#1 Quote Favorit

Peace - on king
Sumber: halaman path teman šŸ™‚
Advertisements

Aku dan Dilanku 1990

Akhirnya wikenĀ  lalu bisa nonton Dilanku 1990. Solo, mumpung mantan pacar mau temenin anak-anak dirumah.
Kalau makanan kuanggap apa ya film Dilanku? Bubur? Nasi padang, Tiramisu? Hari ini ku anggap dia Tiramisu, karena dia nikmat dimakan sebagai hidangan dessert setelah appetizer dan main course yang super enak!! Bagaimana tidak, jika hidangan sebelumnya sudah super enak, bagaimana aku harus menetapkan ekspektasiku untuk dessert? Kan deg-degan makannya. Bagaimana kalau film Dilanku tidak bagus?? Aku kan sudah baca novelnya?? Bagaimana kalau komentar orang-orang yang sudah nonton overrated??

Dilan sungguh personal bagiku. Aku dulu tak langsung menerima usulan mantan pacar atas nama Dilan untuk anak pertama kami. Tak sengaja saat aku ingin membeli pulpen baru di toko buku, ramai sekali novel Dilanku terjaja. Aku langsung beli dan membacanya. Lucu!! Indah!! Unik!! Terlebih karena motornya Dilan sama seperti motor mantan pacar. Akupun menjadi yakin untuk menerima usulan itu, dan bermufakat bersama untuk menamakan putra pertama kami Dilan Wirasatya Wibowo. Dilan, dalam bahasa inggris klasik Welsh juga berarti anak ombak, son of the wave. Aku suka sekali dengan maknanya, membuatku membayangkan Dilan sebagai orang yang mampu berselancar bersama ombak (kehidupan). Continue reading “Aku dan Dilanku 1990”

Berpikir dengan Nurani untuk Rakyat KetjilĀ 

Depok, 3 Oktober 2017 – Masih teringat jelas ketika saya mendengar seorang Ibu dari rumah tangga miskin mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah yang telah memberikan program Beras Miskin (Raskin). “Kami bersyukur banget ada Raskin, kapan lagi bisa beli beras Rp3000/kg, lumayan dapat jatah 10 kg per bulan”, demikian kira-kira ungkapnya riang. Mungkin seharusnya saya ikut senang, tapi yang ada saya justru miris. Mengapa? Karena saya tahu bahwa hak ibu itu harusnya 14kg/bulan dan harganya Rp1600/kg. Ini adalah modus korupsi paling elegan karena subjek yang dikorupsi haknya malah bisa dibuat merasa bersyukur dan berterima kasih.

 

Tahun ini Indonesia sudah 72 tahun merdeka, sejawat seumuran dengan Korea Selatan tapi nasib jauh berbeda. Dari segi Pendapatan Domestik Bruto memang tak terlalu jauh beda. Korea Selatan di sekitar $1,4 trilyun, sementara Indonesia di sektiar $932 milyar. Hanya karena penduduk Korea cuma sekitar 50 juta jiwa sementara kita 250 juta, tingkat pendapatan per kapita penduduknya menjadi jauh sekali berbeda. Di Korea Selatan tingkat pendapatan per penduduk sudah ada di kisaran $27.500 (sekitar Rp 360 juta/orang/tahun) dan kita masih metek di sekitar $3500 (sekitar Rp49juta/orang/tahun). Tingkat kepemilikan lahan petani disana sekitar 0,5 Ha per rumah tangga petani pada 1960an dan kini meningkat menjadi sekitar 1,5Ha. Sementara kita di Indonesia kebalikannya, dulu katanya sekitar 2Ha per rumah tangga, sekarang malah jadi kurang dari 0,5Ha. Jadi jelas ya, petani di Indonesia kondisinya jauh lebih terjepit dan marginal dibanding di Korea Selatan sana. Soal kemiskinan secara umum ga usah dibahas kali ya.. yang pasti stok orang miskin kita jauh lebih banyak.

Continue reading “Berpikir dengan Nurani untuk Rakyat KetjilĀ “

Teknik membaca cepat dan efektif

Rabu, 8 FEB 2017 – Setelah libur sebulan akhirnya masa perkuliahan dimulai lagi. Hari ini saya mengisi kelas Komunikasi Bisnis dan Teknik Penulisan Akademik. Tujuan sesi pertama ini memperkenalkan mahasiswa mengenai tujuan pembelajaran secara umum, ruang lingkup komunikasi, dan tujuan pembelajaran khusus untuk hari ini.

Secara umum kelas ini bertujuan agar mahasiswa dapat secara efektif melakukan komunikasi pasif – yang mencakup kegiatan membaca, mendengar, dan membaca gestur tubuh; mengolah dan menganalisis hasil komunikasi pasif dengan cara berpikir kritis yang melibatkan empati; dan kemudian menyampaikan hasil analisisnya tersebut melalui komunikasi aktif – yang mencakup kegiatan menulis, berbicara atau presentasi, dan peragaan gestur atau gerak tubuh (termasuk ekspresi wajah). Adapun untuk tujuan pembelajaran perdana hari ini, selain memberikan pengantar (penyampaian silabus dan materi pengantar komunikasi), mahasiswa juga diajak untuk berlatih membaca cepat namun tetap efektif.

Nah, kali ini saya mau berbagi soal hasil latihan membaca cepat yang terjadi di kelas tadi. Secara singkat bisa dirangkum ke dalam beberapa poin berikut:

1) Materi bacaan yang dilatihkan semuanya berbahasa Inggris, set B adalah potongan dari karya ilmiah, dan set A adalah potongan dari berita. Mahasiswa di bagi ke dalam 4 kelompok terdiri dari 5 orang. Pada putaran pertama latihan, 2 kelompok  harus membaca set A, dan 2 kelompok lainnya harus membaca set B. Semua bacaan hanya 1 halaman A4. Setelah membaca, mahasiswa diminta menuliskan intisari bacaan di belakang halaman dari kertas bacaan tadi. Mahasiswa diberi waktu 1 menit untuk menuliskan Intisari atau tema umum tersebut. Latihan kemudian dilanjutkan tanpa membahas tema dari masing-masing set bacaan.

2. Pada putaran kedua, kelompok mahasiswa yang tadinya membaca set A diminta membaca set B, dan sebaliknya. Namun sebelum mulai membaca, saya memberi tahu terlebih dulu soal teknik membaca cepat seperti apa. Setelah jelas baru mereka mulai membaca. Seperti pada putaran pertama, setiap mahasiswa diminta memasang stop-watch melalui handphone mereka masing-masing.

Bagaimanakah hasilnya?

1. Pada putaran pertama, ternyata semua mahasiswa membaca dari paragraf ke paragraf. Artinya, sebelum mereka yakin telah berhasil memahami maksud dari suatu paragraf, mereka akan berkutat di paragraf yang sama dan mengulang proses membaca mereka. Setelah saya tanya, rata-rata mereka mengulang membaca paragraf yang sama sebanyak 3-4 kali. Wajar mungkin ya? Karena naskah bacaan memang berbahasa Inggris. Dengan cara membaca seperti ini, secara gabungan mahasiswa membutuhkan waktu selama 6-10 menit untuk menyelesaikan 1 artikel (baik set 1 maupun 2).

2. Pada putaran kedua, sebelum membaca saya memberitahu semua mahasiswa untuk melakukan skimming atau baca cepat dari awal hingga akhir bacaan. Paham ga paham, mereka wajib melanjutkan proses membacanya dari paragraf ke paragraf, sampai artikel selesai. Setelah itu barulah mahasiswa bisa  melakukan  scanning secara natural. Proses apa itu? Setelah membaca cepat keseluruhan artikel, mahasiswa akan dapat merasakan bagian mana yang dia rasakan belum paham; bisa pula di benaknya sudah terekam kata-kata atau diksi yang Ia belum mengerti benar sehingga ingin membaca bagian spesifik itu lagi, supaya bisa lebih memahami artikel. Nah, proses itulah yang namanya proses scanning natural. Kenapa natural? Karena tidak ada rencana khusus, melainkan lebih seperti going with the flow aja.  Scanning yang tidak natural atau scanning terencana juga sangat bisa dan umum dilakukan, yaitu ketika kita sudah tahu ingin membaca suatu buku atau artikel karena ingin mengulik isu-isu tertentu. Maka pada saat membaca buku tersebut kita akan fokus memutar-murah mata kita untuk menemukan kata, paragraf, sub-judul, atau text-box yang mengandung isu yang sedang kita cari. Melihat daftar isi adalah cara yang umum dilakukan sebagai awal dari proses scanning terencana ini. Dalam mencari kutipan di badan-badan paragraf, biasanya teknik scanning dengan memfokuskan pandangan mata ke tengah halaman saya lalu sortir ke bawah (tanpa perlu membaca kalimat ya, karena scanning is different with skimming!)

Kembali ke bahasan kita ya. Nah, setelah membaca dengan cara skimming dan scanning natural, secara gabungan rentang waktu yang dibutuhkan untuk membaca hanya 2-6 menit saja lho! Namun kita mungkin bertanya, apakah dengan cara baca cepat mahasiswa tetap bisa menarik Intisari bacaan secara tepat? Untuk itu di putaran 2 ini mahasiswa kembali diminta menuliskan Intisari bacaan di balik kertas mereka masing-masing. Waktunya juga 1 menit.

3. Untuk mengevaluasi ketepatan penarikan Intisari atau tema bacaan, saya kemudian melakukan pembahasan di kelas dengan membandingkan intisari bacaan yang telah ditulis oleh mahasiswa di balik kertas tadi. Saat ini saya memiliki 4 kelompok sampel, yaitu: (1) Intisari set A yang dibaca pada putaran pertama, (2) Intisari set B yang dibaca pada putaran pertama, (3) Intisari set A yang dibaca pada putaran kedua, dan (4) Intisari set B yang dibaca pada putaran kedua. Saya pun kemudian melakukan perbandingan Intisari untuk masing-masing set bacaan.

  1. Hasilnya menunjukkan bahwa untuk set B (potongan karya ilmiah), semua kelompok kurang berhasil menangkap Intisari tulisan secara benar. Jadi baik kelompok yang membaca set B sebelum maupun setelah menggunakan cara baca cepat sama-sama gagal paham! Hehe. Wajar kali ya, karena bahasa atau istilah-istilah ilmiah memang sering kali tidak mudah dipahami. 
  2. Namun untuk set A, semua kelompok sama-sama berhasil menarik Intisari dengan benar! 
  3. Nah, keseluruhan hasil ini menunjukkan bahwa teknik baca cepat benar-benar bisa efektif dalam mengurangi waktu baca kita secara cukup signifikan (sekitar 50% lebih hemat waktunya), tanpa ada trade-off atau konsekuensi terhadap menurunnya kualitas pemahaman kita atas suatu materi bacaan. Kalau memang bahan bacaannya udah dari sononya susah, ya mau diapain juga ya.. itulah lika-liku cobaan kehidupan yang harus dilalui hehe. 

Demikian sharing saya kali ini. Mudah-Mudah2an bisa bermanfaat buat banyak orang, ga cuma mahasiswa FEUI aja. Saya aja dulu waktu S1 ga dapet pelajaran soal ini, taunya dari ngulik sendiri metode belajar atau baca yang paling sesuai buat saya. Jatohnya jadi lama proses “belajarnya” sampai akhirnya ketemu pola baca yang paling efisien. Kalau saya tahu teknik ini 6 bulan lebih cepat saja, kan artinya saya bisa punya setidaknya 180 jam extra untuk ngerjain hal lain!? Paling ga, saya mestinya bisa baca lebih banyak novel kan?  Hehe. Anyway, semoga yang sudah terlanjur terjadi sama saya ga perlu terjadi sama kamu-kamu semua. Selamat belajar, selamat membaca! 

PS: 

Berikut catatan waktu baca per artikel. Sama seperti set B, bacaan set D juga potongan artikel ilmiah.

Ulasan 12th WIEF – Desentralisasi Pertumbuhan dan Keadilan Ekonomi

Acara pertemuan besar 12th World Islamic Economic Forum 2016 di Jakarta baru saja berlalu. Teman seperjuangan yang namanya serupa tapi tak sama dengan saya ini sempat menuliskan review di hari kedua WIEF, yang menurut saya cukup elaboratif dan memberi insights yang menarik. Tulisan ini sudah dimuat di harian Republika pada kemarin, 5 Agustus 2016; sudah nongol di status Facebook penulis juga pada hari ini. 

Bagi kawan-kawan yang merindukan pembangunan dengan pemerataan, should read this.. This is a good food for our thought. Selamat membaca dan semoga manfaat. Amin

==== 

Desentralisasi Pertumbuhan dan Keadilan Ekonomi

Oleh: Dewi Hutabarat

Hari ini di Jakarta dibuka oleh Presiden Jokowi konferensi internasional 12th World Islamic Economic Forum 2016, dengan tema yang diangkat “Decentralizing Growth, Empowering Future Business”. Dari high level panel yang berjajar bersama Jokowi, terdapat total 14 negara termasuk Indonesia yang hadir. Namun saya kira pesertanya datang dari lebih banyak negara.

Masing-masing perwakilan negara memberi pidato yang isinya secara garis besar adalah pertama gambaran kondisi negara dalam rangka “promosi”, kedua seruan untuk bersama menanggulangi terorisme yang mengklaim sebagai “Islam” dan ketiga menyampaikan pemikiran, catatan, terhadap kondisi ekonomi global dan bagaimana masing-masing negara menyikapinya. Untuk yang terakhir ini, dalam berbagai versi dan titik tolak perspektif, hampir semua perwakilan negara menyerukan perlunya desain ulang sistem ekonomi, atau cara kita “berkegiatan ekonomi” yang mampu mengatasi persoalan kesenjangan (inequality) yang melebar dengan parah dimana-mana, yang mampu menyediakan lapangan pekerjaan terutama untuk generasi muda, dan merupakan sistem ekonomi yang lebih memastikan keadilan, inklusif, dan tidak merusak lingkungan.

Yang menarik adalah, “sistem ekonomi” yang dirindukan ini, dihubungkan dengan penekanan untuk meletakkan usaha mikro, kecil dan menengah (atau dalam bahasa trendynya, SMEs) sebagai pihak yang (semestinya) berperan besar. Kemudian penekanan juga diarahkan pada keterlibatan generasi muda, ekonomi kreatif, dan teknologi yang terus berubah dengan cepat dan makin mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia dan komunitas.

Selain itu, yang juga menarik adalah “Islamic Economy” yang pada umumnya diasosiakan pada praktik “halal” diposisikan secara lebih universal sebagai praktik etis dalam ekonomi seperti menjaga kualitas, memastikan kandungan produk aman, dan seterusnya. Selebihnya, di hari pertama 12th WIEF ini sesi-sesi memang lebih didominasi dengan pembahasan yang bersifat universal. Dengan kata lain, “Islamic Economy” tidak lalu menjadi sebuah terminologi yang bermakna “memisahkan” seolah hanya terkait orang Islam atau negara Islam. Sebaliknya, forum WIEF 2016 ini menantang diri sendiri untuk mampu menghasilkan simpul-simpul penting jawaban bagi berbagai persoalan dunia, yang dapat menjadi referensi bagi komunitas kecil hingga global, lintas negara, lintas budaya, dan dengan penghormatan tinggi pada keragaman.

Teknologi untuk Kesejahteraan

Presiden Jokowi dalam pidatonya menggarisbawahi hal-hal penting. Pertama, saat ini dunia mengalami perlemahan ekonomi, yang terlemah sejak Perang Dunia kedua. Lalu bahwa masyarakat Islam di seluruh dunia seharusnya berperan penting untuk menjawab berbagai masalah sosial. Presiden menyayangkan masyarakat Islam pada umumnya kurang berperan dalam inovasi teknologi sehingga semakin kurang mampu mempengaruhi perubahan dunia. Masyarakat muslim juga kurang dalam hal penguasaan media sehingga tidak mampu menjaga persepsi publik terhadap Islam.

Presiden menyayangkan masyarakat Islam pada umumnya kurang berperan dalam inovasi teknologi sehingga semakin kurang mampu mempengaruhi perubahan dunia. Masyarakat muslim juga kurang dalam hal penguasaan media sehingga tidak mampu menjaga persepsi publik terhadap Islam.

Dalam konteks teknologi, Presiden Jokowi memberi pernyataan yang patut diberi stabilo: bahwa teknologi harus diakui menciptakan pemenang dan pecundang, dan bahwa inovasi yang dikembangkan hanya demi kepentingan inovasi itu sendiri, apalagi demi keserakahan, inilah yang akan semakin memperburuk kesenjangan, kemiskinan dan berbagai masalah sosial. Maka teknologi selayaknya dikembangkan untuk kepentingan memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Untuk itu pemerintahlah yang berperan utama untuk mendorong agar dikembangkan teknologi yang dapat memastikan kepentingan masyarakat terakomodasi.

Sayangnya, elaborasi Presiden pada strategi ekonomi yang lebih menjamin keadilan dan mampu mengatasi berbagai persoalan utama masyarakat terasa sangat kurang. Untuk masalah “job creation” misalnya, Presiden hanya menyebutkan “harus membangun Industri untuk membuka lapangan pekerjaan” (dengan slide menunjukkan foto pabrik besar) seolah mengatakan bahwa strategi pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja bertumpu pada upaya mendorong tumbuhnya lebih banyak pabrik. Artinya, lebih banyak investor besar yang berinvestasi mendirikan pabrik besar. Artinya juga, peran usaha mikro, kecil dan menengah (termasuk koperasi dan usaha komunitas) sebagai tulang punggung ekonomi belum sungguh-sungguh digali menjadi strategi negara.

Teka Teki yang Tersisa

Dari bermacam pembahasan di panel-panel yang berbeda selama hari pertama WIEF Jakarta ini, sering mengemuka adanya kesadaran bahwa praktik-praktik ekonomi yang berlangsung di dunia saat ini pada umumnya “terbukti” menghasilkan kesenjangan dan ketidakadilan yang makin melebar. Timbul pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah praktik ekonomi yang bersifat global, kapitalistik, liberal, masih relevan untuk dipertahankan bahkan dipelihara dan dikembangkan? Apakah bukannya kita perlu membangun pola-pola praktik ekonomi yang menekankan pada etika, membangun (dan dibangun oleh) kolaborasi dan solidaritas, dan untuk itu usaha berskala SMEs mustinya harus “playing a bigger role”?

Di sisi lain, dalam panel-panel juga diungkapkan fenomena bagaimana teknologi yang berkembang kini semakin meningkatkan kemampuan komunitas masyarakat untuk memenuhi sebagian kebutuhannya sendiri. Misalnya, teknologi keuangan yang memungkinkan orang dapat bertransaksi dimanapun, dan tidak perlu keluar dari komunitasnya. Atau teknologi 3D Printer yang memungkinkan komunitas dapat membuat sendiri berbagai barang kebutuhannya.

Berbagai lompatan perkembangan teknologi ini, bukankah sedang mengubah masyarakat menjadi semakin mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dan semakin mengurangi ketergantungan pada produsen berskala besar? Bukankah berarti teknologi juga sedang mengubah cara orang berkegiatan ekonomi, dan itu bisa berarti “pabrik besar” akan semakin tidak relevan di masa depan?

Berbagai teknologi yang dikembangkan untuk memudahkan masyarakat akan terus berproses melahirkan banyak kejutan bentuk-bentuk “future businesses”. Bagaimana agar bentuk-bentuk usaha masa depan ini, dapat didukung dari sekarang dan sengaja didorong agar semakin memudahkan komunitas membangun kedaulatan pertumbuhan ekonominya sendiri?

Bisakah, atau mestikah kita, dengan SENGAJA mendesain strategi dan melaksanakan pengembangan teknologi dan cara berkegiatan ekonomi yang mampu membuat komunitas mandiri dalam mendorong pertumbuhan ekonominya sendiri, dan kemudian mengembangkan kolaborasi dengan berbagai komunitas lainnya, saling bertukar manfaat dan dengan menjunjung etika untuk tidak saling mematikan bisnis-bisnis lain. Kolaborasi menjadi kata kunci yang dipakai. Kompetisi menjadi semakin tidak relevan dan ditinggalkan.

Apakah seperti ini yang dimaksud sebagai bentuk “desentralisasi pertumbuhan” dengan dukungan teknologi yang dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat seperti yang dikatakan Jokowi?

Lebih jauh lagi, desentralisasi pertumbuhan di tingkat komunitas, dan di skala usaha mikro kecil menengah, juga “memikul” niatan dan harapan dari panel tingkat tinggi WIEF 2016 yang meletakkan keragaman agama dan budaya, serta upaya penciptaan perdamaian dan solidaritas, sebagai bagian tak terpisahkan dari bangunan sistem ekonomi dan dari setiap kegiatan ekonomi. Ditambah lagi, kesadaran terhadap generasi muda yang makin kreatif, makin mudah mengakses informasi, memaksa untuk mengoreksi pengadaan lapangan kerja yang melulu mekanistis seperti yang terjadi pada buruh-buruh pabrik. Belum lagi soal keadilan dan banyaknya persoalan HAM dalam masalah perburuhan. Kini semakin tajam pertanyaan yang tertinggal: dengan pola strategi ekonomi seperti apa yang mampu memenuhi harapan-harapan indah tadi?

Hari kesatu WIEF 2016 masih menyisakan tanya besar ini. Mari berharap dalam 2 hari selanjutnya akan kita temukan potongan-potongan utama dari puzzle sistem ekonomi baru yang diidamkan banyak pihak di masa dimana warga dunia terbagi dalam “the 99% vs 1%”.

Dewi Hutabarat

Pengurus KADIN

Wakil Ketua Komisi Tetap

Ekonomi Kerakyatan dan Koperasi, dibawah Wakil Ketua Bidang UMKM Koperasi dan Ekonomi Kreatif