Bagi yang ingin tahu soal bagaimana memulai sebuah social enterprise atau membangun usaha sosial, silakan Unduh buku ini di link berikut: go.dbs.com/SE-HANDBOOK

Banyak pula isi dari buku ini yang relevan bagi para wirausaha pemula pada umumnya atau yg tidak memiliki misi sosial tertentu..

Semoga bermanfaat. Amin

View on Path

Categories: Tentang Salamduajari | Leave a comment

Ulasan 12th WIEF – Desentralisasi Pertumbuhan dan Keadilan Ekonomi

Acara pertemuan besar 12th World Islamic Economic Forum 2016 di Jakarta baru saja berlalu. Teman seperjuangan yang namanya serupa tapi tak sama dengan saya ini sempat menuliskan review di hari kedua WIEF, yang menurut saya cukup elaboratif dan memberi insights yang menarik. Tulisan ini sudah dimuat di harian Republika pada kemarin, 5 Agustus 2016; sudah nongol di status Facebook penulis juga pada hari ini. 

Bagi kawan-kawan yang merindukan pembangunan dengan pemerataan, should read this.. This is a good food for our thought. Selamat membaca dan semoga manfaat. Amin

==== 

Desentralisasi Pertumbuhan dan Keadilan Ekonomi

Oleh: Dewi Hutabarat

Hari ini di Jakarta dibuka oleh Presiden Jokowi konferensi internasional 12th World Islamic Economic Forum 2016, dengan tema yang diangkat “Decentralizing Growth, Empowering Future Business”. Dari high level panel yang berjajar bersama Jokowi, terdapat total 14 negara termasuk Indonesia yang hadir. Namun saya kira pesertanya datang dari lebih banyak negara.

Masing-masing perwakilan negara memberi pidato yang isinya secara garis besar adalah pertama gambaran kondisi negara dalam rangka “promosi”, kedua seruan untuk bersama menanggulangi terorisme yang mengklaim sebagai “Islam” dan ketiga menyampaikan pemikiran, catatan, terhadap kondisi ekonomi global dan bagaimana masing-masing negara menyikapinya. Untuk yang terakhir ini, dalam berbagai versi dan titik tolak perspektif, hampir semua perwakilan negara menyerukan perlunya desain ulang sistem ekonomi, atau cara kita “berkegiatan ekonomi” yang mampu mengatasi persoalan kesenjangan (inequality) yang melebar dengan parah dimana-mana, yang mampu menyediakan lapangan pekerjaan terutama untuk generasi muda, dan merupakan sistem ekonomi yang lebih memastikan keadilan, inklusif, dan tidak merusak lingkungan.

Yang menarik adalah, “sistem ekonomi” yang dirindukan ini, dihubungkan dengan penekanan untuk meletakkan usaha mikro, kecil dan menengah (atau dalam bahasa trendynya, SMEs) sebagai pihak yang (semestinya) berperan besar. Kemudian penekanan juga diarahkan pada keterlibatan generasi muda, ekonomi kreatif, dan teknologi yang terus berubah dengan cepat dan makin mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia dan komunitas.

Selain itu, yang juga menarik adalah “Islamic Economy” yang pada umumnya diasosiakan pada praktik “halal” diposisikan secara lebih universal sebagai praktik etis dalam ekonomi seperti menjaga kualitas, memastikan kandungan produk aman, dan seterusnya. Selebihnya, di hari pertama 12th WIEF ini sesi-sesi memang lebih didominasi dengan pembahasan yang bersifat universal. Dengan kata lain, “Islamic Economy” tidak lalu menjadi sebuah terminologi yang bermakna “memisahkan” seolah hanya terkait orang Islam atau negara Islam. Sebaliknya, forum WIEF 2016 ini menantang diri sendiri untuk mampu menghasilkan simpul-simpul penting jawaban bagi berbagai persoalan dunia, yang dapat menjadi referensi bagi komunitas kecil hingga global, lintas negara, lintas budaya, dan dengan penghormatan tinggi pada keragaman.

Teknologi untuk Kesejahteraan

Presiden Jokowi dalam pidatonya menggarisbawahi hal-hal penting. Pertama, saat ini dunia mengalami perlemahan ekonomi, yang terlemah sejak Perang Dunia kedua. Lalu bahwa masyarakat Islam di seluruh dunia seharusnya berperan penting untuk menjawab berbagai masalah sosial. Presiden menyayangkan masyarakat Islam pada umumnya kurang berperan dalam inovasi teknologi sehingga semakin kurang mampu mempengaruhi perubahan dunia. Masyarakat muslim juga kurang dalam hal penguasaan media sehingga tidak mampu menjaga persepsi publik terhadap Islam.

Presiden menyayangkan masyarakat Islam pada umumnya kurang berperan dalam inovasi teknologi sehingga semakin kurang mampu mempengaruhi perubahan dunia. Masyarakat muslim juga kurang dalam hal penguasaan media sehingga tidak mampu menjaga persepsi publik terhadap Islam.

Dalam konteks teknologi, Presiden Jokowi memberi pernyataan yang patut diberi stabilo: bahwa teknologi harus diakui menciptakan pemenang dan pecundang, dan bahwa inovasi yang dikembangkan hanya demi kepentingan inovasi itu sendiri, apalagi demi keserakahan, inilah yang akan semakin memperburuk kesenjangan, kemiskinan dan berbagai masalah sosial. Maka teknologi selayaknya dikembangkan untuk kepentingan memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Untuk itu pemerintahlah yang berperan utama untuk mendorong agar dikembangkan teknologi yang dapat memastikan kepentingan masyarakat terakomodasi.

Sayangnya, elaborasi Presiden pada strategi ekonomi yang lebih menjamin keadilan dan mampu mengatasi berbagai persoalan utama masyarakat terasa sangat kurang. Untuk masalah “job creation” misalnya, Presiden hanya menyebutkan “harus membangun Industri untuk membuka lapangan pekerjaan” (dengan slide menunjukkan foto pabrik besar) seolah mengatakan bahwa strategi pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja bertumpu pada upaya mendorong tumbuhnya lebih banyak pabrik. Artinya, lebih banyak investor besar yang berinvestasi mendirikan pabrik besar. Artinya juga, peran usaha mikro, kecil dan menengah (termasuk koperasi dan usaha komunitas) sebagai tulang punggung ekonomi belum sungguh-sungguh digali menjadi strategi negara.

Teka Teki yang Tersisa

Dari bermacam pembahasan di panel-panel yang berbeda selama hari pertama WIEF Jakarta ini, sering mengemuka adanya kesadaran bahwa praktik-praktik ekonomi yang berlangsung di dunia saat ini pada umumnya “terbukti” menghasilkan kesenjangan dan ketidakadilan yang makin melebar. Timbul pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah praktik ekonomi yang bersifat global, kapitalistik, liberal, masih relevan untuk dipertahankan bahkan dipelihara dan dikembangkan? Apakah bukannya kita perlu membangun pola-pola praktik ekonomi yang menekankan pada etika, membangun (dan dibangun oleh) kolaborasi dan solidaritas, dan untuk itu usaha berskala SMEs mustinya harus “playing a bigger role”?

Di sisi lain, dalam panel-panel juga diungkapkan fenomena bagaimana teknologi yang berkembang kini semakin meningkatkan kemampuan komunitas masyarakat untuk memenuhi sebagian kebutuhannya sendiri. Misalnya, teknologi keuangan yang memungkinkan orang dapat bertransaksi dimanapun, dan tidak perlu keluar dari komunitasnya. Atau teknologi 3D Printer yang memungkinkan komunitas dapat membuat sendiri berbagai barang kebutuhannya.

Berbagai lompatan perkembangan teknologi ini, bukankah sedang mengubah masyarakat menjadi semakin mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dan semakin mengurangi ketergantungan pada produsen berskala besar? Bukankah berarti teknologi juga sedang mengubah cara orang berkegiatan ekonomi, dan itu bisa berarti “pabrik besar” akan semakin tidak relevan di masa depan?

Berbagai teknologi yang dikembangkan untuk memudahkan masyarakat akan terus berproses melahirkan banyak kejutan bentuk-bentuk “future businesses”. Bagaimana agar bentuk-bentuk usaha masa depan ini, dapat didukung dari sekarang dan sengaja didorong agar semakin memudahkan komunitas membangun kedaulatan pertumbuhan ekonominya sendiri?

Bisakah, atau mestikah kita, dengan SENGAJA mendesain strategi dan melaksanakan pengembangan teknologi dan cara berkegiatan ekonomi yang mampu membuat komunitas mandiri dalam mendorong pertumbuhan ekonominya sendiri, dan kemudian mengembangkan kolaborasi dengan berbagai komunitas lainnya, saling bertukar manfaat dan dengan menjunjung etika untuk tidak saling mematikan bisnis-bisnis lain. Kolaborasi menjadi kata kunci yang dipakai. Kompetisi menjadi semakin tidak relevan dan ditinggalkan.

Apakah seperti ini yang dimaksud sebagai bentuk “desentralisasi pertumbuhan” dengan dukungan teknologi yang dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat seperti yang dikatakan Jokowi?

Lebih jauh lagi, desentralisasi pertumbuhan di tingkat komunitas, dan di skala usaha mikro kecil menengah, juga “memikul” niatan dan harapan dari panel tingkat tinggi WIEF 2016 yang meletakkan keragaman agama dan budaya, serta upaya penciptaan perdamaian dan solidaritas, sebagai bagian tak terpisahkan dari bangunan sistem ekonomi dan dari setiap kegiatan ekonomi. Ditambah lagi, kesadaran terhadap generasi muda yang makin kreatif, makin mudah mengakses informasi, memaksa untuk mengoreksi pengadaan lapangan kerja yang melulu mekanistis seperti yang terjadi pada buruh-buruh pabrik. Belum lagi soal keadilan dan banyaknya persoalan HAM dalam masalah perburuhan. Kini semakin tajam pertanyaan yang tertinggal: dengan pola strategi ekonomi seperti apa yang mampu memenuhi harapan-harapan indah tadi?

Hari kesatu WIEF 2016 masih menyisakan tanya besar ini. Mari berharap dalam 2 hari selanjutnya akan kita temukan potongan-potongan utama dari puzzle sistem ekonomi baru yang diidamkan banyak pihak di masa dimana warga dunia terbagi dalam “the 99% vs 1%”.

Dewi Hutabarat

Pengurus KADIN

Wakil Ketua Komisi Tetap

Ekonomi Kerakyatan dan Koperasi, dibawah Wakil Ketua Bidang UMKM Koperasi dan Ekonomi Kreatif

Categories: Dalam Pembangunan | Tags: , , , | Leave a comment

https://hbr.org/2016/07/can-capitalism-be-redeemed?utm_campaign=harvardbiz&utm_source=twitter&utm_medium=social

Categories: Tentang Salamduajari | Leave a comment

Surat Pamit Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan

Farewell Pak Anies.. I share the same hope as you.. Terima kasih ya Pak!

———-

Kepada Yth. Ibu/Bapak Guru. Kepala Sekolah. dan Tenaga Kependidikan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selama 20 bulan ini saya mendapatkan kehormatan menjalankan sebuah amanah konstitusi dan amanah dari Allah SWT untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa lewat jalur pemerintahan. 

Hari ini saya mengakhiri masa tugas di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tugas ini telah dicukupkan. Saya ucapkan terima kasih dan apresiasi pada Presiden Jokowi yang telah memberikan kehormatan ini.
Tugas besar ini mendasar karena pendidikan dan kebudayaan menyangkut masa depan kita. masa depan bangsa tercinta.
Sejak bertugas di Kemendikbud. Saya meneruskan kebiasaan berkeliling ke penjuru Indonesia ke sudut-sudut Nusantara berbincang langsung dengan ribuan guru dan tenaga kependidikan. 

Saya menemukan mutiara-mutiara berkilauan di sudut-sudut tersulit Republik ini. Dinding kelas bisa reyot dan rapuh, tapi semangat guru, siswa dan orangtua tegak kokoh. Dalam berbagai kesederhanaan fasilitas sebuah PR besar Pemerintah. Saya melihat gelora keceriaan belajar yang luar biasa.
Ibu dan Bapak yang amat saya hormati. kami sebangsa menitipkan persiapan masa depan Republik ini di sekolah tampak hadir bukan saja wajah anak-anak tapi juga wajah masa depan Indonesia. Teruslah songsong anak-anak itu dengan hati dan sepenuh hati. 
Ijinkan mereka menyambut dengan hati pula. Jadikan pagi belajar pagi yang cerah. Sesungguhnya bukan matahari yang menjadikan cerah. tapi mata-hati tiap anak tiap guru yang menjadikannya cerah.
Di hari terakhir saya bertugas di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. ijinkan saya menyampaikan harapan kepada Ibu dan Bapak semua harapan agar perubahan dalam pendidikan terus menuju ke arah yang lebih baik.
Mari kita teguhkan komitmen untuk menjadikan sekolah sebagai taman yang penuh tantangan dan menyenangkan bagi semua warga sekolah. 
Mari kita pastikan bahwa sekolah menjadi tempat di mana anak-anak kita tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya. 

Memenuhi potensi unik dirinya dan kita jadikan sekolah sebagai sumur amal yang darinya akan mengalir pahala tanpa henti bagi lbu dan Bapak semua. 
Ibu dan Bapak teruslah bergandengan erat dengan orangtua. bersama-sama menuntun anak-anak meraih masa depannya menjawab tantangan jamannya. melamani cita-citanya.
Saya titipkan kepada Ibu dan Bapak Guru berbagai perubahan yang telah kita mulai bersama. baik dalam bentuk peraturan-peraturan baru yang mendorong ekosistem sekolah menyenangkan dan bebas dari kekerasan maupun melalui pembiasaan dan praktik baik di sekolah.

Ibu dan Bapak yang saya banggakan. 
Menteri boleh berganti. tapi ikhtiar kita semua dalam mendidik anak-anak bangsa tak boleh terhenti masih banyak pekerjaan rumah Pemerintah yang harus ditunaikan bagi guru dan tenaga pendidikan. saya percaya itu semua akan dituntaskan.

Mari kita lanjutkan perjuangan dan dukungan pada komitmen pemerintah dalam membangun sekolah menyenangkan serta jaga stamina raga, rasa dari cipta Ibu dan Bapak semua.
Ijinkan saya pamit sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. teriring rasa terima kasih juga permohonan maaf tak hingga atas segala khilaf yang ada. 

Salam hormat saya untuk Ibu dan Bapak semua dan kita teruskan ikhitiar mencerdaskan kehidupan bangsa ini.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. (27 Juli 2016)

Categories: Dalam Pembangunan | Tags: , , | Leave a comment

Seminar Koperasi untuk Pembangunan Berkelanjutan di FEB UI

senang melihat meningkatnya perhatian FEB UI terhadap perkoperasian di Indonesia.
Hari ini RPM FEB UI menyelenggarakan seminar dalam rangka peringatan Hari Koperasi Internasional (21 Juli) dan Hari Koperasi Nasional (12 Juli), dengan tema “Cooperatives for Suistanable Future”

Rabu, 27 Juli 2016, pkl 09.00-13.00, bertempat di Aula MMUI Jakarta

Acara ini dibuka oleh Bapak Dekan FEB UI, Prof. Ari Kuncoro, dengan pembicara Ibu Dewi Meisari (Dosen Koperasi FEB UI), Bp. Munaldus Nerang (Ketua Induk Koperasi Usaha Rakyat), dan Ibu Anjani Amitya Kirana (Tenaga Profesioal BNP2TKI), dg moderator Bp. Abdillah Ahsan (Dosen Koperasi FEB UI, penggagas dan koordinator acara hari ini).

Sebagai bentuk inisiasi dari Tim Dosen Koperasi FEB UI, acara hari ini alhamdulillaah berjalan lancar. Peserta yang hadir di atas prediksi dan berasal dari berbagai layar belakang, baik akademisi, praktisi, maupun media. Hanya perwakilan dari pengambil kebijakan – khususnya Kementerian Koperasi dan UKM – yang tidak hadir. Tapi seluruh peserta tampak antusias dan berharap agar FEB UI dapat terus menyelenggarakan acara seperti hari ini, tidak hanya untuk menambah wawasan tp juga untuk membangun Kerekatan hubungan (social capital) antara praktisi dan penggiat koperasi, sehingga bisa berkolaborasi untuk melakukan hal yang lebih besar di kemudian hari.


Dari pertemuan hari ini ada beberapa kesimpulan utama:

1. Koperasi berpotensi untuk menjadi solusi dalam pembangunan berkualitas yang disertai pemerataan. Terdapat pola bahwa di negara2 yg koperasinya maju, tingkat ketimpangan (koefisien gini) rendah. Kasus menonjol adalah Perancis yang koefisien gini-nya sekitar 0.3 (rendah), dan gabungan omset dari 48 koperasi terbesar disana saja sudah setara dengan sekitar 17% PDB Perancis.

2. Praktisi koperasi perlu sesekali keluar dari rutinitas mengurus kegiatan dan kepentingan anggotanya saja, yaitu dengan terus mengikuti perkembangan dunia bisnis, sehingga bisa mengelola koperasinya dengan helikopter view juga.

3. Mengelola kebutuhan TKI secara end-to-end sangat diperlukan dan koperasi adalah bentuk kelembagaan yang tepat untuk itu, agar calon TKI tidak perlu lagi berhutang ke rentenir untuk bisa berangkat ke negara tujuan, dan agar dana remitansinya yang per akhir 2015 ini sekitar USD 9.5 milyar atau Rp 120 triliun juga bisa lebih dimanfaatkan untuk kegiatan produktif di daerah asalnya masing-masing. Sehingga TKI tidak hanya bisa menjadi pahlawan devisa, tapi juga bisa menjadi pahlawan Desa

4. Konglomerasi sosial dapat dikembangkan melalui koperasi dengan mengembangkan koperasi sebagai semacam holding yang memiliki berbagai unit usaha yang kegiatan bisnisnya bergerak di bidang-bidang yang dibutuhkan anggota. Contohnya adalah Koperasi Kredit (CU) Keling Kumang di Kalimantan Barat yang memiliki SMK untuk tempat sekolah anak-anak anggota, unit usaha bidang pengelolaan pemakaman, toserba modern, dan unit usaha pembiayaan sepeda motor.

5. Pesan dekan, ke depan semoga pengajaran koperasi tidak mentok dikelola dengan metode ceramah, presentasi kelompok, dan kunjungan lapangan saja; tapi juga ada FGD, studi kasus, dan role play.

Hari ini adalah suatu langkah nyata kecil dari kami. Insya Allah acara seperti ini bisa diselenggarakan lebih sering di kampus, sehingga bisa memberi dampak yang lebih nyata bagi perkembangan koperasi di Indonesia. Kalau mengutip kata Mas Abdillah, semoga kita tidak hanya menjadi “ustadz” (yang urusannya selesai hanya sampai menyampaikan apa yang baik), tapi juga menjadi “advocate” (yang urusannya tidak selesai pada menyampaikan saja, tapi juga memantau dan mendampingi sampai perubahan positif yang diharapkan terjadi).

Categories: Dari Forum Diskusi | Tags: , , , | Leave a comment

Puisi untuk Nenek

Dalam Doaku

(Oleh Dewi Meisari, terinspirasi oleh Puisi Sapardi Joko Damono)

 

Dalam doaku subuh ini

Kuangankan sendu matamu menjadi damai

Kubayangkan kaku bibirmu menjadi luwes tersenyum

Ketika matahari menyapa

Dalam doaku

Tak henti-henti kubisikkan angin agar menyejukkan jiwamu

Tak henti-henti kurayu awan agar teduhkan hatimu

Dalam doaku sore ini

Ku jelmakan gagak itu menjadi kenari

Ku jelmakan kicau seram itu menjadi alunan nada merdu, untukmu

Ketika matahari tenggelam

Kubayangkan lilin-lilin kecil hiasi malammu

Tenangkan pikiranmu lewat romansa sinar sayunya

Dalam doaku malam ini

Ku mogakan agar hanya mimpi indah yang temani tidurmu

Ku mogakan agar harmoni suara-suara alam hiasi masa menunggumu

 

Aku mencintaimu

Karenanya,

Takkan pernah selesai aku

Mendoakan kedamaian dan kebahagiaanmu

Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Dear Pak Prabowo, Would you be our Hero?

image

Akhirnya saya putuskan untuk mempublikasikan aspirasi politik saya untuk kedua kalinya. Kali ini berupa surat terbuka untuk Pak Prabowo. Curahan hati ini terpicu oleh wawancara Pak Prabowo di BBC News Impact 11 Juli 2014 (silakan saja nonton videonya di youtube). Mungkin karena itulah otak saya berpikir dalam bahasa inggris waktu itu. Jadi deh surat terbukanya dalam bahasa Inggris. Ini murni aspirasi pribadi. Saya tidak mengajak orang lain untuk berpandangan sama. Tapi saya juga akan menghargai jika pandangan saya ini dibiarkan, dan tidak perlu dicaci maki. Lakum dii nukum waliyadiin. Biarkan aku dengan keyakinanku, kamu dengan keyakinanku. Akan selalu ada jalan damai untuk mufakat: karena kita selalu bisa bersepakat untuk tidak bersepakat. Agree to disagree🙂

Sekian prolognya, berikut curahan hati saya untuk Pak Prabowo.

Dear Pak Prabowo,

I was enchanted by your charisma, also by your high spirit and patriotic vision to work for a more prosperous Indonesia. I gave my vote for your party several times, but why do you now seem to be blinded by your ambition to be our president?  What in the world happened to you? Your coallition scares me. Your own quick counts bother me. Your inconsistent attitude on election result, disappoints me. You have massive wealth. You are actually the wealthiest presidential candidate. Why does it seem that to you there is only one way to bring indonesia to be more prosperous? Do you have to be our president first before you can make us prosperer and re-become the Macan Asia?

Well, do you know Bill Gates, Pak? He is not a president of any countries but his work and wealth have helped and stimulated a lot positive changes in the world. I hope you know him. I also hope that instead of aspiring to become our “Bung Karno”, you can eventually realize that it will be much more useful if you would become our “Bill Gates”.


Continue reading

Categories: Koridor Opini | Tags: , , , | 2 Comments

Pilpres sebentar lagi, kita pilih siapa? (Sebuah renungan)

Kemarin seharian istirahat dari berita politik, badan agak demam juga. Baru hari ini baca lagi ternyata Partai Demokrat sudah resmi mendukung Prabowo-Hatta. Pak SBY – tetap konsisten dengan perilakunya yang sangat safety player dan tricky – akhirnya harus menjilat ludahnya sendiri karena batal ambil posisi netral. Entah kenapa, fakta ini memberikan saya kekuatan untuk menulis, dan kejelasan. Setelah galau cukup lama, kini mantap sudah pilihan.

Saya sesungguhnya menyukai sosok Bapak Prabowo, dan bisa merasakan adanya ketulusan dan patriotisme beliau untuk membangun negeri. Namun sayang sekali, saya dibuat takut oleh konstelasi koalisinya, yang bagi saya lebih seperti koalisi hawa nafsu para elit yang ingin mempertahankan status quo untuk melindungi kepentingannya masing-masing. Koalisi Prabowo-Hatta tempat berkumpulnya orang-orang kaya duit namun miskin rekam jejak dan prestasi dalam mensejahterakan rakyat kecil.

Continue reading

Categories: Dalam Pembangunan | Tags: , , , , | Leave a comment

Berdoa dan Usaha

Salamduajari, Depok – Berdoa dan usaha, atu ora et labora sudah menjadi mantera kehidupan saya sejak lama. Tak sah memang rasanya jika proses usaha untuk meraih cita-cita tidak disertai doa. Apalagi sebaliknya.

Hari ini ke kantor MNC Tower untuk talkshow di MNC Business, membicarakan soal dampak kenaikan listrik nanti bagi UKM dan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Lalu di dalam lobi kantornya saya melihat pemandangan ini. “Ya, ini hari Jumat”, dalam hati. Jadi merasa diingatkan lagi: ora et labora. Semoga cita-cita kawan-kawan salamduajari tercapai! Amiiin. Oh ya, happy weekend!

image

Categories: Dari Mana Saja | Tags: , | Leave a comment

Sudut Pandang: what we think, what we become

 

apapun bisa dicelaHari ini seseorang, yang merupakan sosok guru dan sahabat bagi saya, mengirimkan gambar ini. Bagi saya menarik sekali. Kalau dicari, kesalahan pasti akan ada saja. Tergantung mau pakai sudut pandang yang mana. Saya jadi mikir, sepertinya saya termasuk orang yang meyakini bahwa bukan “sesuatu (peristiwa, kondisi, status, atau situasi)” yang menentukan nasib kita, melainkan cara kita “memandang dan menangani sesuatu” lah yang menentukan.

Jadi, karena kita dapat memilih dan menentukan sudut pandang apa yang akan digunakan dalam memandang sesuatu, maka saya percaya bahwa konsep nasib itu lebih bersifat self-determined (utamanya ditentukan oleh diri kita sendiri). Dengan demikian, nasib jelas berbeda dengan konsep takdir, yang lebih bersifat externally-determined atau given (utamanya ditentukan oleh hal-hal diluar kuasa atau rencana kita sendiri, atau sudah dari sananya).

Dari contoh gambar di atas, dapat diinterpretasikan: mungkin sudah takdir saya untuk melihat sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang naik keledai dan berlalu di hadapan saya. Tapi adalah nasib saya untuk merasa terganggu oleh perasaan kasihan terhadap keledai. Karena sesungguhnya saya bisa saja tidak merasa terganggu, jika saya memilih untuk tidak memberi penilaian apapun (cuek), karena saya tidak mengerti apa yang sedang dirasakan atau dipikirkan oleh laki-laki, perempuan, atau kedelai tersebut. So why be bothered?

Continue reading

Categories: Dari Mana Saja | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.