Dewi juga Manusia

Oleh: Achlam S. Basalamah

Siang itu teman saya tampak cantik dalam balutan busana warna kuning cerah dan wajah penuh riasan ala si empunya hajat. “Tau nggak, tadi yang dandanin gue namanya Mbak Dewi loh. Tapi dia cowok!” ujarnya. Dan sejurus kemudian, celetukan-celetukan terlontar, yang meskipun dengan nada bercanda, saya yakin mampu melukai hati sebagian pihak.

Memang benar, tampak ada seorang pria dengan gaya yang menarik perhatian lalu lalang di pesta tersebut. Sejauh pengamatan saya, gerak tubuh pria tersebut sungguh gemulai, bahkan lebih gemulai dari saya sendiri. Tanpa diberitahupun saya langsung tahu bahwa dialah Mbak Dewi yang dimaksud. Teringat lelucon-lelucon yang dibuat oleh teman saya tadi, dan tanpa disadari saya tenggelam dalam pikiran saya sendiri.

Beberapa tahun lalu, seorang penghuni baru datang menempati sebelah rumah saya. Biasanya, saya terlalu sibuk untuk mengetahui ada seorang pendatang baru di lingkungan rumah saya, namun pada saat itu, banyak sekali desas-desus yang beredar, termasuk dari ibu dan adik saya. Meski sampai detik ini saya tidak tahu namanya siapa, dalam artikel ini, sebut saja Dewi. Rambutnya panjang berwarna merah, kulitnya sawo matang, bekerja di bidang entertainment alias perias wajah artis. Apa yang spesial dari Dewi yang ini? Dia laki-laki.

Saya tidak mengenalnya dan bahkan hanya pernah sekali bertemu dengannya. Itupun tanpa sengaja. Lagi-lagi saya langsung bisa tahu itu Dewi. Waktu itu saya sedang dalam perjalanan pulang dan saya melihatnya sedang berjalan, dibuntuti oleh anak-anak kecil yang tertawa-tawa. Saat itu saya merasa kasihan dan bertanya-tanya, apa rasanya hidup menjadi bahan tertawaan? Dan benar, segala hal yang diceritakan oleh adik dan ibu saya pada waktu itu memang terlihat, ia jalan dengan tergesa, dengan anak-anak mengekor dibelakangnya. Tapi toh saya hanya bisa membatin tanpa melakukan apa-apa. Anak SMA, bisa apa?

Sekarang setelah pikiran saya sedikit lebih terbuka, saya semakin sadar bahwa justru kitalah yang membuat Dewi-Dewi ini menjadi lelucon. Coba perhatikan, di negara-negara lain, diskriminasi terhadap transgender itu dilarang keras, bahkan hukuman dapat dijatuhkan kepada mereka yang melakukannya. Persamaan gender dan kebebasan tiap-tiap individu untuk melakukan apapun, selama tidak merugikan orang lain, dijunjung tinggi. Tak perlulah sebut contoh negara barat, tetangga dekat kita, Thailand pun juga sudah menerapkan hal yang sama. Lantas, mengapa Indonesia masih ‘kolot’ terhadap hal ini?

Mungkin, kita masih terpaku pada ajaran nenek moyang yang tradisional dan cenderung religius, dimana tiap-tiap makhluk diciptakan berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan, dan bukan sesuatu diantara keduanya. Tapi toh, pada kenyataannya transgender juga ada, dan karena kita masih terpaku pada statement diataslah transgender ini menjadi sebuah fenomena dalam masyarakat. Jika kita diajarkan untuk bersikap toleran pada sesama, tidak hanya dengan latar belakang agama atau ras, mungkin tidak akan ada orang-orang yang takut pada mereka. Sering kan, kita dengar orang-orang yang takut banci atau apapun sebutan mereka terhadap Dewi-Dewi ini? Mungkin jika kita diajarkan untuk menganggap semua manusia itu sama dimata Tuhan, tidak akan ada lagi anak-anak yang membuntuti dan menertawai Dewi. Bukankah semua agama pada dasarnya mengajarkan tentang cinta kasih pada sesama? Mungkin jika kita diajarkan untuk saling menghargai satu sama lain, tidak perlu lagi ibu-ibu menggosipkan tetangga baru yang kekar namun cantik. Dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya dapat terealisasikan, jika saja kita yang hidup dalam zaman modern ini mau membuka mata dan berhenti mendiskriminasi orang-orang yang kita anggap berbeda, meskipun dengan tujuan bercanda sekalipun. Intinya, mengapa harus kita anggap mereka berbeda selama darah kita sama-sama berwarna merah dan udara yang kita hirup berasal dari sumber yang sama?

Kemudian saya lihat Mbak Dewi bernyanyi di atas panggung, dengan percaya diri tinggi bak artis ibukota. Saya tidak tahu secara pasti, namun saya yakin, banyak Dewi-Dewi lain yang belum berani membuka diri seperti Mbak Dewi yang sedang berada di atas panggung. Kita tidak pernah tahu seberapa besar usaha yang harus mereka lakukan untuk mampu menemukan rasa percaya diri sebesar itu, untuk dapat membuka diri ditengah-tengah masyarakat yang offensive dan kurang toleran. Semoga saja tidak hanya saya yang berpikiran seperti ini. Azab atau apapun itu bukan kuasa kita, tapi kehidupan sosial yang tanpa perbedaan tentu dapat kita wujudkan. Bukan belas kasihan yang dibutuhkan mereka, tapi toleransi.

P.S: Bukan, saya bukan transgender. Saya hanya yakin bahwa Mbak Dewi, Dewi, dan Dewi-Dewi lain juga punya perasaan, sama seperti kita.

Advertisements
Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: