Monthly Archives: March 2012

Kenaikan Harga BBM, Hal Tepat di Waktu yang Salah?

Sebagai pemerhati perekonomian rasanya sulit untuk tidak menelisik isu kenaikan harga BBM yang tengah ramai saat ini. Lusa,  akan menjadi hari bersejarah mengingat ketok palu disetujui atau tidak kenaikan BBM akan ditentukan besok melalui forum rapat paripurna DPR. Belum jelas apakah akan ada 1 atau 2 opsi yang akan di bawa ke paripurna besok, yang pasti, 1 poin yang akan masuk adalah opsi untuk menyepakati subsidi BBM sebesar Rp 137 tilyun dan subsidi listrik Rp 65 trilyun yang menuntut konsekuensi berupa pencabutan pasal 7 ayat 6 pada UU APBN 2012 yang melarang kenaikan harga BBM bersubsidi.

Continue reading

Advertisements
Categories: Dalam Pembangunan | Leave a comment

Dewi juga Manusia

Oleh: Achlam S. Basalamah

Siang itu teman saya tampak cantik dalam balutan busana warna kuning cerah dan wajah penuh riasan ala si empunya hajat. “Tau nggak, tadi yang dandanin gue namanya Mbak Dewi loh. Tapi dia cowok!” ujarnya. Dan sejurus kemudian, celetukan-celetukan terlontar, yang meskipun dengan nada bercanda, saya yakin mampu melukai hati sebagian pihak.

Memang benar, tampak ada seorang pria dengan gaya yang menarik perhatian lalu lalang di pesta tersebut. Sejauh pengamatan saya, gerak tubuh pria tersebut sungguh gemulai, bahkan lebih gemulai dari saya sendiri. Tanpa diberitahupun saya langsung tahu bahwa dialah Mbak Dewi yang dimaksud. Teringat lelucon-lelucon yang dibuat oleh teman saya tadi, dan tanpa disadari saya tenggelam dalam pikiran saya sendiri.

Beberapa tahun lalu, seorang penghuni baru datang menempati sebelah rumah saya. Biasanya, saya terlalu sibuk untuk mengetahui ada seorang pendatang baru di lingkungan rumah saya, namun pada saat itu, banyak sekali desas-desus yang beredar, termasuk dari ibu dan adik saya. Meski sampai detik ini saya tidak tahu namanya siapa, dalam artikel ini, sebut saja Dewi. Rambutnya panjang berwarna merah, kulitnya sawo matang, bekerja di bidang entertainment alias perias wajah artis. Apa yang spesial dari Dewi yang ini? Dia laki-laki.

Saya tidak mengenalnya dan bahkan hanya pernah sekali bertemu dengannya. Itupun tanpa sengaja. Lagi-lagi saya langsung bisa tahu itu Dewi. Waktu itu saya sedang dalam perjalanan pulang dan saya melihatnya sedang berjalan, dibuntuti oleh anak-anak kecil yang tertawa-tawa. Saat itu saya merasa kasihan dan bertanya-tanya, apa rasanya hidup menjadi bahan tertawaan? Dan benar, segala hal yang diceritakan oleh adik dan ibu saya pada waktu itu memang terlihat, ia jalan dengan tergesa, dengan anak-anak mengekor dibelakangnya. Tapi toh saya hanya bisa membatin tanpa melakukan apa-apa. Anak SMA, bisa apa?

Sekarang setelah pikiran saya sedikit lebih terbuka, saya semakin sadar bahwa justru kitalah yang membuat Dewi-Dewi ini menjadi lelucon. Coba perhatikan, di negara-negara lain, diskriminasi terhadap transgender itu dilarang keras, bahkan hukuman dapat dijatuhkan kepada mereka yang melakukannya. Persamaan gender dan kebebasan tiap-tiap individu untuk melakukan apapun, selama tidak merugikan orang lain, dijunjung tinggi. Tak perlulah sebut contoh negara barat, tetangga dekat kita, Thailand pun juga sudah menerapkan hal yang sama. Lantas, mengapa Indonesia masih ‘kolot’ terhadap hal ini?

Mungkin, kita masih terpaku pada ajaran nenek moyang yang tradisional dan cenderung religius, dimana tiap-tiap makhluk diciptakan berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan, dan bukan sesuatu diantara keduanya. Tapi toh, pada kenyataannya transgender juga ada, dan karena kita masih terpaku pada statement diataslah transgender ini menjadi sebuah fenomena dalam masyarakat. Jika kita diajarkan untuk bersikap toleran pada sesama, tidak hanya dengan latar belakang agama atau ras, mungkin tidak akan ada orang-orang yang takut pada mereka. Sering kan, kita dengar orang-orang yang takut banci atau apapun sebutan mereka terhadap Dewi-Dewi ini? Mungkin jika kita diajarkan untuk menganggap semua manusia itu sama dimata Tuhan, tidak akan ada lagi anak-anak yang membuntuti dan menertawai Dewi. Bukankah semua agama pada dasarnya mengajarkan tentang cinta kasih pada sesama? Mungkin jika kita diajarkan untuk saling menghargai satu sama lain, tidak perlu lagi ibu-ibu menggosipkan tetangga baru yang kekar namun cantik. Dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya dapat terealisasikan, jika saja kita yang hidup dalam zaman modern ini mau membuka mata dan berhenti mendiskriminasi orang-orang yang kita anggap berbeda, meskipun dengan tujuan bercanda sekalipun. Intinya, mengapa harus kita anggap mereka berbeda selama darah kita sama-sama berwarna merah dan udara yang kita hirup berasal dari sumber yang sama?

Kemudian saya lihat Mbak Dewi bernyanyi di atas panggung, dengan percaya diri tinggi bak artis ibukota. Saya tidak tahu secara pasti, namun saya yakin, banyak Dewi-Dewi lain yang belum berani membuka diri seperti Mbak Dewi yang sedang berada di atas panggung. Kita tidak pernah tahu seberapa besar usaha yang harus mereka lakukan untuk mampu menemukan rasa percaya diri sebesar itu, untuk dapat membuka diri ditengah-tengah masyarakat yang offensive dan kurang toleran. Semoga saja tidak hanya saya yang berpikiran seperti ini. Azab atau apapun itu bukan kuasa kita, tapi kehidupan sosial yang tanpa perbedaan tentu dapat kita wujudkan. Bukan belas kasihan yang dibutuhkan mereka, tapi toleransi.

P.S: Bukan, saya bukan transgender. Saya hanya yakin bahwa Mbak Dewi, Dewi, dan Dewi-Dewi lain juga punya perasaan, sama seperti kita.

Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Apa itu Generasi Hijau?

Tebing Preikestolen, di Stavanger, Norwegia

Terinspirasi oleh Pak Rhenald Kasali yang senang menantang mahasiswanya untuk memiliki passport dan pergi ke luar negeri, saya senang menantang mahasiswa untuk berpetualang dan mencoba menyatu dengan alam. Mahasiswa pun bertanya, “bagaimana, bu, caranya?” Caranya adalah dengan melakukan wisata petualangan, khususnya mendaki gunung atau menyelam (diving). Apa perlunya? Kurang lebih sama dengan apa yang dimaksud dengan Pak Rhenald, experiential learning itu sulit sekali disubstitusi. Maksud Pak Rhenald, kalau mereka melihat sendiri betapa bangsa lain dapat tertib dalam menyeberang, dapat disiplin dan tidak membuang sampah sembarangan, dan betapa bangsa lain memberi kehormatan yang tinggi untuk para pejalan kaki, perasaan malu sendiri akan muncul dengan sendirinya, perasaan iri akan turut muncul, dan sukur-sukur kalau pulang ke tanah air, ingin melakukan sesuatu yang tidak kalah baiknya dengan yang telah dilakukan oleh bangsa-bangsa lain tersebut. Saya termasuk yang mengalami perasaan tersebut ketika bersekolah di luar negeri. Syukurnya, saya termasuk yang pulang dengan semangat bahwa Indonesia harusnya juga bisa. Tapi tetap, ada kata, harusnya. Continue reading

Categories: Generasi Hijau | 1 Comment

Film Indonesia, Lovely Man, Ukir Prestasi di Festival Film Asia ke-6

Depok, salamduajari.com – Di tengah keringnya kualitas kebanyakan film nasional, berita ini cukup menyegarkan. Setidaknya bagi saya. Bagaimana tidak, cukup banyak film Indonesia yang dari judulnya saja membuat tidak selera, bahkan terkadang, ngeri untuk menontonnya. Contoh saja, Anda Puas Kami Loyo, Xtra Large, Oh, Tidak!,  Cowok Bikin Pusing, apalagi ini, Pelukan Janda Hantu Gerondong dan Pocong Mandi Goyang Pinggul. Ada juga ini nih, Dedemit Gunung Kidul, ya Tuhan banget ga sih? Namun itu semua belum ada apa-apanya. Ada lagi yang lebih bikin merinding, apa lagi kalau bukan, Kuntilanak Kesurupan! Ya Tuhan, Kuntilanak yang notabene sudah hantu aja bisa kesurupan! Ini baru namanya, buseeeet.

Tapi bagaimana pun juga, film-film di atas tidak dapat menggambarkan kondisi perfilman Indonesia seutuhnya. Ada juga kok sineas Indonesia yang menghasilkan karya seni berkualitas dan mengangkat cerita inspiratif. Seniman-seniman tersebut antara lain Mira Lesmana, Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen (Alenia Production), Nia Di Nata, Hanung Bramantryo, Garin Nugroho, Joko Anwar, dan sineas militan kreatif lainnya yang tidak dapat disebutkan secara satu-per-satu di sini, yang pasti Teddy Soeriaatmadja juga merupakan bagian dari sineas militan kreatif tersebut. Hal ini terbukti dari prestasi yang Ia (bersama tim) ukir di Festival Film Asia ke-6 di Hong Kong pada 20 Maret 2012 lalu. Berikut adalah berita lengkapnya yang dilansir dari http://www.mediaindonesia.com Continue reading

Categories: Berita Baik | Leave a comment

Kelabu Februari 2012, Cepatlah Berlalu

Entah ada apa dengan Februari 2012, yang pasti, bulan ini akan menjadi catatan penting tersendiri bagi kami yang bekerja dan berkarya di UKM CENTER FEUI.

Tahun yang baru seringkali diawali dengan semangat baru, refleksi dan kontemplasi atas hal dan peristiwa lalu, dan penetapan cita-cita baru. Kami di UKMC FEUI tak luput dari proses itu. Bulan Januari tahun ini kami awali dengan pembulatan semangat baru, refleksi diri atas kekurangan-kekurangan yang lalu, dan penjaringan harapan untuk hari esok yang harus lebih baik. Target-target yang ingin dicapai tahun ini pun digantungkan, diantaranya adalah penyusunan program pembinaan UKM yang terintegrasi, perbaikan sistem atau SOP, penguatan kapasitas SDM, dan replikasi UKMC FEUI di universitas-universitas lain di Indonesia. Dengan mengucapkan Dengan Nama Allah, kami bulatkan tekad untuk mencapai itu semua, dan berharap semoga alam semesta menyambut baik energi kami. Kalau bahasa orang Suku Sambas Kalimantan Barat, fenomena tersebut umum disebut dengan Langkah Kanan. “Semoga langkah kanan, ya, nak”, demikian biasanya ibu saya ketika mengantarkan langkah saya untuk meraih cita-cita. Continue reading

Categories: Warung Prosa | Leave a comment

Karya Mahasiswa: “On Poverty”

Pada semester ini kelas Ekonomi Kemiskinan turut dibuka dengan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Hal ini terkait kurikulum yang mewajibkan mahasiswa setidaknya mengambil 18 SKS mata kuliah yang diantar dengan Bahasa Inggris. Kelas Ekonomi Kemiskinan dalam konteks ini pun menjadi Economics of Poverty. Terkait dengan rangkaian kegiatan perkuliahan, kami melakukan kunjungan lapangan ke Koperasi Kasih Indonesia – koperasi simpan pinjam bagi masyarakat miskin di daerah Cilincing Jakarta Utara – yang digagas oleh Leonardo Kamilius, alumni FEUI angkatan 2004. Setelah kunjungan tersebut, mahasiswa diminta membuat essay mengenai “What is Poverty?” dan “How do you see it?”. Berikut adalah essay terbaik yang ditulis oleh Aria Gita Indira dengan judul “On Poverty”.

Adapun untuk cerita lengkap mengenai kunjungantersebut dapat  dibaca pada link berikut: https://salamduajari.com/2012/03/23/perjalanan-memahami-fenomena-kemiskinan/.

Continue reading

Categories: Dari Ruang Kelas | Leave a comment

Perjalanan Memahami Fenomena Kemiskinan

Dari judulnya seakan tulisan ini akan membahas suatu tema yang berat. Tidak juga sebenarnya. Karena melalui tulisan ini saya hanya ingin bercerita mengenai kunjungan lapangan yang dilakukan oleh saya beserta mahasiswa kelas Ekonomi Kemiskinan di FEUI. Perjalanan dilakukan pada 22 Februari 2012, berangkat dari FEUI Depok dengan Bus Depok – Pasar Minggu tanpa AC yang sengaja disewa dalam rangka mengkondisikan nuansa “petualangan” pada kunjungan lapangan kali ini. Berangkat pukul 11.20 WIB, rombongan tiba di Koperasi Kasih Indonesia, koperasi simpan pinjam yang digagas oleh alumni FEUI angkatan 2004 Leonardo Kamilius, pada sekitar pukul 13.20 WIB. Hari yang cerah (bahasa positif dari gerah) memperkuat nuansa petualangan pada kunjungan lapangan saat itu. Mengapa ke Koperasi Kasih Indonesia? Karena KKI memfokuskan layanannya untuk kalangan miskin yang notabene memiliki ketergantungan tinggi terhadap rentenir manakala si miskin mengalami shock atau kejadian kurang beruntung yang bersifat tidak terduga. Menurut hasil pengamatan Leon, tingkat suku bunga rentenir di daerah Cilincing tersebut adalah sekitar 30-40% per BULAN!

Continue reading

Categories: Warung Prosa | Leave a comment

Mengapa kita begitu cuek? – bagian 1

Foto ini diambil tepatnya pada 8 Maret 2012, di lingkungan kampus FEUI, Depok. Apa yang menarik dari foto ini?

Sebagai pihak yang sangat merasa “terganggu” dan menilai  cara pandang “buang sampah sembarangan itu tidak apa-apa karena nanti diambil oleh petugas kebersihan atau pemulung” yang masih membudaya di Indonesia tersebut sebagai budaya yang udik, tentu salamduajari merasa sangat kecewa melihat hal ini. Mengapa?

  1. Di lingkungan FEUI sebagai salah satu kampus terbaik di Indonesia saja masih terdapat warga yang bermental udik, lantas apa yang bisa diharapkan pada masyarakat Indonesia secara luas yang kebanyakan bertingkat pendidikan rendah?
  2. Kalau ternyata si pelaku tindakan udik tersebut bukanlah warga FEUI, misalnya tamu atau masyarakat sekitar yang memasuki kampus, tetap saja hal ini mengecewakan. Mengapa? Maka berarti warga FEUI sendiri masih memiliki sifat cuek terhadap lingkungannya, “yang buang bukan saya, mengapa harus saya yang memungutnya?”. Sampah tersebut hanyalah berupa gelas plastik, tak dibutuhkan kerja bakti untuk mengangkutnya, cukup dengan sedikit membungkuk lalu gunakan salah satu tangan untuk mengambilnya. Mudah sekali. Namun tampaknya hal tersebut  masih terasa sulit bagi kita.

Mengapa, ya, kita begitu cuek? Untuk perbandingan, berikut foto-foto yang diambil dari statiun kereta layang (skytrain) di Bangkok. Salam damai selalu.

Dapatkah kita melihat ketersediaan banyak tong sampah pada kedua gambar ini? Dapat pulakah kita melihat sampah yang terserak? Sekedar kudapan untuk renungan kita (just food for thoughts)

Categories: Dari Mana Saja | 1 Comment

Indonesia Pimpin Standarisasi Tempe di Dunia

Depok, salamduajari.com – Seru juga membayangkan standardisasi tempe benar-benar terealisasi. Terbayang bahwa nanti akan ada tempe premium dengan packaging yang tidak sekedar dililit daun pisang tanpa ada keterangan produk apa pun. Nanti akan ada tempe yang pada kemasannya terdapat informasi nutrisi, tanggal kadaluarsa, juga tentunya, berlogo SNI. Kalau hal tersebut benar-benar bisa terealisasi, tentu perjuangan untuk menjadikan tempe sebagai makanan Indonesia yang berhasil go internasional sudah semakin dekat. Paling tidak Indonesia sudah terpilih sebagai negara yang memimpin penetapan standar untuk tempe tersebut. Berita baik yang patut disyukuri. Berikut adalah berita mengenai hal tersebut yang dilansir dari http://www.tribunnews.com. Continue reading

Categories: Berita Baik | Leave a comment

Kemenkeu Publikasikan APBN-Live, Hal Baru yang Menarik!

Depok, salamduajari.com -Sebagian dari kalangan yang memantau secara cukup dekat kebijakan ekonomi pemerintah beserta pelaksanaannya, senang rasanya mengetahui bahwa pada tahun ini Kementerian Keuangan mempublikasikan APBN-live yang merupakan rangkuman Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara  2012. Hal ini merupakan berita baik, mengapa? Dengan membaca APBN live yang hanya sebanyak 1 halaman namun berisikan informasi yang cukup komprehensif.

Continue reading

Categories: Berita Baik | 1 Comment

Blog at WordPress.com.