaitu pola pikir jangka pendek dan budaya konsumtif yang menjebak mereka terjebak dalam kondisi kemiskinan. Adapun sikap malas bukan merupakan bagian dari budaya kemiskinan tersebut, karena masyarakat miskin adalah kalangan pekerja keras, hanya saja memang bukan merupakan kalangan pekerja cerdas.
  2. Pola pikir tersebut dapat dirubah melalui proses pendampingan di mana pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai manfaat menabung, strategi menghadapi shocks, sampai pentingnya sanitasi dan pendidikan. Pengetahuan tersebut kemudian mencerahkan masyarakat miskin, membuat mereka mampu melihat bahwa peluang untuk keluar dari kemiskinan itu ada, bahwa memiliki cita-cita itu sangat baik dan dapat dicapai. Setelah mereka dibuat mampu melihat adanya harapan tersebut, maka perilaku mereka pun mulai berubah. Proses pendampingan yang menyebarkan pengetahuan tersebut, tidak perlu dikemas layaknya pendidikan formal di bangku-bangku sekolah.
  3. Pengetahuan-pengetahuan dasar tersebut, sesungguhnya adalah hak seluruh warga Indonesia yang telah tertuang jelas dalam konstitusi, namun kebanyakan masyarakat miskin sendiri tidak tahu dan tidak sadar  bahwa hal tersebut adalah bagian dari hak mereka.

Saya salut melihat usaha Leon dalam memilih jalan tidak populer bagi kalangan alumni FEUI ini. Apa yang telah ia gagas telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi masyarakat Cilincing. Pak Leon, demikian masyarakat memanggilnya. Apa yang telah ia lakukan, telah melampaui apa-apa yang telah dilakukan pemerintah yang cenderung senang dengan program penanggulangan kemiskinan yang bersifat hit and run. Target Leon tahun ini adalah meningkatkan jumlah anggota hingga 2000 orang agar KKI dapat mencapai skala keekonomiannya, jika hal tersebut tidak tercapai KKI kemungkinan besar terpaksa harus ditutup. Kemampuan tabungan Leon untuk menutupi defisit bulanan, yang terjadi karena pendapatan operasional (bunga) belum mampu menutup biaya overhead-nya, bersifat terbatas dan dari perhitungannya, tabungannya hanya akan mampu menahan hingga akhir tahun ini. 

Memang tidak ada jalan yang mudah jika kita hendak melakukan sesuatu yang besar. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Dari kunjungan lapangan bersama mahasiswa saat itu, saya semakin terinspirasi bahwa keuangan mikro, selama dilakukan dengan benar, mampu efektif dalam menanggulangi kemiskinan. Saya semakin percaya dengan apa yang dipercayai oleh Muhammad Yunus, “through microfinance we can put poverty into museum”. Selain itu, pada hari itu saya berjanji pada diri sendiri untuk membantu Leon mendapatkan tambahan dana guna mewujudkan target 2000 orang anggota tersebut (saat ini hanya sekitar 600 orang anggota), di mana Leon akan dapat mulai menggaji dirinya. Mohon dukungan dan doanya, semoga usaha ini dilancarkan. Jika berhasil, tentu Leon nanti dapat menjadi inspirasi bagi anak muda Indonesia. Bahwa bukan hanya profesi yang menjanjikan kesejahteraan diri yang merupakan profesi keren. Ada yang lebih keren, yaitu profesi yang dapat menjanjikan kesejahteraan diri melalui peningkatan kesejahteraan  orang lain.

Dari kunjungan lapangan tersebut, kemudian mahasiswa diminta menuliskan essay maksimal 2 halaman mengenai “what is poverty?” dan  “how do you see it?”. Tulisan Aria Gita Indira yang berjudul “On Poverty” adalah tulisan dengan dinilai terbaik, oleh karena itu ingin sekali saya membaginya kepada orang lain. Untuk membaca tulisan gita, silakan masuk ke link ini: https://salamduajari.com/2012/03/23/karya-mahasiswa-on-poverty-by-aria-gita-indira/

Salam damai selalu 🙂

(DMH, Depok, 22 Maret 2012)

Advertisements
Categories: Warung Prosa | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: